Sabtu, 26 November 2011

Kronologi Batalnya Konser CNBlue



Hari ini harusnya jadi hari penting bagi K-Pop Lovers Indonesia Khususnya untuk BOICE (Sebutan Fans CNBLUE). Namun apalah daya, H-2 secara resmi konser itu dibatalkan. Ikut nyesek walaupun saya bukan Boice, setidaknya perasaan setiap fans pasti sama. Mereka pasti ingin bertemu dengan idolanya meski hanya sekali untuk selamanya. Be stronger Boice-deul mungkin suatu saat mereka akan memenuhi janjinya terhadap kalian. :)



Jakarta - Konser CNBlue di Jakarta sebagai bagian dari rangkaian CNBLUE 2011 Asia Tour Concert resmi dibatalkan. Konser yang seharusnya digelar Sabtu (26/11/2011) besok itu menyisakan banyak pertanyaan karena pembatalan dilakukan hanya dua hari sebelum konser. Simak kronologinya:


1. 29 Juni 2011, perwakilan Boice Indonesia diajak duduk bersama pihak promotor CNBlue. Mereka membicarakan kemungkinan membawa CNBlue untuk konser di Indonesia. Akhirnya ditetapkan, CNBlue akan konser di Jakarta akhir tahun ini.

Repong Damar (Nasib mu kini)


Damar tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Krui, Lampung Barat. Sudah sejak 100 tahun lebih, warga di pesisir pantai yang menghadap Samudera Hindia ini membudidayakan pohon penghasil getah itu. Dari 70 desa yang tersebar di sepanjang Pesisir Krui, hanya 13 desa yang tidak memiliki repong damar.


Lebih dari separo penduduk Pesisir Krui terlibat dalam produksi damar. Baik sebagai pemilik repong, pedagang pengumpul, kuli angkut, pedagang besar damar, pengusaha angkutan, maupun buruh sortir. Maka, tidak mengherankan 80 persen produksi resin damar Indonesia yang mencapai 10 ribu ton per tahun berasal dari Pesisir Krui.


Repong adalah istilah masyarakat Krui untuk menyebut kebun milik mereka yang berisi aneka tanaman. Seperti lada, kopi, petai, durian, nangka, cempedak, duku, juga tumbuhan kayu hutan. Karena pohon damar mendominasi, maka kebun yang menyerupai hutan alam itu disebut Repong Damar.

Taman Nasional Way Kambas


Taman Nasional Way Kambas, terletak di timur Propinsi Lampung dan berjarak sekitar 112 km dari Kota Bandarlampung. Taman nasional way (sungai) kambas ini pertama kali diresmikan oleh Menteri Pertanian tahun 1982. Dengan luas sekitar 130 ribu ha, tempat ini tidak hanya dihuni gajah2 sumatera (Elephas maximus), tp juga merupakan habitat bagi badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan beberapa hewan dilindungi lainnya. Menurut sebuah sumber, objek wisata ini paling baik dikunjungi pada bulan Juli s.d. September.


Perjalanan ke kota bandar lampung dari tempat pendaratan ternyata cukup memakan waktu (sekitar 2 jam). disarankan kamu mengatur waktu jangan sampai melakukan perjalanan di tempat ini saat hari sudah gelap, kecuali berombongan dengan kendaraan2 lain yang turun dari kapal. konon kabar kalau sudah malam memudahkan penjahat menjadikan kamu sebagai korban di jalan yang relatif sepi ini.

Manmade forest of Shorea javanica in Krui West Lampung



Shorea javanica, masyarakat lokal mengenalnya sebagai Damar mata kucing, dikembangkan secara bijak dan lestari oleh masyarakat Krui Lampung Barat sejak sekitar 4 generasi yang lalu (kira-kira tahun 1870an). Penanaman Damar mata kucing ini diintercroping dengan beberapa jenis pohon lokal, antara lain Durian, duku, dan petai.


Damar mata kucing yang dipanen dengan cara penyadapan, dipakai sebagai bahan thinner. Pada saat sekarang ini, jenis pohon ini hampir punah. Manmade forest of Shorea javanica di Krui Lampung Barat ini layak dihargai dan disebut sebagai the best of manmade tropical forest di Indonesia. Beberapa forester dan silviculturist dunia telah mengunjungi dan kagum dengan kearifan lokal ini. Adakah optimisme membangun hutan seperti di Krui ini di lokasi lain? Semua terpulang kepada kita, rimbawan Indonesia!(Saifudin Ansori)


Diambil dari saifudinansori.blog

Fresh And Natural di Lembah Hijau


Menyambut Visit Lampung Year 2009, pariwisata Lampung terus berbenah. Taman Wisata Lembah Hijau yang jadi andalan wisata alam buatan di kota Bandar Lampung, kini semakin ramai dikunjungi wisatawan lokal, nasional, juga wisatawan mancanegara (wisman) mulai melirik lantaran ada taman satwa yang jadi titik perhatiannya.

Taman wisata yang berlokasi di JI. Radin Imba Kesuma Ratu, Kampung Sukajadi, Kel. Sukadanaham, Kec. Tanjung Karang Barat, Bandar lampung, kini menjadi andalan bagi wisatawan yang berkunjung ke Lampung.


Apalagi, Provinsi Lampung secara geografis memiliki posisi strategis, sebagai pintu gerbang masuk dari Pulau Jawa ke Sumatera. Juga, warga Lampung yang butuh tempat rekreasi dan hiburan bernuasa lingkungan.


Fresh and Natural, demikian motto obyek taman wisata ini yang sejalan dengan kondisi lingkungan yang bersih, sehat, nyaman, aman dan alami. Karena itu, menariknya taman wisata ini merupakan perpaduan sebuah Taman Rekreasi pegunungan dan area satwa yang menempati suatu area berbukit, lembah serta sebuah sungai kecil berarus deras yang membelah kawasan wisata ini.

Tantangan Budidaya Damar


Dari tribunlampung.co.id dipostkan pada Minggu, 22 November 2009 | 01:03 WIB

Harga damar mata kucing di Kabupaten Lampung Barat masih bertahan rendah, yakni berkisar Rp6.000- Rp6.500/kg, sementara pasokan komoditas itu tetap lancar.

Beberapa petani yang ditemui di kawasan hutan di lintasan Liwa-Krui Lampung Barat, Sabtu, mengatakan harga damar mata kucing sepanjang 2009 cenderung bertahan rendah sehubungan menurunnya permintaan komoditas itu.

"Saya membeli damar dari petani Rp6.000/kg dan menjualnya ke pengumpul Rp6.500/kg. Harga komoditas ini sudah lama bertahan rendah," kata salah satu petani di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Lampung Barat, Zul.

Zul mengaku bisa mengirimkan 500 kg damar mata kucing ke agen (pedagang pengumpul) di Jakarta dalam sekali pengiriman. Sebelumnya, petani damar di Desa Gunung Kemala Kecamatan Karya Penggawa Lambar, Solihin, juga mengatakan harga damar di daerah itu masih rendah.

Harga damar kualitas asalan mencapai Rp.6.500, kualitas AC Rp8.500/kg, kualitas AB Rp10.500/kg dan kualitas ekspor ABC Rp13.000/kg.

Kabupaten Lampung Barat merupakan penghasil utama damar mata kucing di Lampung, termasuk di Indonesia. Produksi damar Kabupaten Lampung Barat tahun 2004 mencapai 6.503 ton, tahun 2005 sebanyak 3.992 ton, tahun 2006 sebanyak 6.518 ton, tahun 2007 mencapai 6.250 ton, tahun 2008 sekitar 5.850 ton dan Januari sampai Mei 2009 telah mencapai 2.469 ton.

Harga damar yang bertahan rendah itu dikhawatirkan bisa mengancam keberadaan pohon damar, seperti pohon damar dipotong dan menjualnya ke pengusaha kayu. Tahun-tahun sebelumnya harga damar sempat mencapai Rp13.000- Rp14.000/kg.

Sehubungan damar bisa dikembangkan sebagai komoditas unggulan hasil hutan bukan kayu, maka berbagai kalangan mengharapkan pemerintah daerah setempat mencari jalan keluar untuk menyelamatkan keberlangsungan tanaman damar di Lampung Barat.

Selain itu, petani damar diharapkan membentuk wadah untuk menstabilkan harga komoditas unggulan Lampung Barat itu.(ant)

Lampung Barat (KRUI) Penghasil Damar Terbesar di Dunia



Kabupaten Lampung Barat (Lambar) menyimpan potensi besar getah Damar Mata Kucing (Shorea Javanica). Total pendapatan per tahunnya antara Rp 38- 39 miliar. Hal ini terungkap dalam Pertemuan Multipihak Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Damar Mata Kucing di Hotel Marcopolo, Selasa (9/6).


Kepala Dinas Kehutanan dan Sumber Daya Alam Lampung Barat, Warsito mengungkapkan, produksi damar mata kucing di Lambar dari Januari - Mei 2009 telah mencapai 2.469 ton. "Jika harga rata-rata Rp 6 juta per ton maka nilai ekonomis pendapatannya setara Rp 14,814 miliar. Harga getah damar mata kucing saat ini sekitar Rp 6.000/kg," kata dia.



Direktorat Statistik dan Ekonomi Moneter dalam Kajian Ekonomi Regional Provinsi Lampung mencatat ekspor lak, getah dan damar Provinsi Lampung sampai Februari 2009 sebesar 181,922 US dolar. Share market-nya sekitar 0,11%.

Kepala Dinas Kehutanan dan Sumber Daya Alam Provinsi Lampung, Arinal Djunaidi mengatakan, getah damar bisa menjadi komoditas unggulan Lampung dari Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK). Bahkan, getah Damar Mata Kucing bisa jadi ikon Lampung.


