Sabtu, 20 November 2010

Menjadi Apapun


Menjadi karang-lah, meski tidak mudah. Sebab ia 'kan menahan sengat binar mentari yang garang. Sebab ia 'kan kukuh halangi deru ombak yang kuat menerpa tanpa kenal lelah. Sebab ia 'kan melawan bayu yang keras menghembus dan menerpa dengan dingin yang coba membekukan. Sebab ia 'kan menahan hempas badai yang datang menggerus terus-menerus dan coba melemahkan keteguhannya. Sebab ia 'kan kokohkan diri agar tak mudah hancur dan terbawa arus.Sebab ia 'kan berdiri tegak berhari-hari, bertahun-tahun, berabad-abad, tanpa rasa jemu dan bosan.


Menjadi pohon-lah yang tinggi menjulang, meski itu tidak mudah. Sebab ia 'kan tatap tegar bara mentari yang terus menyala setiap siangnya. Sebab ia 'kan meliuk halangi angin yang bertiup kasar. Sebab ia 'kan terus menjejak bumi hadapi gemuruh sang petir. Sebab ia 'kan hujamkan akar yang kuat untuk menopang. Sebab ia 'kan menahan gempita hujan yang coba merubuhkan. Sebab ia 'kan senantiasa berikan bebuahan yang manis dan mengenyangkan. Sebab ia 'kan berikan tempat bernaung bagi burung-burung yang singgah di dahannya. Sebab ia 'kan berikan tempat berlindung dengan rindang daun-daunnya.


Menjadi paus-lah, meski itu tak mudah. Sebab dengan sedikit kecipaknya, ia akan menggetarkan ujung samudera. Sebab besar tubuhnya 'kan menakutkan musuh yang coba mengganggu. Sebab sikap diamnya akan membuat tenang laut dan seisinya.


Menjadi elang-lah, dengan segala kejantanannya, meski itu juga tidak mudah. Sebab ia harus melayang tinggi menembus birunya langit. Sebab ia harus melanglang buana untuk mengenal medannya. Sebab ia harus melawan angin yang menerpa dari segala penjuru. Sebab ia harus mengangkasa jauh tanpa takut jatuh. Sebab ia harus kembali ke sarang dengan makanan di paruhnya. Sebab ia harus menukik tajam mencengkeram mangsa. Sebab ia harus menjelajah cakrawala dengan kepak sayap yang membentang gagah.


Menjadi melati-lah, meski tampak tak bermakna. Sebab ia 'kan tebar harum wewangian tanpa meminta balasan. Sebab ia begitu putih, seolah tanpa cacat. Sebab ia tak takut hadapi angin dengan mungil tubuhnya. Sebab ia tak ragu hadapi hujan yang membuatnya basah. Sebab ia tak pernah iri melihat mawar yang merekah segar. Sebab ia tak pernah malu pada bunga matahari yang menjulang tinggi. Sebab ia tak pernah rendah diri pada anggrek yang anggun. Sebab ia tak pernah dengki pada tulip yang berwarna-warni. Sebab ia tak gentar layu karena pahami hakikat hidupnya.


Menjadi mutiara-lah, meski itu tak mudah. Sebab ia berada di dasar samudera yang dalam. Sebab ia begitu sulit dijangkau oleh tangan-tangan manusia. Sebab ia begitu berharga. Sebab ia begitu indah dipandang mata. Sebab ia tetap bersinar meski tenggelam di kubangan yang hitam.

Menjadi kupu-kupulah, meski itu tak mudah pula. Sebab ia harus melewati proses-proses sulit sebelum dirinya saat ini. Sebab ia lalui semedi panjang tanpa rasa bosan. Sebab ia bersembunyi dan menahan diri dari segala yang menyenangkan, hingga kemudian tiba saat untuk keluar.


Karang akan hadapi hujan, terik sinar mentari, badai, juga gelombang. Elang akan menembus lapis langit, mengangkasa jauh, melayang tinggi dan tak pernah lelah untuk terus mengembara dengan bentangan sayapnya. Paus akan menggetarkan samudera hanya dengan sedikit gerakan. Pohon akan hadapi petir, deras hujan, silau matahari, namun selalu berusaha menaungi. Melati ikhlas 'tuk selalu menerima keadaannya, meski tak terhitung pula bunga-bunga lain dengan segala kecantikannya. Kupu-kupu berusaha bertahan, meski saat-saat diam adalah kejenuhan. Mutiara tak memudar kelam, meski pekat lingkungan mengepungnya di kiri-kanan, depan dan belakang.


