Selasa, 29 Januari 2013

Tuhan – Aku lelah
Bolehkah aku mengeluh seperti itu – kali ini saja.?
Tuhan – Aku benci
Bolehkah? Aku kira sakit yang selama ini kupendam bersama bisu bisa mengurai

 
Aku lelah

 
Tuhan aku lelah, benar-benar lelah.
Dan saksikanlah senyum-senyum palsuku.
Betapa aku sangat berusaha menguatkan diriku sendiri.
Tapi Kau maha tahu, semuanya sia-sia.

 
Ada dan ada lagi tingkah yang membuat sesak.
Ada dan ada lagi kata-kata yang menyakitkan hingga relung jiwa.
Dan lagi-lagi aku memendam dendam.
Andai mereka mengerti

 

Aku terluka

Senin, 21 Januari 2013

Cinta :arrow: Bikin logika ngadat
Tanya diri kamu, seberapa benar pernyataan di atas. Atau lihat disekitar kita. Berapa banyak orang-orang disekeliling kita yang melakukan hal bodoh atas nama cinta.

 

Innalillahi...
Allah, Cinta adalah anugerahMu. Tapi kenapa Kau biarkan nalar dan naluri seseorang tenggelam dalam rasa yang bisa saja Kau ubah hanya dalam sekejap.

 

Aku terpekur disudut malam, masih tidak mengerti mengapa cinta sedemikian rupa. :roll:

Coretan Singkat [20-01-2013]

Waktu adalah jarak

kilometer serta dimensi yang membuat kehilangan

Waktu membuat sesuatu berubah dan "berjarak"

Kemudian waktu adalah luka

bagi mereka yang dihantui pengingkaran atas sebuah kehilangan

Sebab waktu adalah dia, Tuhan

Lukisan Hati


23 Desember 2012


Tulisan ini nyangkut di draft, lalu tidak dilanjutkan.. Hihii :mrgreen:




[gallery type="slideshow" ids="4967,4964,4966,4969,4968,4965,4970"]

Hari ini, terimakasih atas torehan kenangan indah yang kalian lukiskan dalam hati ku, dan dalam kepala ini, akan selalu ku ingat dalam benak ini.


Oke, mungkin ini agak berlebihan. Karena kumpul bersama bukan hal baru bagi kita. Tapi, dear. Bagiku hari ini berbeda.
Karena hari ini aku menyadari sesuatu.


Terimakasih atas makan bersamanya, meski Cuma mie goreng doang rasanya nikmat karena kalian. Atas nonton barengnya.
5 CM. , bukan hanya karena Fedi Nuril yang saya sebut “pacar”, tapi lebih pada indahnya Indonesia. Dan tentang suatu ikatan –yang bukan tentang pacar- yang selama ini saya meragukannya, yaitu persahabatan. Tidak ada sahabat bagiku, hanya ada teman dan teman dekat.


Malalui 5cm., saya ingin memperbaikinya. Membuang kekecawaan atas kata "persahabatan" yang sempat membuatku meragukannya.
Buat kalian, kamu, atau siapa saja yang selama ini telah saya kecewakan -tentang persahabatan-, maaf. #Bow

Go Internasional Hanya Dalam 20 Detik Bersama Jejualan[dot]com

Banyak jalan menuju Roma. Tapi kalau jalanmu udah muter-muter namun si Roma masih tak nampak, itu artinya kamu harus ganti haluan. Sama halnya dengan dunia kerja. Pekerjaanmu sangat menyita waktu dan pikiran, tapi gerbang sukses masih tidak menunjukkan tanda-tanda, itu artinya kamu harus mencoba hal baru. Keluar dari zona itu kawan, lawanlah arus. Siapa tahu dimuara kamu bakal nemuin sebongkah emas dan sekarung berlian. Hahhha :mrgreen:


Setelah kamu memutuskan berhenti kerja dengan jam kerja selangit dan kerjaan yang menumpuk, sekarang saatnya mengekspresikan diri. Jangan takut ngga kebagian rizki, karena rizki itu udah ada yang ngatur. Pastinya berbanding lurus dengan usaha kita dong.


Ngomong-ngomong masalah rizki, pintu rizki itu ada 10, dan 9 diantaranya adalah dengan cara jualan. Dan agar jualan kita lebih mendunia, kita perlu kenalan sama yang namanya online shop.


Online shop itu, jualan yang tokonya ada di internet. Kita ngga perlu susah payah sampai terkantuk-kantuk nungguin pembeli, karena dengan online shop pembelilah yang akan menghubungi kita.


Prosesnya gampang banget, sekalil klik langsung jadi.


coba sekarang


Salah satu penyedia jasa pembuatan toko online di Indonesia adalah Jejualan.com, mereka punya aplikasi-aplikasi yang cetar membahana, yang bakal ngejadiin toko onlinemu langsung go internasional  hanya dalam waktu 20 detik. Dan yang ngga kalah menggiurkan, harganya murah banget sobat. Cuma modal 60 ribu/bulan. Bandingkan jika kamu harus nyewa lapak/toko di berbagai pusat perbelanjaan, harganya jauuuhhh...