"Getah Damar Mata Kucing di Krui sangat potensial untuk dikembangkan. Budidaya damar punya dua manfaat sekaligus yaitu pelestarian hutan dan ekonomi," ujarnya. Potensi damar yang cukup besar, membuat Lampung Barat menjadi penghasil damar terbesar di dunia. (*)


Sumber http://www.tribunlampung.co.id

Damar dan Cara Masyarakat Krui Melestarikan Lingkungan Hidup

Bagi masyarakat krui, mengumpulkan getah damar tidak hanya pekerjaan laki-laki tetapi juga untuk perempuan. Damar Pinus (Shorea javanica) telah diolah di Krui sejak ratusan tahun yang lalu. Kawasan alami pohon damar telah dikenal di luar negeri sudah sejak lama. Para penguasa Belanda pada masa penjajahan menggunakannya sebagai bahan baku untuk memproduksi berbagai produk seperti pernis, cat, tinta, kemenyan dan kosmetik sebagaimana yang dijelaskan Oyos Saroso HN.


panjat damarHingga kini, masyarakat Krui terus melindungi warisan mereka, nuansa hijau pepohonan Damar Pinus mengisi bukit dan peternakan di wilayah pesisir. Masyarakat krui dalam mengelola perkebunan repong damar mempunyai hukum adat untuk melindungi Damar Pinus. Pohon Damar Pinus tidak boleh ditebang dan setiap orang yang melanggar hukum tersebut menerima hukuman dalam bentuk penanaman pohon Damar baru, Bahkan setiap orang yang akan menjadi calon pengantin harus menanam pohon sebelum menikah. Beberapa orang Krui bahkan percaya bahwa mereka dapat berbicara dengan Damar pinus. Selama bertahun-tahun, orang tua di Krui mengatakan kepada anak-anak mereka, “jika Anda butuh uang untuk membayar biaya sekolah anak-anak Anda, berbicaralah dengan pohon Damar”.



250px-Repong_damar_010813_kry


Pengamat budaya Lampung Anshori Djausal mengatakan bahwa adat tidak memiliki makna denotative, Itu jelas merupakan sebuah pesan kepada anak-anak Krui untuk terus menjaga dan melindungi pohon Damar, dan itu telah terbukti berhasil. banyak orang Krui telah sukses dan memiliki tingkat pendidikan yang tinggi sejak orang tua mereka membudidayakan Damar Pinus. Pohon-pohon adalah sumber utama pendapatan bagi masyarakat Krui. Setiap minggu, para petani mengumpulkan getah dan ketika mereka telah merasa cukup, mereka menjualnya ke pengumpul.



3194070665Ancaman terhadap perkebunan repong damar datang pada saat pembukaan perkebunan kelapa sawit yang mengabaikan hukum adat. Pada akhir tahun 1980-an, banyak pohon Damar yang ditebang untuk membuka perkebunan kelapa sawit, dan para penebang liar mencuri kayu Damar Pinus dengan mencampurkannya dengan kayu biasa sehingga polisi tidak menghentikan mereka, karena mereka tidak menyadari para penebang liar telah mencampurnya dengan kayu ilegal Damar pinus. Namun bagaimanapun juga para penduduk desa di desa Pahmungan tetap memegang teguh tradisi mereka dalam melindungi Damar Pinus, puluhan desa lainnya di Lampung Barat juga masih menjunjung tinggi tradisi yang sama.


Husin, seorang penduduk desa Pahmungan berusia 57 tahun, memelihara beberapa pohon Damar di perkebunannya, yang merupakan warisan dari nenek moyang mereka yang telah dimiliki sejak zaman penjajahan Belanda. “Semakin banyak sesorang memiliki repong Damar, maka semakin tinggi pula status sosial yang dimilikinya,” ujar Husin. Menurut data dari administrasi Kabupaten Lampung Barat, saat ini terdapat sekitar 17.500 hektar repong damar di daerah, terutama di daerah pesisir, dengan 1,7 juta pohon. Pohon-pohon yang tumbuh terutama oleh masyarakat desa, menghasilkan sekitar 315 ton getah per tahun, yang sebagian besar diekspor ke Bangladesh, India, Italia, Pakistan dan Arab Saudi. Orang-orang krui tidak hanya mengisi perkebunan Pinus mereka dengan pohon Pinus saja, mereka mengkombinasikan dengan pohon buah-buahan seperti durian, langsat dan lain-lain.


3194071936Kurniadi aktivis lingkungan hidup, yang bekerja sama dengan petani repong damar, mengatakan bahwa secara ekologis, keberadaan petani Damar Pinus tradisional memiliki nilai tinggi. Selain sebagai daerah resapan air, repong damar juga berfungsi sebagai daerah penyangga bagi upaya konservasi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.
Pada tahun 1997, Pemerintah memberikan penghargaan Kalpataru kepada masyarakat krui, atas komitmen mereka terhadap kelestarian Damar Pinus melalui hukum adat.
Kurniadi mengatakan bahwa bagi masyarakat Krui, repong damar lebih dari sebuah sumber pendapatan. “Ada ikatan yang kuat antara masyarakat Krui dan repong damar, Itu adalah identitas mereka, “katanya. Peneliti dan aktivis lingkungan hidup mengatakan, keberlanjutan repong damar di Krui adalah contoh harmoni antara manusia dan alam.


Melestarikan repong damar tidaklah mudah bagi masyarakat Krui. Beberapa diantara merek telah tergoda untuk menjual perkebunannya untuk mendapatkan uang untuk membeli peralatan rumah tangga yang modern.
Zulfaldi, salah satu eksekutif dari Pemilik Asosiasi Repong Damar, mengatakan bahwa tanpa pengawasan, repong damar mungkin akan lenyap. Datangnya budaya modern, suka atau tidak, telah menggoda anak-anak muda di Krui untuk bekerja di kota-kota besar dan industri dan meninggalkan repong damar,” ujar Zulfaldi. Dia mengatakan bahwa asosiasi ini bekerja sama dengan lembaga penelitian untuk meningkatkan kualitas Damar untuk membantu penambahan harga jualnya. “Kami sedang berusaha untuk menaikkan harga jual Damar dengan sebuah proses yang dapat memperbaiki kualitas getah yang rendah,” katanya.



menjual-getah-damar Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2004 oleh Pusat Riset Kehutanan Internasional menunjukkan bahwa dengan harga jual sekitar Rp 4.000 per kg, petani Damar bisa memperoleh sekitar Rp 10 juta setahun. Jumlah itu tidak termasuk dengan hasil panen pohon-pohon lain yang tumbuh diantara perkebunan Damar tersebut. Panen repong damar dapat memberikan pendapatan yang relatif baik.


Nur Alipin, seorang petani Damar berusia 63 tahun di Pahmungan mengatakan, harga tertinggi terjadi pada tahun 1998, getah Damar bisa mencapai harga Rp 8000 per kilogram. Menurutnya, Idealnya harga berdasarkan pertimbangan biaya produksi, harga minimal harusnya Rp 15.000 per kilogram. Jika kalaa itu satu kilogram getah Damar dapat membeli tiga kilogram beras, namun lain halnya sekarang, harga satu kilogramnya bahkan lebih kecil dari harga beras.


Sumber http://arthaliwa.wordpress.com/
Diambil dari http://lampungbarat.go.id/


 

Lampung Nan Eksotis


Jika melihat potensi wisatanya, Provinsi Lampung selain sarat dengan atraksi adat dan budaya, juga memiliki objek wisata spesifik. Tengok saja misalnya, Taman Nasional Way Kambas yang memiliki satwa langka badak bercula satu dan berbagai atraksi gajah.

Juga Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) dengan harimau, gajah, dan sejumlah satwa langka lainnya.
Belum lagi Anak Gunung Krakatau, yakni anak gunung yang menyembul dari permukaan laut beserta keindahan alam bawah lautnya. Kedahsyatan letusan Gunung Krakatau pada tanggal 26 dan 27 Agustus 1883 yang menghebohkan seantero jagat ini, tentu menjadi daya pikat tersendiri bagi setiap wisatawan untuk mengunjungi taman nasional ini. Betapa tidak, letusan yang selain menyebabkan sekitar 36.000 warga meninggal akibat tsunami hebat yang ditimbulkannya, juga dua pulau, yakni Danan dan Perbuatan tenggelam ke dasar laut.
Material yang dimuntahkannya pun mencapai ketinggian 80 km dengan volume 18.000 km3 sehingga separuh belahan bumi gelap gulita selama 22 jam. Kota Bandar Lampung pun (saat itu masih bernama Teluk Betung) gelap bagaikan malam hari selama tiga hari berturut-turut. Gelombang laut dan getarannya dirasakan hingga pantai barat dan utara Benua Australia, pantai Kepulauan Madagaskar, Afrika, dan Pulau Roadridges, Amerika Serikat (AS).




Yang lebih fantastis lagi, sejak tahun 1927, tumpukan lava dari kawah Gunung Krakatau kembali muncul ke permukaan laut dengan ketinggian satu meter dan terdiri dari dua kawah. Makin lama gunung yang akhirnya diberi nama Anak Krakatau ini makin besar dan bertambah tinggi. Kini, ketinggian kawah pertama sudah mencapai 300 meter dari permukaan laut, sementara aktivitas kawah kedua tidak lagi terlihat mengepulkan asap, dan diperkirakan sudah mati. Menurut prediksi para pakar vulkanologi, tahun 2040 gunung ini akan kembali meletus.
Selain itu, perairan Kepulauan Krakatau memiliki keindahan bawah laut yang tiada tara. Menurut Sekretaris Pengda PORSI Lampung Endang Linirin Widiastuti, di perairan sekitar Gunung Krakatau Besar, persisnya di atas kawah purba, penyelam bisa menikmati bekas patahan yang memiliki lekukan (drop off). “Suasana bawah laut dengan kawah gunung bawah air yang muncul ke permukaan yang seperti ini merupakan satu-satunya di dunia,” ujar Endang kepada SH.


Bahkan, lanjut Endang, pada kedalaman 200 meter, penyelam akan menemui gelembung-gelembung gas metan. Selain itu, lokasi penyelaman ini menjadi istimewa karena memiliki nilai historis yang tinggi sehingga setiap penyelam ingin menikmatinya.
Selain itu yang membedakan lokasi ini dengan tempat lainnya adalah, di dasar laut masih ditemukan lempengan-lempengan bekas letusan Gunung Krakatau. Di dasar laut juga bisa ditemukan hidotermal atau air hangat dan juga keindahan pemandangan bawah laut lainnya.


Pantai Eksotik



Lampung merupakan provinsi kedua dengan pantai terpanjang di Sumatera, setelah Nanggroe Aceh Darussalam. Sebagian besar pantai tersebut, terutama yang menghadap ke lautan Indonesia dan Teluk Lampung, merupakan pantai yang eksotis.


Beberapa di antaranya Pantai Tanjungsetia, Pekon (Desa-red) Bumi Agung, Kecamatan Biha, Lampung Barat, sekitar 22 km dari Kota Krui, terdapat lokasi untuk berselancar yang sangat menantang. Pada bulan Mei hingga Agustus, ketinggian ombaknya mencapai tujuh meter.



Masih di Lampung Barat, juga terdapat pantai dengan hamparan pasir putih dan bentangan laut membiru, yakni Pantai Tembakak, Kecamatan Karya Punggawa. Ombak besar tidak henti menyisir pasir-pasir di pantai itu, seolah tidak sabar mengajak pengunjung bermain-main.