Tapi karang menjadi kokoh dengan segala ujian. Elang menjadi tangguh, tak hiraukan lelah tatkala terbang melintasi bermilyar kilo bentang cakrawala. Paus menjadi kuat dengan besar tubuhnya dalam luas samudera. Pohon tetap menjadi naungan meski ia hadapi beribu gangguan. Melati menjadi bijak dengan dada yang lapang, dan justru terlihat indah dengan segala kesederhanaan. Mutiara tetap bersinar dimanapun ia terletak, dimanapun ia berada. Kupu-kupu hadapi cerah dunia meskipun lalui perjuangan panjang dalam kesendirian.


Menjadi apapun dirimu…, bersyukurlah selalu. Sebab kau yang paling tahu siapa dirimu. Sebab kau yakini kekuatanmu. Sebab kau sadari kelemahanmu.


Jadilah karang yang kokoh, elang yang perkasa, paus yang besar, pohon yang menjulang dengan akar menghujam, melati yang senantiasa mewangi, mutiara yang indah, kupu-kupu, atau apapun yang kau mau. Tapi, tetaplah sadari bahwa kamu adalah kamu sendiri.

::Sharied by Ash Marguerite Esmée Fitzrugh

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali







Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. 

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? …Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?
Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”

Dia menjawab,tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu,ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.”Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya. “Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.

“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”








Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.
“Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.” Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

(Diterjemahkan dari “I Cried for My Brother Six Times”)








Ketika Allah berkata TIDAK

 

* Ya Allah ambillah kesombonganku dariku. Allah berkata, “Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya.”

* Ya Allah sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat. Allah berkata, “Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara.”

* Ya Allah beri aku kesabaran. Allah berkata, “Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri.”

* Ya Allah beri aku kebahagiaan. Allah berkata, “Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri untuk menghargai keberkahan itu.”

* Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan. Allah berkata, “Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada Ku.”

* Ya Allah beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat Allah berkata, “Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal.”

* Ya Allah bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku Allah berkata…

“Akhirnya kau mengerti !”

Kadang kala kita berpikir bahwa Allah tidak adil, kita telah susah payah memanjatkan doa, meminta dan berusaha, pagi-siang-malam, tapi tak ada hasilnya. Kita mengharapkan diberi pekerjaan, puluhan-bahkan ratusan lamaran telah kita kirimkan tak ada jawaban sama sekali — orang lain dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Kita sudah bekerja keras dalam pekerjaan mengharapkan jabatan, tapi justru orang lain yang mendapatkannya - tanpa susah payah.

Kita mengharapkan diberi pasangan hidup yang baik dan sesuai, berakhir dengan penolakkan dan kegagalan, orang lain dengan mudah berganti pasangan. Kita menginginkan harta yang berkecukupan, namun kebutuhanlah yang terus meningkat.

Coba kita bayangkan diri kita seperti anak kecil yang sedang demam dan pilek, lalu kita melihat tukang es. Kita yang sedang panas badannya merasa haus dan merasa dengan minum es dapat mengobati rasa demam (maklum anak kecil). Lalu kita meminta pada orang tua kita (seperti kita berdoa memohon pada Allah) dan merengek agar dibelikan es. Orangtua kita tentu lebih tahu kalau es dapat memperparah penyakit kita. Tentu dengan segala dalih kita tidak dibelikan es. Orangtua kita tentu ingin kita sembuh dulu baru boleh minum es yang lezat itu.

Begitu pula dengan Allah, segala yang kita minta Allah tahu apa yang paling baik bagi kita. Mungkin tidak sekarang, atau tidak di dunia ini Allah mengabulkannya. Karena Allah tahu yang terbaik yang kita tidak tahu.

Kita sembuhkan dulu diri kita sendiri dari “pilek” dan “demam”…. dan terus berdoa.

Baca pertama kali dari : Fb Teman
Dan ternyata banyak tersebar disitus-situs Bloging :D



Pelajaran Kehidupan

Aku takut sendirian sampai aku belajar seperti diriku.

Aku takut kegagalan sampai aku menyadari bahwa aku hanya gagal jika aku tidak mencoba.

Aku takut kesuksesan sampai aku menyadari bahwa aku harus mencoba untuk menjadi bahagia dengan diriku.

Aku takut pendapat orang sampai aku belajar bahwa orang-orang punya pendapat tentang padaku.

Aku takut penolakan, sampai aku belajar untuk memiliki iman dalam diriku sendiri.
Aku takut sakit sampai aku belajar bahwa itu perlu untuk pertumbuhan.