Objek wisata spesifik lainnya, yakni hamparan hutan damar yang memanjang mulai pesisir utara hingga pesisir selatan Lampung Barat yang oleh warga setempat disebut repong damar akan mengusik mata kita ketika memasuki wilayah Krui. Apalagi damar di daerah ini berkualitas tinggi dan terbaik di dunia, yakni damar mata kucing.



Untuk melihat repong damar tidaklah terlalu sulit. Selain yang terletak jauh dari permukiman penduduk alias di bukit-bukit, ada juga repong damar yang letaknya di pinggir-pinggir jalan sehingga kita bisa menyaksikan getah damar yang dihasilkan satu batang pohon damar, yang umumnya berusia puluhan hingga ratusan tahun ini.



Bahkan, di Pekon Pahmongan Raya, Kecamatan Pesisir Tengah, Lampung Barat–sentra utama damar–bisa ditemui pohon damar yang konon sudah berusia sekitar dua abad. Hingga kini, pohon damar yang tingginya hampir 50 meter tersebut masih berproduksi meski jumlahnya sudah jauh menurun. Di pekon ini, 80 persen dari 224 keluarga penduduknya hidup dari menyadap getah damar.



Sumber: potlot-adventure

Sempurnakan Kebebasan di Pantai Ringgung



Keluasan laut selalu menjadi inspirasi pembebasan. Tak heran jika untuk menghilangkan kepenatan, bentangan samudera dengan aroma khasnya akan meluluskan segala keinginan tentang kebebasan dari belenggu rutinitas. Salah satu lokasi di Lampung yang menawarkan spekta kebebasan laut adalah Pantai Ringgung di Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran.


Pantai ini sangat cocok bagi warga yang ingin bersantai di pantai yang masih alami, lengkap dengan hutan bakau dan tumbuhan pantai lainnya, di pantai ini pengunjung akan menemukan suasana yang masih asli.


Lokasinya berada sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Bandar Lampung ke arah barat daya menuju Padang Cermin, Pesawaran. Untuk sampai ke pantai yang berada tak jauh dari Jalan Raya Hanura-Padang Cermin itu, tersedia jalan beraspal mulus. Hanya untuk mencapai bibir pantai, dari jalan masih berupa jalan berbatu sepanjang 2 km. Tapi kondisi itu dijamin tidak akan membuat slip mobil karena jalan itu sudah dilapisi batu koral.


Secara umum, tempat wisata pantai ini belum ada pengelolaan secara profesional. Masuk kawasan ini, satu portal dari bambu dipasang dengan penunggu yang berada pada pos jaga sederhana. Dengan membayar Rp 10.000 untuk kendaraan roda empat dan Rp 5.000 untuk sepeda motor, pengunjung sudah bisa menikmati panorama laut yang indah itu.
Demikian pula bibir pantainya masih dibiarkan alami. Hutan bakau yang berada beberapa bagian bibir pantai dibiarkan tetap asri.
Belasan pondok-pondok dari papan dan asbes dengan warna-warna cerah dibangun oleh pengelola. Dari pondok-pondok tersebut, pengunjung bisa bersantai sambil memandang laut yang di tengahnya berdiri beberapa keramba budi daya ikan kerapu. Ombak pantai yang tenang, air yang jenih, dan mangrove berupa hutan bakau yang terjaga mengundang para pembudi daya ikan air laut untuk berusaha di sini. Namun, keberadaan mereka sinergis dengan tujuan wisata.

Pantai Ringgung berupa teluk kecil dengan garis pantai lengkung oval berpagar Bukit Ringgung di sisi barat dan selatan, dan Bukit Lahu di sisi utara.
Sementara itu, Pulau Tegal yang berbentuk gunung seperti menjadi pelindung teluk dari amukan ombak yang tak bersahabat. Ombaknya yang tenang dan airnya yang jernih karena lapisan pasir di dasar lautnya tebal dan halus, membuat perairan Pantai Ringgung menjadi lokasi nyaman untuk berenang, termasuk bagi anak-anak.



Bahkan, bagi mereka yang hobi berenang di laut, bisa berlomba berenang ke Pulau Tegal di depannya yang berjarak sekitar 500 meter. Pulau kecil ini berpenduduk 35 kepala keluarga dan juga memiliki pantai nan indah.

sumber dari potlot-adventure
dan ulun.lampunggech.com

Bahan dan Peralatan Tenun Tapis Lampung


Bahan Dasar Tapis Lampung


Kain tapis Lampung yang merupakan kerajinan tenun tradisional masyarakat Lampung ini dibuat dari benang katun dan benang emas. Benang katun adalah benang yang berasal dari bahan kapas dan digunakan sebagai bahan dasar dalam pembuatan kain tapis, sedangkan benang emas dipakai untuk membuat ragam hias pada tapis dengan sistim sulam.


Pada tahun 1950, para pengrajin tapis masih menggunakan bahan hasil pengolahan sendiri, khususnya untuk bahan tenun. Proses pengolahannya menggunakan sistim ikat, sedangkan penggunaan benang emas telah dikenal sejak lama.


Bahan-bahan baku itu antara lain :




  1. Khambak/kapas digunakan untuk membuat benang.

  2. Kepompong ulat sutera untuk membuat benang sutera.

  3. Pantis/lilin sarang lebah untuk meregangkan benang.

  4. Akar serai wangi untuk pengawet benang.

  5. Daun sirih untuk membuat warna kain tidak luntur.

  6. Buah pinang muda, daun pacar, kulit kayu kejal untuk pewarna merah.

  7. Kulit kayu salam, kulit kayu rambutan untuk pewarna hitam.

  8. Kulit kayu mahoni atau kalit kayu durian untuk pewarna coklat.

  9. Buah deduku atau daun talom untuk pewarna biru.

  10. Kunyit dan kapur sirih untuk pewarna kuning.


Pada saat ini bahan-bahan tersebut diatas sudah jarang digunakan lagi, oleh karena pengganti bahan-bahan diatas tersebut sudah banyak diperdagangkan di pasaran. Peralatan Tenun kain Tapis


Proses pembuatan tenun kain tapis menggunakn peralatan-peralatan sebagai berikut :


Sesang yaitu alat untuk menyusun benang sebelum dipasang pada alat tenun. Mattakh yaitu alat untuk menenun kain tapis yang terdiri dari bagian alat-alat : Terikan (alat menggulung benang) Cacap (alat untuk meletakkan alat-alat mettakh) Belida (alat untuk merapatkan benang) Kusuran (alat untuk menyusun benang dan memisahkan benang) Apik (alat untuk menahan rentangan benang dan menggulung hasil tenunan) Guyun (alat untuk mengatur benang) Ijan atau Peneken (tunjangan kaki penenun) Sekeli (alat untuk tempat gulungan benang pakan, yaitu benang yang dimasukkan melintang) Terupong/Teropong (alat untuk memasukkan benang pakan ke tenunan) Amben (alat penahan punggung penenun) Tekang yaitu alat untuk merentangkan kain pada saat menyulam benang emas.


Kain_7


Kerajinan kain tapis lampung terkendala bahan baku. Para perajin kain tapis di Lampung mengeluhkan sulitnya mendapatkan benang emas sebagai bahan baku utama pembuatan kain tapis. Akibatnya, banyak perajin menghentikan produksi mereka.



"Benang emas masih diimpor dari India. Peredarannya masih dimonopoli oleh pengusaha tertentu."

Kata Sri Nurlaila, perajin Tapis di Kota Bandar Lampung.




Ketua Asosiasi Kerajinan Asli Lampung Nasorudin mengatakan kelangkaan dan mahalnya harga benang emas terjadi karena ada permainan pedagang. Saat mata uang dolar turun, mestinya harga benang juga turun. Tapi tetap mahal karena benang emas hilang dari pasaran.

Sumber : aryandhaniblog, Wikipedia Indonesia
Via Beguwai Jejama (its mine^^)

Jenis Tapis Lampung Menurut Asal pemakainya

 

Beberapa jenis kain tapis yang umum digunakan masyarakat Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin adalah :

Tapis Lampung dari Pesisir :

  • Tapis Inuh

  • Tapis Cucuk Andak

  • Tapis Semaka

  • Tapis Kuning

  • Tapis Cukkil

  • Tapis Jinggu


Tapis lampung dari Pubian Telu Suku :

  • Tapis Jung Sarat

  • Tapis Balak

  • Tapis Laut Linau

  • Tapis Raja Medal

  • Tapis Pucuk Rebung

  • Tapis Cucuk Handak

  • Tapis Tuho

  • Tapis Sasap

  • Tapis Lawok Silung

  • Tapis Lawok Handak


Tapis Lampung dari Sungkai Way Kanan :

  • Tapis Jung Sarat

  • Tapis Balak

  • Tapis Pucuk Rebung

  • Tapis Halom/Gabo

  • Tapis Kaca

  • Tapis Kuning

  • Tapis Lawok Halom

  • Tapis Tuha

  • Tapis Raja Medal

  • Tapis Lawok Silung


Tapis Lampung dari Tulang Bawang Mego Pak:

  • Tapis Dewosano

  • Tapis Limar Sekebar

  • Tapis Ratu Tulang Bawang

  • Tapis Bintang Perak

  • Tapis Limar Tunggal

  • Tapis Sasab

  • Tapis Kilap Turki

  • Tapis Jung Sarat

  • Tapis Kaco Mato di Lem

  • Tapis Kibang

  • Tapis Cukkil

  • Tapis Cucuk Sutero


Tapis Lampung dari Abung Siwo Mego :

  • Tapis Rajo Tunggal

  • Tapis Lawet Andak

  • Tapis Lawet Silung

  • Tapis Lawet Linau

  • Tapis Jung Sarat

  • Tapis Raja Medal

  • Tapis Nyelem di Laut Timbul di Gunung

  • Tapis Cucuk Andak

  • Tapis Balak

  • Tapis Pucuk Rebung

  • Tapis Cucuk Semako

  • Tapis Tuho

  • Tapis Cucuk Agheng

  • Tapis Gajah Mekhem

  • Tapis Sasap

  • Tapis Kuning

  • Tapis Kaco

  • Tapis Serdadu Baris


Via : Beguwai Jejama (its mine^^)

Falsafah Hidup Ulun Lampung


 

Falsafah Hidup Ulun Lampung termaktub dalam kitab Kuntara Raja Niti, yaitu:

  • Piil-Pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri)

  • Juluk-Adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya)

  • Nemui-Nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu)

  • Nengah-Nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis)

  • Sakai-Sambaian (gotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya)


Sifat-sifat di atas dilambangkan dengan ‘lima kembang penghias sigor’ pada lambang Provinsi Lampung.
Sifat-sifat orang Lampung tersebut juga diungkapkan dalam adi-adi (pantun):
Tandani ulun Lampung, wat piil-pusanggiri
Mulia heno sehitung, wat liom ghega dighi
Juluk-adok gham pegung, nemui-nyimah muaghi
Nengah-nyampugh mak ngungkung, sakai-Sambaian gawi.

Manuskrip Kitab 'Kuntara Raja Niti', Khazanah yang Hampir Punah


oleh Susilowati*

KHAZANAH kebudayaan Lampung bagaikan mutiara terpendam di kampung halamannya. Setiap menggali, makin tertantang untuk menemukan mutiara terindah yang masih tersembunyi. Mulai dari adat istiadat, kesenian, sejarah, sampai kitab adat yang sangat banyak jumlahnya. Salah satunya adalah kitab Kuntara Raja Niti.

Kitab Kuntara Raja Niti merupakan kitab adat yang menjadi rujukan bagi adat istiadat orang Lampung. Kitab ini digunakan hampir tiap-tiap subsuku Lampung, baik Pepadun maupun Pesisir. Di masing-masing kebuaian (keturunan) dari subsuku tersebut pun mengakui kalau Kuntara Raja Niti adalah kitab rujukan adat Lampung.

Sayangnya, tidak semua punyimbang (pemangku adat) menyimpan manuskrip kitab tersebut. Apalagi masyarakat Lampung kebanyakan. Karena kekayaan peninggalan adat, baik yang berupa benda maupun tulisan biasanya berada di kediaman pemangku adat dari setiap kebuaian. Jika di tempat pemangku adat tidak ada, kecil kemungkinan akan didapat di tempat lain.

Sebagian para punyimbang di daerah Kotaagung mengakui kalau yang dijadikan rujukan adat istiadat mereka adalah kitab Kuntara Raja Niti, tapi mereka tidak memiliki manuskripnya. Konon manuskrip kitab tersebut telah terbakar di daerah muasal mereka, yaitu Liwa. Mereka menerima peraturan adat istiadat secara turun temurun dari pemangku adat dan tua-tua sebelumnya. Mereka menurunkan kepada generasi berikutnya pun secara lisan pula.

Sedangkan untuk daerah Kurungan Nyawa, adat istiadat mereka, baik tata cara kehidupan sehari-hari maupun acara seremonial merujuk pada kitab Kuntara Raja Niti yang sudah mengalami banyak revisi sesuai dengan tuntutan zaman. Revisi ini dilakukan oleh para pemangku adat demi keberlangsungan adat itu sendiri. Sehingga tidak menyusahkan masyarakat adat sebagai para pelaku adat. Kitab Kuntara Raja Niti yang ada di sana sudah berupa draf peraturan adat yang di ketik dan difotokopi yang sudah mengalami perubahan dan penyesuaian melalui musyawarah-musyawarah adat. Sedangkan manuskripnya tidak ada lagi.

Untuk daerah Krui yang mempunyai 16 marga, para punyimbang juga mengakui kalau Kuntara Raja Niti adalah kitab adat yang berlaku di sana. Tapi hingga kini para punyimbang pun tidak tahu keberadaannya. Adat istiadat yang dipakai selama ini ditularkan melalui lisan secara turun-temurun pula. Selain Kuntara Raja Niti, di Pesisir Krui juga adat istiadatnya berdasarkan Kitab Simbur Cahya yang dipakai masyarakat adat Sumatera bagian Selatan. Para punyimbang di Krui juga tidak tahu keberadaan kitab Simbur Cahya.




Lalu, daerah Pubian Telusuku, menggunakan kitab Ketaro Berajo Sako. Kitab tersebut dialihaksarakan sekaligus diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh H.A. Rifai Wahid (almarhum). Semasa hidupnya, penerjemah mengatakan kitab tersebut juga merujuk kepada Kuntara Raja Niti. Sedang manuskrip Kuntara Raja Niti bisa didapat di kediaman Hasan Basri (alm.), yang bergelar Raden Imba atau secara adat disebut Dalom Kusuma Ratu. Ia merupakan keturunan Ratu Darah Putih, asal muasal dari Raden Intan II. Kediamannya di Desa Kuripan, Penengahan, Lampung Selatan. Manuskrip tersebut bernama lengkap kitab Kuntara Raja Niti dan Jugul Muda. Ditulis sekitar abad ke-17--18. Ini bisa dilihat dari jenis tulisan yang digunakan.

Meski menjadi kitab rujukan adat, manuskrip ini sekarang lebih mirip dengan benda kuno yang dikeramatkan. Karena lebih banyak disimpan daripada di buka untuk dikaji. Kitab yang bersampul cokelat lusuh, tersimpan pada sebuah kotak khusus yang tidak sembarang orang bisa membukanya. Kitab itu terdiri dari dua bagian, bagian pertama ditulis dengan aksara Lampung gaya abad 17 (huruf-hurufnya lebih tidur dari aksara Lampung yang digunakan sekarang). Satu bagian lagi ditulis dengan huruf Arab gundul. Sedang bahasa yang digunakan pada seluruh teks adalah bahasa Jawa pertengahan dengan logat Banten. Masing-masing bagian memuat keseluruhan isi dari kitab Kuntara Raja Niti. Jadi, bagian yang satu dialihaksarakan pada bagian yang lain.

Isi manuskrip tersebut sebenarnya bukan hanya masalah tata cara adat secara seremonial, seperti upacara pernikahan, kematian dll. tapi kitab tersebut memuat peraturan-peraturan kemasyarakatan atau yang lebih tepat disebut perundang-undangan. Sebagaimana disebutkan dalam manuskrip tersebut, bahwa kitab Kuntara Raja Niti dan Jugul Muda adalah kitab undang-undang yang berlaku di tiga wilayah, yaitu Majapahit, Padjadjaran, dan Lampung. Sebagai kitab undang-undang atau dasar hukum kemasyarakatan, kitab tersebut ditulis dengan sistematis.

Setiap pembahasan diatur dalam bab-bab. Bab I (pada kitab terjemahan terdapat pada halaman 25), membahas tentang kiyas. Kiyas adalah hal yang mesti pada hukum, yang menyangkut tiga persoalan yaitu 1. Kuntara, 2. Raja Niti, 3. Jugul Muda. Selanjutnya pada kitab tersebut diterangkan, di antara raja-raja yang mempunyai tiga kebijakan itu adalah Prabu Sasmata dari Majapahit, Raja Pakuan Sandikara dari Pajajaran dan Raja Angklangkara dari Lampung.

Bab II memuat sejarah Raja Majapahit dan keagungannya. Dari bab ini bisa simpulkan kitab ini sangat terpengaruh dengan kebesaran Kerajaan Majapahit.

Bab III menyebutkan penjelasan tiga pokok hukum di antara prinsip-prinsip hukum yang ada dalam Kuntara Raja Niti, yaitu igama, dirgama dan karinah. Igama adalah yang dihukumkan, berarti sesuatu yang nyata dan kasatmata, bisa diakui keberadaan dan kebenarannya oleh semua orang. Dirgama itu hati nurani yaitu hukum-hukum yang ada pada kitab Kuntara Raja Niti sesuai dengan hati nurani. Karinah berkaitan dengan perbuatan yang dilakukan. Dengan ketentuan tiga pokok hukum ini, diterangkan bahwa hukum-hukum yang ada bisa diogolongkan; hukum yang bersifat nyata itu kuntara, hukum yang sesuai dengan hati nurani disebut raja niti, sedangkan hukum yang yang berhubungan dengan sebab akibat suatu perbuatan disebut jugul muda.

Bab IV, V, dan VI membahas seputar kaidah hukum yang ada pada Bab III.
Produk hukum atau bab yang berisi tentang aturan-aturan secara detail termuat dari Bab VIII sampai Bab XVII.
Pada Bab VIII, diterangkan tentang hukum-hukum suami-istri.
Bab IX membahas tentang peraturan jual beli. Pada Bab X menerangkan tentang tanah.
Bab XI membahas tentang utang.
Bab XII tentang gadai dan upah.
Bab XIII berisi tata cara bertamu dan menginap.
Bab XIV berisi tentang larangan mengungkit-ungkit persoalan.
Bab XV membicarakan tentang perjanjian.

Bab XVI tentang talak, sedangkan Bab XVII membahas tentang utang piutang.

Kitab tersebut secara perinci mengatur tata cara kemasyarakatan yang termuat dalam pasal-pasal. Dalam pasal-pasal juga diatur tata cara berperahu dan menggunakan air, bahkan sampai tentang cara seorang laki-laki bertamu ke rumah perempuan ketika suaminya tidak ada di rumah. Tiap-tiap pasal tidak hanya memuat peraturan, juga hukuman yang melanggar peraturan tersebut.

Dari isi Kitab Kuntara Raja Niti dapat disimpulkan bahwa masyarakat Lampung, sebelum adanya undang-undang Belanda, telah memiliki undang-undang yang secara lengkap mengatur kemasyarakat. Dan kitab Kuntara Raja Niti bukan hanya kitab yang mengatur acara seremonial seperti dipahami sebagian orang, melainkan kitab yang mengatur segala segi kehidupan.

Sumber ulun.lampunggech.com

Pesona Topeng Lampung




Ini tentang Sekura :

Meskipun sinar matahari cukup terik hari itu (Minggu 28 Agustus 2005), Lapangan Saburai Bandar Lampung , sangat ramai oleh pengunjung yang antusias untuk menyaksikan Pesta Topeng Seribu Wajah yang pertama kali digelar di Bandar Lampung. Pesta ini adalah salah satu dari serangkaian acara Festival Krakatau XV. Beratus-ratus orang yang berasal dari sepuluh Kabupaten /kota di Propinsi Lampung turut berpartisipasi memeriahkan pesta tersebut. Mereka mengenakan aneka topeng dan atribut serta bergoyang dan menari sesukanya. Topeng yang digunakan menggambarkan berbagai mimik wajah, ada yang sedih, marah, senyum hingga tertawa. Turut dalam parade tersebut dua ekor gajah, kendaraan bendi dan becak yang dihias warna-warni. Aksi mereka membuat decak kagum para penonton baik yang berasal dari Lampung sendiri maupun beberapa turis mancanegara.


Sejak kapan masyarakat Lampung mengenal topeng tidak diketahui secara pasti. Informasi yang didapat sampai saat ini adalah bahwa topeng Lampung adalah salah satu produk seni budaya Lampung yang dapat dilihat pada pesta Sekura (Sekuraan), Drama Tari Tupping, Parade Topeng, dan yang baru-baru ini Pesta Topeng Seribu Wajah.