Aku takut kebenaran sampai aku melihat keburukan dalam kebohongan.

Aku takut hidup sampai aku mengalami keindahannya.

Aku takut pada kematian sampai aku menyadari bahwa itu bukanlah suatu akhir, tapi sebuah awal.

Aku takut takdir ku, sampai aku menyadari bahwa aku memiliki kekuatan untuk mengubah hidup ku.

Aku takut benci sampai aku melihat bahwa semuanya itu tidak lebih dari kebodohan.

Aku takut cinta sampai menyentuh hatiku, membuat kegelapan memudar menjadi tak berujung cerah hari.

Aku takut ejekan sampai aku belajar bagaimana untuk tertawa pada diriku sendiri.

Aku takut menjadi tua sampai aku menyadari bahwa aku memperoleh kebijaksanaan setiap hari.

Aku takut masa depan sampai aku sadar bahwa hidup terus membaik.

Aku takut masa lalu sampai aku menyadari bahwa hal itu tidak bisa lagi menyakitiku.

Aku takut gelap sampai aku melihat keindahan cahaya bintang.

Aku takut cahaya, sampai aku belajar bahwa kebenaran akan memberiku kekuatan.

Aku takut perubahan, sampai aku melihat bahwa bahkan yang paling indah kupu-kupu harus mengalami metamorfosis sebelum bisa terbang.
Gapai mimpi
Walau sakit kadang tak berperi

Langkahkan Kaki
Pada pijakan yang mesti
yang hanya mungkin kau gapai bila ingin mu pasti
Bahkan walau itu hanya mimpi

article by ::
~Bobbete Bryan
shared by ::
ashMarguerite


Inspirasi Pensil #3




Anda pasti tahu dan mungkin masih memakai pensil kayu, meskipun ada juga pensil dari bahan plastik dan sebagainya. Nah, dalam tulisan di hari minggu ketiga bulan Januari ini, saya mencoba menuliskan sebuah filosofi hidup, belajar dari pensil kayu. Ada tiga hal menarik tentang pensil kayu.


Pertama, jika pensil kayu itu hanya dibiarkan begitu saja tanpa dituntun dan digerakkan oleh sebuah tangan, tentu saja tidak ada gunanya. Kedua, pensil kayu akan selalu ditajamkan dari waktu-waktu, tentu saja ini menyakitkan, namun ini diperlukan agar pensil dapat menghasilkan kualitas terbaik. Ketiga, bagian yang paling penting dari pensil kayu itu adalah di dalamnya, yaitu isi pensil kayu itu.


Selanjutnya, filosofi hidup apa yang dapat kita pelajari dari pensil kayu?

Pertama, hidup kita perlu tuntunan dan bimbingan orang lain. Kita akan menjadi manusia egois jika mengandalkan kekuatan sendiri. Seperti seorang balita yang baru belajar bicara dan berjalan, maka tuntunan dan kesabaran dari ibunya sangat berarti. Di dalam hidup ini, siapakah yang mampu hidup sendiri dan mengatasi segala sesuatu tanpa bantuan dan campur tangan orang lain? Saya rasa tidak ada! Hidup kita digerakkan untuk sebuah tujuan, dan untuk mencapai tujuan itu, kita memerlukan andil Tuhan dan orang lain. Jika tujuan kita ingin sukses, maka kita harus membiarkan diri kita digerakkan oleh motivasi dari diri sendiri dan orang lain. Kata-kata yang memberi semangat dan mensugesti diri kita, bahwa saya bisa. Jika kita ingin bahagia, maka hidup kita harus digerakkan oleh kekuatan cinta dari orang-orang di sekitar kita. Jika kita ingin sebuah kedamaian, maka hidup kita harus digerakkan oleh doa dan kepasrahan menuju pusat kedamaian itu, yaitu Tuhan. Kita akan bermanfaat bagi hidup orang lain, jika ada yang menggerakkan kita, yaitu Tuhan dan orang-orang di sekitar kita.