Ada dua jenis topeng Lampung, yaitu tupping dan sekura. Tupping berkembang di daerah Lampung Selatan seperti : masyarakat Kuripan, Canti, dan Kesugihan , sedangkan sekura terdapat di wilayah Lampung Barat seperti: Belalau, Balik Bukit, Batubrak, Sukau, Kenali, dan Liwa.




 

Sekura dan Sekuraan:
Pesta Sekura (sekuraan) adalah suatu pesta rakyat yang diadakan setiap awal bulan Syawal oleh masyarakat Lampung Barat dan sekitarnya . Sakura ditampilkan sebagai tarian topeng pada Pesta Sakura yang berlangsung selama satu minggu. Pesta ini merupakan pesta rakyat yang diselenggarakan dalam rangkaian Idul Fitri untuk mengungkapkan rasa syukur, sukacita dan perenungan terhadap sikap dan tingkah laku. . Dilihat dari segi penokohannya topeng dalam sekura terdiri dari , sekura anak, sekura tuha, sekura kesatria, sekura cacat, sakura raksasa, dan sekura binatang. Namun dari enam jenis penokohan tersebut sekura dapat dibagi menjadi dua jenis. Yang pertama disebut sekura kecah yang artinya sekura bersih. Sekura ini sering disebut juga sekura betik atau sekura helau. Yang kedua disebut sekura kamak yang artinya sekura kotor atau sekura jahat.

Sesuai dengan namanya, sekura kecah mengenakan kostum yang bersih dan rapi. Sekura kecah khusus diperankan oleh menghanai (laki-laki yang belum beristri). Sekura ini berfungsi sebagai pemeriah dan peramai peserta. Mereka berkeliling pekon (dusun) untuk melihat-lihat dan berjumpa dengan gadis pujaan. Selain itu sekura ini juga berfungsi sebagai pengawal sanak saudara yang menyaksikan atraksi topeng. Mereka membawa senjata pusaka-kini simbolis saja , sebagai symbol menjaga gadis atau muli bathin (anak pangeran) yang menyaksikan pesta topeng agar terhindar dari sekura kamak yang jahat. Mereka juga menunjukkan kemewahan dan kekayaan materi yang dapat terlihat dari selendang yang dikenakannya. Secara simbolis banyaknya selendang mengartikan sekura itu adalah meghanai yang baik.


Sekura kamak berarti sekura kotor atau sekura jahat dikarenakan mereka mengenakan pakaian dan topeng kotor. Busana yang dikenakan tidak hanya pakaian sehari-hari yang digunakan dalam menggarap kebun, tetapi dapat juga dari segala jenis tumbuhan yang diikatkan di tubuh. Tingkahnya mengundang tawa penonton. Sekura kamak tidak terbatas meghanai , tetapi bisa juga dibawakan oleh pria yang sudah beristri. Mereka berfungsi sebagai penghibur dalam sekuraan. Kadang mereka mengganggu pengunjung yang menonton sekuraan. Sekuraan ini berkeliling kampung untuk kemudian singgah ke rumah-rumah penduduk. Masyarakat yang dikunjungi wajib menyediakan makanan dan minuman yang diperuntukkan sekura yang datang ke rumahnya. Dalam pesta sekuraan ini, kadang ditampilkan atraksi pencak silat (silek), nyambai ( menyanyikan bait-bait pantun yang diiringi dengan tetabuhan terbangan (rebana) satu. Pantun ini biasanya ditujukan pada muli (gadis).


Drama Tari Tupping adalah suatu pertunjukan tari yang menggambarkan patriotisme keprajuritan dari pasukan tempur dan pengawal rahasia Radin Inten I (1751-1828), Radin Imba II (1828 -1834) dan Radin Inten II (1834 - 1856) di daerah Kalianda Lampung Selatan. Dilihat dari segi penokohannya topeng dalam Drama Tari Tupping terdiri dari : tokoh kesatria, tokoh kesatria kasar, tokoh kesatria sakti, tokoh kesatria putrid, tokoh pelawak, dan tokoh bijak dan sakti. Tari tupping juga dilakukan pada rangkaian pesta perkawinan sebagai symbol keselamatan keseluruhan upacara perkawinan atau pada acara penyambutan tamu besar.


Lain sekura lain juga tupping. Jumlah sekura tidak terbatas, bisa sedikit dan bisa banyakt. Kalau tupping, topeng yang berasal dari Lampung Selatan tepatnya di Canti dan Kuripan jumlahnya dua belas. Tidak bisa lebih dan tidak bisa kurang, dan tidak bisa ditiru. Topeng ini diyakini memilki kekuatan gaib. Tidak semua bisa memakai topeng ini, baik topeng Canti maupun topeng Kuripan. Meskipun sekarang sudah jadi bagian kesenian, berbagai ritual khusus harus dilakukan sebelum mengenakan topeng-topeng ini.


Topeng Kuripan dan Topeng Canti adalah sebutan topeng yang ada di masyarakat Marga Ratu yang tinggal di daerah Kuripan dan Canti. Topeng Kuripan hanya bisa dikenakan oleh keturunan 12 punggawa yang antara lain berada di Desa Tataan, Taman Baru dan Kuripan. Di Canti topeng mereka hanya bisa dikenakan oleh lelaki yang berumur 20 tahun. Karena jumlahnya harus dua belas, topeng ini sekali keluar harus 12. Topeng-topeng ini tidak bisa ditiru. Kalau ada warga yang ingin memakai, mereka bisa minta izin pada Dalom Marga Ratu. Kelalaian dalam mentaati aturan-aturan ini akan mengakibatkan kejadian yang tidak diinginkan pada yang memakainya. Kedua topeng ini, baik Topeng Kuripan dan Topeng Canti diyakini menyimpan beragam muatan seperti histories, simbol budaya, nilai ritual, dan struktur social politik.



Parade Topeng adalah suatu arak-arakan para tupping dan sekura yang menyusuri rute keliling desa dengan aneka atraksi. Pada parade ini para penari tupping melukiskan kewaspadaan untuk menjaga keselamatan kedua mempelai dan rombongannya pada saat menuju tempat perkawinan. Sedangkan para pesekura sambil berparade mereka mendatangi rumah penduduk meminta konsumsi bersukacita menuju arena pesta.
Jadi dapat dikatakan topeng Lampung mempunyai nilai simbolik perwatakan manusia sesuai dengan ajaran moral, dan etika social budaya masyarakat pedesaan waktu itu.


Sumber http://www.indonesiamedia.com
Via : Beguwai Jejama (its mine^^)

Warisan Budaya: Naskah Kuno Lampung di Luar Negeri


Bandar Lampung, Kompas - Museum Lampung memastikan, sebanyak 400 naskah kuno Lampung tersimpan di museum-museum di luar negeri, sedangkan yang tersimpan di Museum Lampung hanya sekitar 34 buah. Hal itu menyulitkan bagi para peneliti yang hendak melakukan pengkajian tentang budaya atau kehidupan Lampung masa lalu.

Kepala Museum Lampung Pulung Swandaru, Selasa (21/10), mengatakan, dari inventarisasi koleksi dan dari penelusuran mengenai naskah-naskah kuno Lampung di luar negeri, diketahui naskah kuno Lampung tersimpan di 20 perpustakaan milik museum atau lembaga penelitian di luar negeri.

Beberapa negara yang diketahui menyimpan naskah kuno Lampung antara lain Belanda, Denmark, Inggris, dan Jerman. Di Belanda, naskah kuno Lampung tersimpan di lembaga penelitian Koninklijk Instituut Voor de Tropen, Amsterdam, dan di lembaga penelitian Koninklijk Instituut voor Taal di Leiden.


Di Denmark, naskah kuno Lampung diketahui disimpan di Museum Nasional atau Nationalmuseet. Di Inggris, naskah kuno Lampung disimpan di Brynmor Jones Library, University of Hull. Adapun di Jerman, naskah kuno Lampung tersimpan di Museum fur Volkerkunde, Berlin; Museum fur Volkerkunde, Leipzig; Bayerische Staatsbibliothek, Muenchen; dan di Linden Museum, Stuttgart. (HLN)

Sumber ulun.lampunggech
Via : Beguwai Jejama (its mine^^)

Contoh Pantun / sagata / adi-adi



Pantun/segata/adi-adi adalah salah satu jenis puisi tradisi Lampung yang lazim di kalangan etnik lampung digunakan dalam acara-acara yang sifatnya bersukaria, misalnya pengisi acara muda mudi nyambai, miyah damagh, kedayek.

Contoh pattun/segata:

Bukundang Kalah Sahing

Numpang pai nanom peghing
Titanom banjagh capa
Numpang pai ngulih-ulih
Jama kutti sai dija

Adek kesaka dija
Kuliak nambi dibbi
Adek gelagh ni sapa
Nyin mubangik ngughau ni

Budaghak dipa dinyak
Pullan tuha mak lagi
Bukundang dipa dinyak
Anak tuha mak lagi

Payu uy mulang pai uy
Dang saka ga di huma
Manuk disayang kenuy
Layau kimak tigaga

Nyilok silok di lawok
Lentera di balimbing
Najin ghalang kupenok
Kidang ghisok kubimbing

Kusassat ghelom selom
Asal putungga batu
Kusassat ghelom pedom
Asal putungga niku

Kughatopkon mak ghattop
Kayu dunggak pumatang
Pedom nyak sanga silop
Min pitu minjak miwang

Indani ghaddak minyak
Titanom di cenggighing
Musakik kik injuk nyak
Bukundang kalah sahing

Musaka ya gila wat
Ki temon ni peghhati
Ya gila sangon mawat
Niku masangkon budi

Ali-ali di jaghi kiri
Gelang di culuk kanan
Mahap sunyin di kutti
Ki salah dang sayahan


Terjemahannya:


Pacaran Kalah Saingan


Numpang menanam bambu
Ditanam dekat capa
Numpang bertanya
Kepada kalian di sini


Adik kapan kemari
Kulihat kemarin sore
Nama adik siapa
Agar enak memanggilnya


Berladang dimana aku
Hutan tua tiada lagi
Pacaran dengan siapa aku
Anak tua tiada lagi


Ya uy pulang dulu uy
Jangan lama-lama di ladang
Ayam disayang elang
Kacau kalau tak dicegah


Melihat-lihat di laut
Lentera di balimbing
Walau jarang kulihat
Tapi sering kuucap


Kucari ke dasar gelap
Asal bersua batu
Kucari hingga ke tidur
Asal bersua denganmu


Kurebahkan tak rebah
Kayu di ujung pematang
Sejenak aku tertidur
Tujuh kali terbangun menangis


Layaknya ghaddak minyak*
Ditanam di lereng bukit
Betapa derita kurasakan
Pacaran kalah saingan


Sudah lama sebenanya ada
Kalau memang lebih perhatian
Ya memang tidak
Kau menanam budi


Cincin di jari kiri
Gelang di kaki kanan
Maaf semuanya kepada kalian
Kalau salah jangan mengejek




  • nama pohon untuk pelindung tanaman kopi


Sumber: Wikipedia Indonesia

Bentuk-bentuk puisi lisan Lampung


Berdasarkan fungsinya, ada lima macam puisi dalam khasanah sastra tradisi lisan Lampung:

1. Paradinei/paghadini

Paradinei/paghadini adalah puisi tradisi Lampung yang biasa digunakan dalam upacara penyambutan tamu pada saat berlangsungnya pesta pernikahan secara adat. Paradinei/paghadini diucapkan jurubicara masing-masing pihak, baik pihak yang datang maupun yang didatangi. Secara umum, isi paradinei/paghadini berupa tanya jawab tentang maksud atau tujuan kedatangan.

Contoh:

Jak banding sikam jinna
Lupa mak singgah jondong
Kubimbing niku jinna
Mukhawan niku khatong

Mawat kutattak lada
kammak jukuk ni lamon
Mawat kubuka cawa
kammak cawa sai temmon

Si gisting nangun mikhing
jalan berliku liku
Najin dunia giccing
bacak sapai di niku
[sunting] Pepaccur/pepaccogh/wawancan

2. Pepaccur/pepaccogh/wawancan
Pepaccur/pepaccogh/wawancan adalah puisi tradisi Lampung yang berisi nasihat atau pesan-pesan setelah pemberian adok (gelar adat) kepada bujang-gadis sebagai penghormatan/tanda telah berumah tangga dalam pesta pernikahan. Pemberian adok (gelar adat) dilakukan dalam upacara adat yang dikenal dengan istilah butetah atau istilah lainnnya, ngamai dan nginai adek, ngamai ghik ngini adok, dan kabaghan adok atau nguwaghko adok.
[sunting] Pattun/Segata/Adi-Adi

3. Pantun/segata/adi-adi
Pantun/segata/adi-adi adalah salah satu jenis puisi tradisi Lampung yang lazim di kalangan etnik lampung digunakan dalam acara-acara yang sifatnya bersukaria, misalnya pengisi acara muda mudi nyambai, miyah damagh, kedayek.

4. Bebandung
Bubandung adalah puisi tradisi Lampung yang berisi pertuah-petuah atau ajaran yang berkenaan dengan agama Islam.
[sunting] Ringget/Pisaan

5. Ringget/pisaan
Ringget/pisaan/dadi/highing-highing/wayak/ngehahaddo/hahiwang adalah puisi tradisi Lampung yang lazim digunakan sebagai pengantar acara adat, pelengkap acara pelepasan pengantin wanita ke tempat pengantin pria, pelengkap acara tarian adat (cangget), pelengkap acara muda-mudi (nyambai, miyah damagh, atau kedayek), senandung saat meninabobokan anak, dan pengisi waktu bersantai.

sumber : Wikipedia Indonesia

Sastra Lampung


Sastra lisan Lampung menjadi milik kolektif suku Lampung. Ciri utamanya kelisanan, anonim, dan lekat dengan kebiasaan, tradisi, dan adat istiadat dalam kebudayaan masyarakat Lampung. Sastra itu banyak tersebar dalam masyarakat dan merupakan bagian sangat penting dari khazanah budaya etnis Lampung.

Sastra Lampung adalah sastra yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreasi, baik sastra lisan maupun sastra tulis. Sastra Lampung memiliki kedekatan dengan tradisi Melayu yang kuat dengan pepatah-petitih, mantera, pantun, syair, dan cerita rakyat.
Jenis sastra lisan Lampung menurut A. Effendi Sanusi (1996) membagi lima jenis sastra tradisi lisan Lampung yaitu :
1. Sesikun/sekiman (peribahasa)
Sesikun/sekiman adalah bahasa yang memiliki arti kiasan atau semua berbahasa kias. Fungsinya sebagai alat pemberi nasihat, motivasi, sindiran, celaaan, sanjungan, perbandingan atau pemanis dalam bahasa.

2. Seganing/teteduhan (teka-teki)
Seganing/teteduhan adalah soal yang dikemukakan secara samar-samar, biasanya untuk permainan atau untuk pengasah pikiran.

3. Memmang (mantra)
Memmang adalah perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya gaib: dapat menyembuhkan, dapat mendatangkan celaka, dan sebagainya.

4. Warahan (cerita rakyat)
Warahan adalah suatu cerita yang pada dasarnya disampaikan secara lisan; bisa berbentuk epos, sage, fabel, legenda, mite maupun semata-mata fiksi.

5. Puisi
Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan seseorang secara imajinatif dan disusun dengan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batin.

Sumber : Wikipedia Indonesia

Asal Mula Sakura


Luar biasa. Even pesta topeng sakura di Lampung Barat yang tidak jelas lagi sejak kapan awal pertamanya, ternyata hingga kini masih berlangsung. Seingat mereka yang tua tua pesta sakura sudah ada ketika mereka masih kanak kanak. Telah terbilang abadkah usia pesta ini. Lalu apa pula maknanya. Adakah relevansi dengan kehidupan sekarang. Tergantung dari sudut mana kita melihatnya.


Produk lokal

Belum diketemukan narasumber yang dapat bercerita tentang awal mula pertama pesta topeng sakura ini dimulai, siapa penyelenggaranya, siapa pelaku, siapa pula yang terlibat. Kita hanya dapat menduga, karena tidak ada sumber yang benar benar bisa dipertanggung jawabkan. Banyak peneliti menjadi penasaran dan merasa tertantang. Jangan jangan even ini telah dimulai abad yang silam. Dan karena waktunya bersamaan dengan perayaan Idul Fitri maka banyak pihak menduga acara ini tak terlepas dari upaya penyebaran Islam di daerah setempat.

Namun Islam masuk ke daerah ini melalui Sumatera Barat dan Palembang dan kita belum mengenal adanya topeng dari daerah tersebut, yang dijadikan alat dakwah. Kalaupun seandainya Islam masuk melalui Banten, di Bantenpun kita tidak mengenal seni topeng seperti yang di Lampung Barat. Itulah sebabnya maka banyak pihak yang menduga bahwa seni topeng ini muncul dari kepercayaan local yang animistic, dan berarti bahwa topeng sakura asli kekayaan milik Lampung.

Utusan Penguasa

Lampung Barat, tidak mengenal ada kerajaan besar. Tetapi berdasarkan teori yang ada, setiap suatu komunitas setradisional apapun, tetap saja akan ada pihak pihak yang memiliki pengaruh besar, yang mampu melaksanakan kepemimpinan terhadap komunitas tersebut. Topeng Sakura yang dahulu konon katanya muncul secara tiba tiba, bagaikan keluar dari perut bumi. Demikian juga ketika pergi bagaikan ditelan bumi. Para petopeng itu dahulu diyakini sebagai utusan penguasa.

Para pesakura yang tidak dikenal itu seperti orang yang sedang memata-matai, semacam telik sandi pada masa kerajaan, atau intel di zaman modern ini. Para pesakura ini dahulu setelah basa basi menanyaka kabar, keluarga, pekerjaan dan situasi kampung lainnya. Mereka sering menyampaikan petuah petuah. Petuah petuah yang disampaikan sama dengan apa yang diterima masyarakat dari para pemimpin dan juga tokoh agama. Itulah sebabnya masyarakat sejak dahulu selalu saja memberikan respon positif atas kehadiran dan petunjuk pesakura ini. Karena mereka yakin pesakura ini adalah utusan resmi para penguasa.

Para pesakura ini dahulu diyakini sebagai orang orang sakti yang mampu merombak wajah dan fisik mereka hingga tak dikenali lagi masyarakat. Motif pesakura, ada seperti orang tua jompo, ada seperti manusia yang terkena kutukan sehingga wajah dan fisiknya menyerupai binatang, dan lain lain. Apapaun motifnya masyarakat tetap menghormati mereka.


Sakura Kamak-Kecah.
Secara fisik, sakura dapat dibagi dua kelompok. Yaitu sakura kamak dan sakura kecah. Sakura kamak tampil secara kasar, ucapannya dahulu berbau ancaman atas pelanggar aturan. Sedang sakura kecah tampil secara simpati dan ucapan acapannya berbau ajakan dan himabauan untuk mematuhi peraturan.

Dahulu konon kabarnya tidak jarang sakura kamak meringkus para penjahat yang dikenal masyarakat tak tersentuh aturan. Sosok sakura kamak ini benar benar menjadi momok yang menakutkan bagi mereka sering melakukan tindak kejahatan. Yang selama ini tidak ada pihak pihak yang berani menindaknya.

Masyarakat sering menanyaka sesuatu yang belum mereka pahami kepada sakura kecah para pesakura kecah ini memposisikan diri sebagai penerang bagi masyarakat. Nampaknya dahulu pesakura ini selain oknum aparat keamanan juga terdiri dari cerdik cendekia.

Pakem Sakura

Peserta Topeng sakura, pada masa kini, terdiri dari orang orang biasa, masyarakat jelata, tidak membawa missi tertentu, hanya hiburan belaka, dan tak terikat pakem tertentu. Itulah sebabnya pelaksanaan sakura semakin tahun semakin tak diminati, semakin tak bermakna. Dibutuhkan adanya pihak pihak tertentu yang mampu memberikan polesan agar sakura kembali memiliki pakem yang relepan degan pembangunan daerah wilayah setempat.

Sumber : Fachruddin54

PESTA SAKURA SEBAGAI SIMBOL KOMUNIKASI TRADISIONAL

Oleh MASAGUS TOMI AREDHO*





Pada Masyarakat Lampung Barat, pesta sakura sudah dikenal seluruh masyarakatnya sebagai pesta budaya tradisional yang dilaksanakan setelah hari raya Idul Fitri biasanya selama 7 hari, setiap hari bergantian dari Pekon ke Pekon yang lainnya. Pesta sakura dalam pandangan secara umum kegiatan ini hampir sama dengan pentas teater luar ruang dengan pelaku adalah masyarakat, dimana gambaran kegiatan budaya ini adalah identik dengan kemenangan, kebebasan dan kegembiraan sebagai ungkapan jiwa manusia untuk berkreasi dan berekspresi.