Kedua, kualitas hidup bukan diukur dari berapa banyak masalah yang kita dapat, tetapi berapa banyak kita dapat keluar dari masalah-masalah itu dengan sebuah senyuman dan ucapan syukur. Hidup kita memang sama seperti pensil yang diraut dan ditajamkan. Sakit memang, tapi itulah proses yang Tuhan bentuk. Bagi manusia, mungkin masalah adalah beban hidup, tetapi bagi Tuhan, masalah adalah sebuah cobaan untuk menuju hidup yang lebih berkualitas. Kita minta agar lebih rendah hati, lebih bijaksana, lebih sabar, sukses dan sebagainya, maka apa yang kita minta itu terselip lewat setiap masalah yang kita hadapi. Kesabaran, kerendahan hati dan kebijaksanaan tidak datang dalam bentuk coklat, setelah anda makan, lalu tiba-tiba anda berubah. Semua hal itu adalah proses dalam hidup yang dibentuk dari kematangan dan kedewasaan kita dalam menghadapi sebuah masalah. Setiap manusia dirancang untuk menjadi manusia sukses, bukan manusia gagal. Tidak ada manusia bodoh di dunia ini, yang ada hanyalah manusia malas.


Ketiga, kualitas hidup yang terpancar di luar itu karena di dalamnya juga bagus, yaitu isi hati kita. Mungkin otak boleh berpikir, tangan boleh menggerakkan dan kaki boleh melangkah, tetapi dari hatilah segala sesuatu diputuskan. Kenapa kita merasa sakit hati ? Menangis karena sedih? Tertawa karena gembira? Itu karena kekuatan di dalam hati kita. Salah seorang sahabat saya yang menjadi dokter pernah berkata, segala obat dapat menyembuhkan, tetapi apa gunanya jika hati belum disembuhkan? Artinya, percuma minum obat tetapi masih menyimpan dendam, tidak mau mengampuni dan penolakkan untuk orang-orang yang mencintai kita? Di dalam hati, kita memerlukan dua pintu yang selalu terbuka, yaitu memberi dan menerima. Jika hanya satu pintu saja yang terbuka, kita akan menjadi manusia egois. Orang yang mempunyai kualitas hidup yang baik , juga memerlukan dua pintu di dalam hatinya, yaitu sabar dan mengasihi. Sabar menghadapai segala sesuatu dan memakai bahasa kasih dalam menghadapi segala sesuatu juga.


Artikel Dari http://umum.kompasiana.com


Belajar dari Awan


Hari itu satu pekan panjang yang penuh dengan kesibukan mengajar keliling negeri telah kulewati sekali lagi. Seperti biasa aku ingin menikmati situasi santai dalam penerbangan pulang, membaca yang ringan-ringan, bahkan memejamkan mata beberapa menit bilamana sempat. Kendati demikian, aku mencoba menerima apa pun yang akan terjadi.


Maka biasanya aku mengucapkan doa pendek berikut: "Siapa pun yang Kautakdirkan duduk di sebelahku, biarlah ia seperti apa adanya, dan bantulah aku agar dapat menerima apa pun yang tersedia bagiku."


Pada hari yang khusus ini, ketika aku masuk ke dalam pesawat, ternyata seorang anak kecil, sekitar delapan tahun, duduk pada kursi dekat jendela di sebelahku. Aku menyukai anak-anak. Namun, aku sedang merasa lelah. Naluri pertamaku adalah, 'Apa boleh buat, aku tak tahu nasibku kali ini.' Dengan berusaha bersikap ramah, aku menyapanya dan mengajaknya berkenalan. Ia menyebutkan namanya, Bradley. Kami langsung mengobrol dan, hanya dalam beberapa menit, ia menaruh kepercayaan kepadaku, dengan berkata, "Ini pertama kali saya naik pesawat. Saya agak takut."


Ia bercerita kepadaku bahwa ia dan keluarganya baru menjenguk sepupu-sepupunya, dan ia diminta tinggal lebih lama sedangkan orangtuanya pulang terlebih dahulu. Kini ia pulang sendirian, dengan pesawat terbang.


"Naik pesawat itu keciiil," kataku, berusaha menumbuhkan keyakinannya.


"Mungkin dapat dianggap salah satu yang paling mudah di antara yang pernah kaulakukan." Aku diam sejenak, untuk berpikir, dan kemudian aku bertanya kepadanya, "Pernahkah kau naik roller coaster?"


"Saya senang naik roller coaster!"

"Pernahkah kau menaikinya tanpa berpegangan?"

"Oh, ya. Saya seneng sekali." Ia tertawa. Sementara aku berpura-pura ketakutan.

"Pernahkah kau naik di depan?" tanyaku lagi dengan wajah pura-pura merasa ngeri.

"Ya. Saya selalu berusaha mendapatkan tempat duduk paling depan!"


"Dan kau tidak merasa takut?"

Ia menggelengkan kepalanya, tampaknya ia kini telah merasa berhasil mengimbangi aku.

"Sesungguhnyalah, penerbangan ini tidak seberapa dibanding naik roller coaster. Aku tidak berani naik roller coaster, tapi aku tidak takut sama sekali bila naik pesawat terbang."


Seulas senyum mulai tampak pada wajahnya, "Betulkah itu?" Aku dapat melihat bahwa ia mulai berpikir bahwa mungkin ia memang pemberani.


Pesawat mulai ditarik menuju ke ujung landasan. Dan ketika akhirnya pesawat itu meluncur naik, ia memandang ke luar jendela dan mulai bercerita dengan sangat bersemangat tentang segala yang dialaminya. Ia mengomentari bentuk-bentuk awan yang dilihatnya, dan gambar-gambar yang seolah-olah telah dilukis di angkasa. "Awan yang ini seperti kupu-kupu, dan yang itu kelihatan seperti seekor kuda!"


Tiba-tiba, aku juga melihat melalui mata seorang anak usia delapan tahun. Rasanya seolah-olah aku baru pertama kali itu terbang.


Belakangan Bradley bertanya tentang pekerjaanku. Aku bercerita tentang pelatihan yang kuselenggarakan, dan mengatakan bahwa aku juga membintangi iklan untuk radio dan televisi.


Matanya langsung bersinar. "Saya dan adik saya pernah menjadi bintang iklan televisi."


"Oh, ya? Bagaimana rasanya?"


Ia bercerita bahwa pengalaman itu sangat mengesankan. Kemudian ia berkata bahwa ia perlu ke kamar kecil.


Aku berdiri agar ia dapat keluar ke gang. Saat itulah aku melihat alat penguat pada kedua kakinya. Bradley beringsut-ingsut menuju ke kamar kecil di belakang.


Ketika ia duduk kembali, ia menerangkan, "Saya menderita distrofi otot. Adik perempuan saya juga --ia bahkan harus memakai kursi roda. Itu sebabnya kami menjadi bintang iklan. Kami dijadikan contoh untuk anak-anak yang menderita distrofi otot."


Waktu pesawat mulai turun, ia memandang kepadaku, tersenyum, dan bicara dengan nada yang agak-agak malu, "Tahukah Anda, saya betul-betul khawatir tentang siapa yang akan duduk di sebelah saya di pesawat. Saya takut ia orang yang ketus, yang tidak mau bicara dengan saya. Saya senang bisa duduk bersebelahan dengan Anda."


Ketika mengenang seluruh pengalaman itu pada malam harinya, aku diingatkan tentang untungnya bersikap terbuka. Setelah sepekan penuh menjadi pengajar, begitu selesai aku justru menjadi siswa.


Sekarang setiap kali aku merasa suntuk --dan itu cukup sering-- aku memandang ke luar jendela dan mencoba menebak bentuk awan yang terlukis di angkasa. Dan aku teringat dengan Bradley, anak istimewa yang mengajariku pelajaran itu.



Dikutip dari sini


Inspirasi Pensil #1

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat.


"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?" Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, "Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai."


"Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar si nenek lagi.


Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai. "Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya." Ujar si cucu. Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini." "Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini." Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.


"Kualitas pertama

Pensil mengingatkan kamu kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya".


"Kualitas kedua,

Dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".


"Kualitas ketiga,

Pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".


"Kualitas keempat,

Bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".


"Kualitas kelima,

Adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan".


- blitz jumper -

Artikel diambil disini


Rabu, 17 November 2010

Adha #1431

Entah kapan terakhir saya merayakan Hari Raya Idul Adha bersama Kelurga.

Demikian juga dengan tahun ini. Untungnya ada teman-teman yang bisa menjadi pengganti keluarga disaat-saat seperti ini. Tentunya ada my lovely sista :D

Yupsss.. Adha kali ini bisa merayakan (sholat) bersama ribuan Ummat muslim di masjid Istiqlal. Satu imamdengan Presiden RI dan pejabat-pejabat tinggi lainnya.(heee..... :mrgreen: )

Selesai Sholat, waktunya Narsis-narsisan :D

[slideshow]



Selasa, 09 November 2010

10 Cara untuk lebih mencintai diri sendiri






1. Bencilah dosamu, tapi jangan pernah membenci dirimu.


2. Cepatlah untuk menyesali kesalahan.


3. Apabila Tuhan memberimu pencerahan, berjalanlah di dalam pencerahanNya itu.


4.Berhentilah mengatakan hal-hal yang buruk tentang dirimu sendiri.