Tujuan diadakannya pesta sakura ini adalah untuk meluapkan kemenangan, kebebasan, dan kegembiraan setelah menjalankan ibadah puasa ramadhan.dan ajang silahturahmi bersama seluruh masyarakat Pekon. Pesta sakura ini dilakukan tidak menetap tempatnya, melainkan berpindah-pindah, dari satu Pekon ke Pekon lainnya. Dalam bersakura, seseorang menggunakan kelengkapan busana sebagai penutup identitasnya. Secara khusus dalam kelengkapan busana, yakni topeng yang digunakan pesakura terbagi dua, yakni helau dan kamak yang menyimbolkan makna tertentu. Dalam bahasa Indonesia, helau artinya bagus, sedangkan kamak artinya kotor atau buruk.


Pesta sakura merupakan salah satu bentuk dari komunikasi tradisional, karena pesta sakura merupakan suatu acara adat yang berlangsung lama secara turun temurun pada masyarakat Pekon Canggu Kabupaten Lampung Barat. Acara tersebut berbeda dari masyarakat lainnya, karena disebabkan oleh ciri-ciri khas sistem masyarakat yang bersangkutan beserta tata nilai kebudayaan berbeda dengan masyarakat (suku lainnya).


Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah” simbol komunikasi apa saja yang ada dalam pesta sakura (sekura) sehingga dapat dikatakan sebagai simbol komunikasi tradisional pada masyarakat Lampung Barat”. Penulisan ini bertujuan untuk memaparkan pesta sakura sebagai simbol komunikasi tradisional pada masyarakat Lampung Barat. Penulisan ini tergolong kedalam penelitian kualitatif dengan menggunakan interaksionis simbolik sebagai metodenya. Untuk pengumpulan datanya menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Sumber informasinya diambil dengan cara purposive sampling, karena anggota sampel yang dipilih secara khusus berdasarkan tujuan penelitian.


Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa pesta sakura sudah ada sejak lama secara turun menurun. Pesta sakura dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri yang dilaksanakan berpindah-pindah selama satu minggu, dimulai dari satu Pekon ke Pekon lainnya. Selain itu, pesta sakura saat ini dipakai pada saat memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap tanggal 17 Agustus.


Dalam pelaksanaan pesta sakura seluruh masyarakat saling berkomunikasi, karena pesta sakura diadakan setelah Hari Raya Idul Fitri yang oleh masyarakatnya dijadikan sebagai ajang silaturrahmi kepada sesama tetangga, teman, maupun saudara. Selain itu, pesta sakura juga sebagai ajang perkenalan dan hiburan. Kelengkapan busana, secara khusus topengnya, menyimbolkan makna tertentu. Didalam bersakura, topeng yang digunakan ada yang berupa kain dan juga berupa kayu. Bila yang terbuat dari kain menyimbolkan kebaikan atau bagus, sedangkan yang terbuat dari kayu menyimbolkan jahat atau kotor.


Sumber : Skripsi-Unila
Via : Beguwai Jejama (its Mine^^)

Akar Bahasa Indonesia Muncul 10 Ribu Tahun Lalu


JAKARTA- Sebagian orang gembar-gembor untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional kelak. Namun sebagian lagi pesimis atau bahkan menjatuhkan semangat itu.
Untuk lebih jauh membahas soal desakan bahasa Indonesia menjadi bahas internasional, ada baiknya kita tahu asal muasal bahasa Indonesia terlebih dahulu.


Kebanyakan orang mengenal bahasa Indonesia sebagai bahasa Melayu yang dimodifikasi dan dikombinasi dengan bahasa serapan dari berbagai daerah maupun bahasa asing, yang kemudian dibakukan.

Menurut Khaidir Anwar, doktor Sosiolinguistik, dalam artikelnya yang berjudul Sumbangan Bahasa Melayu Riau Kepada Bahasa Indonesia menilai, pada umumnya orang mengetahui bahwa bahasa lndonesia sekarang berasal dari bahasa Melayu.

Istilah bahasa Melayu sendiri mengacu pada bahasa Melayu Riau, yaitu bahasa Melayu yang diajarkan di sekolah-sekolah sebelum Perang Dunia II terjadi.

Menurutnya, beberapa bahasa daerah memberikan sumbangan kepada bahasa Indonesia, seperti bahasa Jawa, Sunda, dan lain-lain. Bahkan, bahasa Indonesia juga mendapat sumbangan dari bahasa Barat. Penerbitan buku di Leiden dengan judul European Loan Words in Indonesian: A Checklist of Words of European Origin in Bahasa Indonesia and Traditional Malay tahun 1983 mengingatkan tentang sumbangan bahasa-bahasa Barat kepada bahasa Indonesia.

Arkeolog Harry Truman Simanjuntak mengatakan, bahasa Melayu dan ratusan bahasa daerah lainnya di Nusantara sebenarnya berakar dari bahasa Austronesia yang mulai muncul sekira 6.000-10.000 tahun lalu.

Penyebaran penutur bahasa Austronesia, ujar Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) itu, merupakan fenomena besar dalam sejarah umat manusia karena sebagai suatu rumpun bahasa, Austronesia merupakan yang terbesar di dunia, meliputi 1.200 bahasa dan dituturkan oleh hampir 300 juta populasi.

Masyarakat penuturnya tersebar luas di wilayah sepanjang 15 ribu Km meliputi lebih dari separuh bola bumi, yaitu dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di ujung timur, dari Taiwan-Mikronesia di utara hingga Selandia Baru di selatan.

Bahasa Melayu sebuah bahasa Austronesia yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara, kemungkinan sejak abad-abad awal penanggalan modern, paling tidak dalam bentuk informalnya. Bentuk bahasa sehari-hari ini sering dinamai dengan istilah Melayu Pasar. Jenis ini sangat lentur sebab sangat mudah dimengerti dan ekspresif.

Bentuk yang lebih formal, disebut Melayu Tinggi, pada masa lalu digunakan kalangan keluarga kerajaan di sekitar Sumatera, Malaya, dan Jawa. Bentuk bahasa ini lebih sulit karena penggunaannya sangat halus, penuh sindiran, dan tidak se-ekspresif bahasa Melayu Pasar.

Pemerintah kolonial Belanda yang menganggap kelenturan Melayu Pasar mengancam keberadaan bahasa dan budaya. Belanda berusaha meredamnya dengan mempromosikan bahasa Melayu Tinggi, di antaranya dengan penerbitan karya sastra dalam bahasa Melayu Tinggi oleh Balai Pustaka. Tetapi bahasa Melayu Pasar sudah terlanjur diadopsi oleh banyak pedagang yang melewati Indonesia.

Penyebutan pertama istilah “Bahasa Melayu” sudah dilakukan pada masa sekira 683-686 M, yaitu angka tahun yang tercantum pada beberapa prasasti berbahasa Melayu Kuna dari Palembang dan Bangka.

Prasasti-prasasti ini ditulis dengan aksara Pallawa atas perintah raja Sriwijaya, kerajaan maritim yang berjaya pada abad ke-7 dan ke-8. Wangsa Syailendra juga meninggalkan beberapa prasasti Melayu Kuna di Jawa Tengah. Keping Tembaga Laguna yang ditemukan di dekat Manila juga menunjukkan keterkaitan wilayah itu dengan Sriwijaya.

Karena terputusnya bukti-bukti tertulis pada abad ke-9 hingga abad ke-13, ahli bahasa tidak dapat menyimpulkan apakah bahasa Melayu Klasik merupakan kelanjutan dari Melayu Kuna. Catatan berbahasa Melayu Klasik pertama berasal dari Prasasti Terengganu tahun 1303.

Seiring dengan berkembangnya agama Islam dimulai dari Aceh pada abad ke-14, bahasa Melayu klasik lebih berkembang dan mendominasi sampai pada tahap di mana ekspresi “Masuk Melayu” berarti masuk agama Islam.

Bahasa Melayu di Indonesia kemudian digunakan sebagai lingua franca (bahasa pergaulan), namun pada waktu itu belum banyak yang menggunakannya sebagai bahasa ibu. Biasanya masih digunakan bahasa daerah (yang jumlahnya bisa sampai sebanyak 360).

Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Di sana, pada Kongres Nasional kedua di Jakarta, dicanangkanlah penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk negara Indonesia, pascakemerdekaan.

Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia (RI) tidak memilih bahasanya sendiri yakni bahasa Jawa (yang sebenarnya juga bahasa mayoritas pada saat itu), namun beliau memilih Bahasa Indonesia yang beliau dasarkan dari Bahasa Melayu yang dituturkan di Riau.

Dengan memilih Bahasa Melayu Riau, para pejuang kemerdekaan bersatu lagi seperti pada masa Islam berkembang di Indonesia. Namun kali ini dengan tujuan persatuan dan kebangsaan. Bahasa Indonesia yang sudah dipilih ini kemudian distandardisasi (dibakukan) lagi dengan nahu (tata bahasa), dan kamus baku juga diciptakan. Hal ini sudah dilakukan pada zaman Penjajahan Jepang.

Mulanya Bahasa Indonesia ditulis dengan tulisan Latin-Romawi mengikuti ejaan Belanda, hingga tahun 1972 ketika Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dicanangkan. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, semakin dibakukan.

 

Sumber : OKEZONE.COM

Bahasa Indonesia Penuhi Syarat Jadi Bahasa Dunia



JAKARTA - Mimpi bangsa Indonesia menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa dunia, masih terbuka luas. Bahasa Indonesia memiliki syarat untuk menjadi bahasa dunia.
Hal tersebut disampaikan oleh Ahli Sastra dan Sosial Budaya Universitas Indonesia, Maman Soetarman Mahayana kepada okezone, beberapa waktu lalu.

“Sebetulnya berdasarkan syarat sudah memenuhi untuk dijadikan bahasa dunia,” ujar Maman.

Maman mengatakan, syarat yang sudah terpenuhi antara lain jumlah penutur bahasa Indonesia lebih besar dibanding penutur bahasa Inggris. Selain itu, luas penyebaran bahasa Indonesia sudah merambah ke berbagai negara di dunia dan banyak dipelajari oleh warga negara lain. Saat ini saja sudah banyak perguruan tinggi di kota-kota besar di banyak negara yang mengajarkan bahasa Indonesia.

Hal senada diungkapkan Mariyanto, pendiri komunitas Ikatan Pecinta Bahasa Indonesia ini mengaku, potensi bahasa Indonesia menjadi bahasa dunia sangat memungkinkan. Hal ini dapat dilihat dari mudahnya menggunakan bahasa Indonesia.