Tuhan mencintaimu dan tidaklah benar jika kamu membenci sesuatu yang Dia cintai. Dia mempunyai rancangan-rancangan yang indah bagimu, jadi kamu melawan-Nya jika kamu berbicara secara negatif mengenai masa depanmu sendiri.


5.Janganlah takut untuk mengaku bahwa kamu telah berbuat kesalahan, tapi janganlah selalu berprasangka bahwa kamulah yang salah setiap saat adayang tidak benar.


6. Jangan terlalu memikirkan apa yang sudah kamulakukan, baik yang benar maupun yang salah; itu sama dengan memikirkan terus diri sendiri! Pusatkanlah pikiranmu kepadaNya!


7. Jagalahdirimu sendiri secara fisik. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya apa yang Tuhan telah berikan padamu demi tugasmu, tapi janganlah menjadi terobsesi dengan penampilanmu.


8. Janganlah berhenti untuk belajartapi jangan sampai ilmu itu membuat kamu sombong. Tuhan memakai kamu bukan karena apa yang ada di dalam kepalamu melainkan karena apa yang ada di dalam hatimu.


9. Sadarilah bahwa setiap talentamu adalah anugerah, bukanlah sesuatu yang kamu ciptakan sendiri; jangan pernah merendahkan orang lain yang tidak sanggup melakukan apa yang kamu dapat lakukan.


10. Janganlah meremehkan kelemahan-kelemahan dirimu... merekalah yang membuat kamu tetap tergantung pada Tuhan.





BERGETAR HATI KARENA CINTA



Oleh : Farid N. Arief


Alkisah, pada abad ke sebelas di sebuah kerajaan , raja dan seisi istana dalam keadaan bersedih, karena sang putra mahkota yang sangat dicintai, pangeran satu-satunya yang akan mewarisi tahta kerajaan sudah beberapa hari dalam keadaan sakit, terbaring ditempat tidur, diam, tiada berkata-kata, makan tak enak tidur tak nyenyak, tidak mau diajak berbicara.


Tabib/dokter istana yang mengobati sudah menyerah/angkat tangan karena belum menemukan apa penyakit yang diidap sang pangeran.. Melihat kondisi pangeran yang demikian, raja yang ingin putra kesayangannya sembuh dari sakit, mengumumkan keseluruh pelosok kerajaan " Barangsiapa yang bisa mengobati pangeran akan dikasih hadiah yang besar ". Maka berdatanganlah para tabib-tabib terkenal dari seluruh pelosok kerajaan, untuk mencoba mengobati pangeran dan coba-coba mengadu nasib peruntungan untuk mendapat hadiah dari raja. Sudah sekian orang tabib silih berganti memeriksa/mengobati pangeran, namun penyebab sakitnya belum juga ditemukan, pangeran jangankan berangsur sehat, malah dari hari kehari sakitya semakin berat juga adanya, " "Apa masih ada tabib yang belum kesini"tanya raja kepada pembantunya, "Ada seorang tabib muda yang ahli belum datang tuanku." jawab pembantunya, "Tolong jeput dan bawa kesini" perintah raja pada pembantunya.
Setelah tabib itu sampai di istana dengan asistennya, dia langsung memeriksa panggeran yang sedang terbaring diam, setelah memeriksa pasien dengan ketelitian, "Pangeran tidak ada mengidap penyakit apapun tuanku, cuma ada sesuatu yang sedang difikirkannya, untuk itu saya ingin mengetahui apa kegiatan pangeran sebelum jatuh terbaring ini ", kata Tabib melapokan hasil diagnosanya pada raja, sebentar raja mengingat, "Oh yaaa� sebelum sakit dia pergi berburu kehutan jawab raja ". "Izinkan saya beberapa hari ini untuk mencoba mengobati pangeran tuankku", kata sang tabib, "Silahkan"jawab raja. Besoknya tabib menyuruh asisten nya mengunjungi desa-desa yang ada dipinggir hutan. Sorenya tabib yang duduk disamping sisakit bertanya pada asistennya, desa-desa mana saja dipinggir hutan yang dikunjunginya, asisstennya mulai menyebutkan, "Desa A,tabib melihat pasiennya tidak ada reaksi, desa B, dilihat lagi tidak ada reaksi dari pangeran, desa C lanjut asisten, juga tidak ada reaksi, desa D kata asissten dengan suara yang lantang, mendengar desa D, dilihat oleh tabib sang pangeran/pasien ada gerakan walaupun sedikit. Cukup, besok kamu jelajahi rumah-rumah yang ada didesa D kata tabib kepada asistenya. Hari berikutnya sang tabib yang duduk kembali disamping pangeran yang terbaring, menanyakan kepada asistennya rumah-rumah siapa saja yang didatangi didesa D, " Rumah tuan Ahmad kata asistennya memulai, tabib melirik pangeran tidak ada reaksi, rumah tuan Badruddin lanjut asisten tidak ada juga reaksi dari pangeran, rumah tuan Malik kata asisten, mendengar nama tuan Malik sang Pangeran bergetar dan tubuhnya bereaksi lebih cepat dan lebih keras dari yang kemaren. "Ya sudah, besok kamu selidiki siapa-siapa saja keluarga yang mendiami rumah tuan Malik", perintah tabib pada asistennya. Besok sorenya kembali disamping Pangeran yang terbaring, tabib bertanya pada Asistennya, nama-nama keluaraga yang mendiami rumah tuan Malik. "Bariiyah isteri tuan Malik sebut asistennya, dilirik tabib belum ada reaksi dari pangeran, Abbas anak tuan Malik lanjut asistennya, tidak ada reaksi, Komaruddin kata asisstennya, juga tidak ada reaksi dari pangeran yang terbaring, Fatimah lanjut asisten, baru saja asisten menyebut nama Fatimah, tubuh pangeran bergetar keras dan.."Fatimah" gigaunya meneyebut nama Fatimah."Cukup, sekarang kita menghadap raja"kata tabib kepada asistennya. Besoknya sang Tabib bersama asistennya menghadap Raja," Maaf tuanku,setelah beberapa hari ini saya mempelajari penyakit pangeran, menurut diagnosa saya, pangeran sakit karena sedang jatuh cinta pada seorang gadis desa namanya Fatimah yang dikenalnya sewaktu berburu, tapi dia takut menyampaikannya kepada tunku dan keluarga istana karena status social yang begitu jauh dan sangat berbeda antara keluarga istana dengan keluarga Fatimah, oleh sebab itu dipendam saja rasa cinta yang mendalam dan mengelora itu, inilah yang menyebabkan pangeran jatuh sakit dan terbaring. Obat satu-satunya tuanku harus mengizinkan pangeran menikah dengan gadis desa tersebut" kata Tabib memberi saran pada Raja..


Kemudian raja menikahkan putranya dengan gadis desa yang sangat dicintai pangeran anaknya. Konon setelah pangeran itu menjadi raja dia sukses memerintah, memimpin kerajaan, karena selalu dekat dengan yang dicintainya yaitu Fatimah isterinya, sang permaisuri kerajaan.


Kisah diatas iktibar bagi kita, jika hati telah mencintai sesuatu/seseorang, jiwa dan fikiran senantiasa tersangkut kepada yang dicintai tersebut. Umpama anda sedang berada jauh di negeri orang atau diluar negeri, apabila anda mendengar (atau membaca) kata Indonesia, sinyal hati anda akan berdesir, atau umpamanya waktu melihat daftar pengumpulan medali Olimpiade, atau Sea Game, secara spontan Negara yang anda lihat terutama sekali adalah Indonesia, kenapa? Karena ada dorongan kuat dari dalam secara reflek yang mengerakan hati anda, dorongan itu ialah kecintaaan hati anda kepada tanah air, yaitu Indonesia, hati anda telah tersangkut pada sesuatu yang sudah anda cintai, yaitu negeri tempat kelahiran anda Indonesia.


Dari kisah tersebut juga kita dapat mengambil intisari hikmah bahwa, seseorang yang sangat mencintai sesuatu, hatinya senantiasa rindu akan yang dicintainya, hatinya telah diikat kuat oleh apa yang dicintainya, kalau mendengar orang menyebut sesuatu yang dekat dengan apa yang dicintai atau yang ada hubungan dengannya, hatinya akan berdesir/bergetar, apalagi dengan menyebut langsung nama yang dicintainya itu, akan bertambah kencang desiran / getaran hatinya.
Seseorang akan merasa tidak tentram, jiwanya tidak akan tenang, resah gelisah, kalau jauh /menjauh dari apa yang dicintai dan mengasihinya, bukankah seorang bayi akan menangis kalau sang ibu yang mencintai dan melindunginya tidak ada disampingnya.