Menurutnya, dalam bahasa Indonesia tidak mengenal tenses atau pembagian yang terdiri dari saat ini, yang akan datang atau waktu lampau, seperti yang ada pada bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Mariyanto menegaskan, selain harus optimistis bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa dunia, yang perlu menjadi perhatian adalah kemauan dari masyarakat Indonesia sendiri untuk menggolkan impian tersebut.

“Harus dari masyarakat Indonesianya sendiri, kalau masyarakatnya lebih bangga dengan bahasa asing, bagaimana mungkin bahasa Indonesia bisa mendunia,” ungkap Mariyanto kepada okezone dalam wawancara terpisah, belum lama ini.

Selain itu, menurut Maman, hal sulit yang dihadapi jika ingin bahasa Indonesia mendunia adalah perlunya dukungan politik dari pemerintah Indonesia. Pasalnya, kemauan untuk mengganti bahasa dunia ada pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang notabene, lanjut dia, dikuasai oleh Amerika Serikat.

“Peluang itu ada saja, tinggal kemauan PBB. Cuma masalahnya PBB dikuasai Amerika Serikat, itu yang mungkin agak sulit. Kemudian tinggal kemauan ahli bahasa dan menteri luar negeri harus mampu meloby, karena ini juga persoalan politik,” ungkapnya.

Sebetulnya, menurut Maman, bahasa Indonesia sudah diterima di kawasan ASEAN, walaupun belum secara resmi. Namun, lanjut dia, bahasa Indonesia sudah banyak digunakan seperti di negara Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan negara lainya. Hanya persoalan dialek yang berbeda-beda di tiap negara.

Bukti negara lain juga mempelajari bahasa Indonesia juga terjadi di Korea Selatan. Maman mencontohkan, di KBRI Seoul Korea Selatan tiap tahunnya diselenggarakan lomba pidato menggunakan bahasa Indonesia yang pesertanya khusus warga Korea Selatan.

Dia melihat, antusiasme yang tinggi dari warga Korea dalam mengikuti pidato bahasa Indonesia ini merupakan bentuk pemerintah melalui KBRI ingin menyebarkan pengaruh budaya dan bahasa Indonesia kepada negara lain, sekaligus menjadi bukti bahwa negara lain pun turut menyukai bahasa Indonesia.



Sumber : OKZONE.COM

Kamis, 24 November 2011

BOSAN DITANYA "KAPAN NIKAH?" BEGINI JAWABNYA!




Jika Anda masih lajang, Anda pasti sudah berulang kali mendengar pertanyaan seperti, "Kok belum kawin, sih?" atau "Kapan kawin?" atau "Kamu sih, pilih-pilih!" Si penanya mungkin tak sadar betapa


menjengkelkannya mendengar pertanyaan seperti itu. Anda sudah mendengarkannya sejak tahap Anda merasa terganggu dengan pertanyaan semacam itu. Anda mulai kebal, hingga mulai terganggu lagi (ketika sadar usia sudah mendekati 35 tahun).


Mungkin si penanya memang tak bermaksud menyinggung perasaan Anda karena itu memang pertanyaan standar yang akan dilontarkan orang ketika sudah lama tak bertemu. Oleh karena itu, daripada stres karena mendapat pertanyaan yang itu-itu saja, lebih baik Anda mencoba menjawabnya dengan cara yang berbeda. Entah itu dengan mengutarakan pandangan Anda tentang pernikahan atau menanggapinya dengan jokes saja. Yang penting, jawablah dengan tenang, tetapi tetap percaya diri. Nah, berikut jawaban yang bisa Anda berikan:




"Belum ketemu yang seiman. Kalau sudah seiman pun, belum tentu langsung cocok,kan?"



Jawaban ini akan membuat si penanya respek terhadap kondisi Anda bahwa menemukan pasangan yang seiman adalah prinsip Anda, dan ini jauh lebih elegan daripada menikahi siapa saja karena sudah didesak untuk menikah.





"Yah, gimana dong, dulu aku terlalu lama menghabiskan waktu dengan orang yang salah. Sekarang, aku lagi sibuk-sibuknya. Tapi aku tetap mencari, kok!"



Jawaban ini menunjukkan bahwa Anda bersikap realistis dengan kondisi Anda. Anda terlihat percaya diri, tetapi tetap rendah hati. Setiap orang pernah berbuat kesalahan, dan Anda ingin memperbaikinya. Siapa tahu, akibatnya si penanya akan mengenalkan Anda kepada temannya.


 





"Kalau aku tahu jawabannya, mungkin aku sudah menikah sekarang, dan kamu jadi patah hati!"



Anda bisa mengatakan hal ini jika yang bertanya seorang pria, dan Anda merasa tertarik padanya. Bila ia juga masih lajang, bukan tak mungkin jawaban ini akan membuka peluang baginya untuk menjajaki hubungan dengan Anda.





"Ah, senang juga kok, tetap melajang. Enggak ada yang melarang kalau mau keluarkota, dan enggak perlu kompromi soal apa pun."



Anda menunjukkan bahwa menjadi lajang tak selamanya merugikan atau memalukan. Namun, sampaikan jawaban itu dengan ekspresi yang meyakinkan. Bila tidak, Anda hanya akan dianggap menghibur diri atau bersikap defensif. Kalau Anda memang masih menikmati kehidupan lajang, kalimat ini menjadi cara yang baik untuk menjawab pertanyaan.





"Aku masih mencari pria beruntung yang akan mendapatkanku...."



Wow... great answer, great sense of humour! Berikan senyuman Anda yang paling menawan dan tunjukkan kepribadian Anda yang menyenangkan. Jawaban ini juga membuat si penanya sadar bahwa perempuan tetap harus mencari pria yang baik dan dapat diandalkan karena Anda pun punya kualitas yang sama. Hanya karena masih lajang, tak berarti Anda desperate.





"Aduh, belum ketemu Mr Right, nih! Cariin, dong!"



Nah, ini jawaban yang akan menguntungkan Anda. Bila Anda memang cukup sibuk sehingga tak terlalu sering meluangkan waktu senggang bersama teman-teman, si penanya akan merasa tergerak untuk mengenalkan Anda dengan teman-temannya. Bahkan, Anda mungkin bisa mendapat kenalan lebih dari satu. Asyik,kan?





"Ya, jelas harus pilih-pilih dong! Kalau tiba-tiba dia ternyata perampok bank, gimana?"



Ini juga jawaban yang asyik karena Anda menanggapi tuduhan "pilih-pilih" tadi dengan humor. Percayalah, sebagai perempuan Anda memang harus memilih pria yang mampu mendampingi Anda seumur hidup. Dan ini tak mungkin dicapai bila Anda tergesa-gesa memutuskan pria yang ingin Anda nikahi. Tentu, pilih-pilih yang dimaksud bukan "pilih yang ganteng, jangkung, kaya, atau terkenal".



Sekali lagi, apa pun jawaban yang Anda berikan, Anda harus percaya dengan apa yang Anda katakan. Bila Anda "membaca" bahwa percakapan itu akan berlarut-larut, segeralah mengganti topik pembicaraan. Ini memperlihatkan bahwa Anda tak bisa diatur olehnya. Lagipula, jika si penanya tergolong orang yang usil atau gemar mengurusi orang lain, tak ada gunanya meladeninya.




Sumber: Forum Kompas
Via         : Aniezt Juga Maniezt @FB


Senin, 21 November 2011

Krui Yang Tak Berduri

Postingan ini sekedar menyingkirkan status hiatus yang sudah terlanjur disandang selama beberapa bulan ini :D


*************



Bagi orang awan yang pertama kali menginjakkan kakinya di tempat ini pasti akan tedecak kagum, karena dibalik hutan nan rimbun serta alami ini masih tersimpan sejuta keindahan yang begitu menawan. Perjalan melewati Taman Nasional Bukit Barisan Selatan adalah salah satu jalur alternatif menuju Krui, melewati pohon-pohon nan tinggi menjulang dan rimbun dihiasi embun putih yang mengelilingi pepohonan menjadi teman dalam perjalanan yang mengasikkan.


Krui adalah sebuah kota di Pesisir Pulau Sumatera Provinsi Lampung, tepatnya di Kabupaten Lampung Barat. Dari letak Geografisnya letak Krui berada di pesisir pantai yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia serta di belakangnya terdapat Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.  Jarak untuk mencapai Krui dari Kota Bandar Lampung ± 250 Km menempuh jalan darat, sedangkan dari Kota Liwa Ibukota Kabupaten Lampung Barat  ± 32 Km jaraknya.



Setelah sampai di Krui, disepanjang pesisir pantai kita dapat menyaksikan desiran ombak nan tinggi yang menghempas ditepian karang menjadikan sebuah pemandangan yang menarik. Ombak-ombak nan tinggi inilah yang menjadikan salah satu tujuan para wisatawan asing untuk datang ke tempat ini. Salah satu trip perjalan wisata bagi turis asing di Krui adalah mencoba menaklukkan ombak-ombak nan menjulang tinggi di tempat ini dimana dijuluki sebagai surganya para peselancar.
Tanjung Setia tepatnya sebutan bagi daerah peisir pantai ini, jikalau kita memerlukan penginapan disini banyak terdapat pondok penginapan atau cottage dengan jangkuan harga yang berbeda pula, dari yang paling murah hingga yang paling mahal harga sewa perharinya. Pondokan ini biasanya banyak di gunakan khususnya oleh para Turis asing yang mempunyai hobby berselncar jikalau musim ombak tiba, dan juga penginapan ini dapat disewakan oleh wisatawan lokal pula. Pada musim ombak tinggi, dibebarapa titik banyak larangan untuk mandi disekitar pantai itu, dikarenakan pada musim itu ombak yang tinggi serta arus yang deras dapat membahayakan para pengunjung, tetapi justru ombak yang tinggi inilah yang menjadi taget utama para peselancar.



Ada sebuah lokasi pantai tepatnya di Labuhan jukung adalah salah satu tempat rekreasi yang cukup aman bagi umum, dan juga tempat latihan pagi para peselancar pemula. Bagi mereka yang suka dengan hobi memancing, tempat ini juga merupakan tempat yang baik juga untuk memancing. Dilokasi ini pula pada sore hari kita dapat menyaksikan Sunset yang begitu indah dengan warna kuning keemasan yang menawan, hal ini menjadi sebuah kenangan yang indah dan berkesan tersenderi dalam perjalan kami.


Krui yang tak beduri, dengan letak pantai yang berhadapan dengan Samudera Hindia dengan ombak serta arus yang menggila dan membahayakan justru menjadi lokasi kunjungan wisata yang menarik bagi wisatawan manca negara dan lokal terlebih khusus bagi para peselancar.


Sumber : aci detik travel