Cinta itu membelenggu hati, seseorang yang kepada yang dicintainya. Yang mencintai menjadi hamba oleh yang dicintainya. Nah.. orang-orang yang betul-betul beriman kepada Allah akan bergetar hatinya kalau disebut nama-nama Allah SWT, dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah akan bertambah keimanan mereka, ini diisyaratkan dalam Alqur.an


"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. ( Q.S.Al Anfal ayat 2 )


Orang mukmin yang mencintai Allah, hanya kepada Allah saja dia menghambakan diri, dia akan mengerjakan/melakukan sesuatu pekerjaan semata-mata untuk yang dicintainya yaitu Allah SWT.
Seseorang hamba yang sungguh-sungguh mencintai Allah, dia akan menempatkan cinta yang paling tinggi/utama itu adalah untuk Allah, seperti senandung Rabia`ah Al-Adawiyah dalam mengepresikan cintanya pada Allah :


"Wahai kekasih hati, hanya Engkaulah yang aku cintai. Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadirat-Mu. Engkau harapanku, kebahagiaan, dan kesenanganku. Hatiku telah enggan mencintai selain diri-Mu."


"Tuhanku, jika aku mengabdi kepada-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalamnya".
"Dan jika aku mengabdi kepada-Mu karena mengharapkan surga, jauhkanlah aku daripadanya".
"Tetapi jika Kau kupuja karena Engkau, janganlah Engkau sembunyikan kecantikan-Mu yang kekal dariku."


Allah adalah teman sekaligus Kekasih dirinya, sehingga ke mana saja Rabi`ah pergi, hanya Allah saja yang ada dalam hatinya. Ia mencintai Allah dengan sesungguh hati dan keimanan. Karena itu, ia sering jadikan Kekasihnya itu sebagai teman bercakap dalam hidup. Dalam salah satu sya`ir berikut jelas tergambar bagaimana Cinta Rbi`ah kepada Teman dan Kekasihnya itu:



Kujadikan Engkau teman bercakap dalam hatiku,
Tubuh kasarku biar bercakap dengan yang duduk.
Jisimku biar bercengkerama dengan Tuhanku,
Isi hatiku hanya tetap Engkau sendiri.


Bagaimana cara kita mencintai Allah SWT, kita disuruh mengikuti apa yang disampaikan Rasul, kalau seorang hamba sungguh sungguh mengikuti Rasul, Allah akan membalas cinta hambanya dengan mencintai juga hamba tersebut, dinyatakan dalam Alqur,an surat Ali Imran ayat 31 yang berbunyi :
Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali `Imran [3]: 31).


Menurut Ibnu Taimiyah seorang ulama salaf, menyatakan bahwa mengikuti Rasul sebagai manifestasi cinta seorang hamba kepada Allah, karena Rasulullah saw, tidak memerintahkan sesuatu melainkan yang dicintai Allah. Dia pun tidak melarang sesuatu melainkan yang dibenci Allah, dan diapun tidak akan memberitakan sesuatu melainkan yang dicintai dan dibenarkan oleh Allah juga. Oleh karena itu siapa yang mencintai Allah, seharusnya mengikuti Rasul.
Ada dua tanda cinta kepada Allah, yaitu ittiba` Rasul (mengikuti Rasul) dan jihat fiisabilillah (berjuang dijalan Allah). Jihad dikategorikan sebagai tanda cinta kepada Allah, karena jihad itu sendiri pada hakekatnya adalah bersungguh sungguh untuk mendapatkan sesuatu yang dicintai Allah yaitu iman dan amal sholeh serta mencegah semua yang dibenci Allah, seperti kekufuran dan kefasikan dan kedurhakaan. Dalam hal ini Allah berfirman :


"Katakanlah ( Muhammad) : jika ayah-ayahmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, keluargamu, harta kekayaanmu yang kamu perolehnya, perniagaan yang kamu kuatirkan merugi serta rumah-rumahtempat tinggalmu yang kamu senangi, itu lebih kamu cintai daripada cintamu kepada Allah dan Rasul serta berjuang di jalan Allah, maka nantikanlah sehingga Allah akan mendatangi keputusan-Nya. ( Q.S. At Taubah: 24)


Seorang mukmin yang benar-benar mencintai Allah, sejatinya akan senantiasa melakukan jihad, yaitu mengutamakan cinta kepada Allah dari pada cinta kepada dirinya,keluarga (anak-isteri,orang tua dan sanak saudara), harta benda dan pekerjaan/profesi yang digeluti sehari-hari. Jika sudah demikian apapun tantangan, tuntutan dan godaan yang datang dari dalam diri, dari lingkungan keluarga dan lingkungan tempat bekerja tersebut , yang bertentangan dengan ajaran gama yang berlawanan dengan nilai-nilai Al-qur`an dan Sunnah nabi, akan dapat dilewati/diatasi. Semoga


Artikel asli disini