Ini dia aplikasi-aplikasi cetar membahana yang Jejualan sediakan yang akan membuat sepak terjang tokomu semakin mulus :


 SMS Report


SMS otomatis terkirim ke nomor ponselmu dan ponsel pelanggan tokomu setiap ada transaksi


sms-report


Layanan 24 Jam


Customer support jejualan siap melayani apapun kebutuhanmu


 24jam


Halaman Pertama Google


Toko onlinemu akan berada di halaman pertama hasil pencarian google dengan teknologi SEO jejualan


 seo


Marketing Tools


Toko onlinemu akan lebih sukses dipromosikan dengan marketing tools, seperti kirim newsletter gratis, kampanye promo, kode kupon diskon, dan masih banyak lagi


 marketing-tools


Konsultasi Langsung dengan Pakar Ecommerce


Pakar Ecommerce akan menganalisa dan memberikan masukan untuk memastikan strategi penjualan di tokomu berhasil


 pakar-ecommerce


Terima Pembayaran dari manapun


Tokomu bisa menerima pembayaran melalui transfer bank, Paypal & kartu kredit


 pembayaran(1)


Ongkos Kirim Otomatis


Semua data ongkos kirim dari JNE dan Pos Indonesia akan otomatis tersedia di tokomu


 ongkir(2)


Ratusan Fitur Ecommerce


Daftar sekarang dan dapatkan ratusan fitur ecommerce tercanggih lainnya. Lihat selengkapnya di sini


fitur


 Hanya dalam 20 detik, langsung bisa mulai penjualan online ke seluruh dunia.


Masih ragu? Cobain dulu selama 30 hari, gratis kok


daftar



Pihak Jejualan bisa langsung dihubungi di alamat berikut :




PT JC Indonesia


Jl. Perintis Kemerdekaan 33


Umbulharjo Yogyakarta 55161


Telpon (0274) 415585


Call : 0857 41 444 520
Sms : 0857 30 700 700


Email : sales@jejualan.com



Kita ngga perlu bingung dan pusing ngurusin masalah teknis toko online kita nantinya karena Jejualan[dot]com sudah menyediakan itu semua, gratis. Jejualan[dot]com memberikan pelayanan nonstop 24 jam. Pokoknya kalau ada apa-apa tinggal tanyakan, mereka akan langsung mengatasinya.


Jejualan[dot]com tentunya salah satu solusi bagi kita yang ingin memperoleh pendapatan yang lebih baik. Jaman sekarang lapangan kerja semakin hari semakin berkurang, atau terkadang tidak sesuai dengan kriteria pekerjaan yang kita inginkan. Dari pada pusing, mending jualan online. Jangankan Roma, dengan Jejualan[dot]com ujung dunia saja disulap jadi sejengkal didepan mata.

Siapkah Kita Menjadi Tua

tahapan


Beberapa tahun yang akan datang, aku hanyalah seorang wanita tua. Itupun jika sang kuasa berkenan memberi kesempatan padaku untuk menjadi tua.


Entah mengapa tiba-tiba aku berpikir tentang tua. Hanya saja, rasanya hidup begitu singkat.



Dan betapa tidak bergunanya hidup ini jika kita tidak pernah mau berbagi pada sesama, tidak belajar memperbaiki diri. Mengoreksi diri sendiri merupakan koreksi akurat tanpa cela meski kadang ada pengingkaran akan tetap kita ketahui. Pembohongan terhadap diri sendiri hanya buang-buang waktu.



Bicara tentang tua, aku belum siap untuk menjadi tua, padahal tua itu niscaya. Bukan alasan metropolis yang aku pikirkan melainkan tentang hidup dan mati. Lalu bukan mati yang sedang ku ingkari karena lagi-lagi mati merupakan keniscayaan. Aku belum punya bekal yang mumpuni :’(



Bicara tentang tua, sudah siapkah Anda menjadi tua? :mrgreen:

Galau mungkin hanya sebuah fase. Tapi sungguh, galau bisa saja membunuhmu, mebunuhku dan siapa saja yang tidak punya kendali.

Minggu, 20 Januari 2013

Harmoni Sepi


Jiaaahaha, judulnya semacam cerita opera dan dan puisi cinta.



Bukan, ini tentang shalter busway - Transjakarta. Hari ini shalter induk Harmoni terlihat beda dengan hari-hari biasanya. Berhubung Jakarta masih dalam proses pemulihan banjir dan ada yang masih tergenang banjir, jadi tidak banyak orang yang bepergian meninggalkan rumahnya.


Shalter Induk Harmoni 1


Jadi Harmoni hari ini sepi. Jauh berbeda dengan hari-hari biasanya. Kalau hari biasa, semua armada keseluruh koridor hampir penuh semua. Begitu juga dengan shalter induk Harmoni. Berdesak-desakan hingga terlihat seperti lautan manusia. Kadang sering sikut-sikutan, dorong-dorongan, dan kadang ada yang pingsan karena tidak kuat ngantri dengan udara seadanya-pengap.


Suasana pagi ini benar-benar jauh berbeda.


Shalter Induk Harmoni

100 Blogger Nonton Bareng IMB - Sejenak Namun Berkesan

Hari itu ku jelang dengan senang. Bagaimana tidak, dari sekian banyak blogger yang ingin memiliki kesempatan langka nan istimewa itu namaku nyempil diantara penghabisan abjad "A" tepat sebelum abjad "B" dimulai. Dari 18 nama dengan abjad "A", namaku nyelip sebagai "si bungsu".. Haha

Tadinya ngga ngeh kalau namaku muncul dalam pengumuman disini karena undangan belum dikirim via email. Beruntung ada seorang peserta memberitahuku dan ngajak bareng, supaya pas disana ngga bengong dan palangak-pelongok sendiri.
Bincang bincang, lalu kami putuskan untuk bertemu langsung di tempat, sekitar jam 2 siang. Itu artinya aku harus berangkat dari tempat kerja sekitar jam 12-an. Tapi, apalah daya - izin tak bisa ku kantongi.

Kecewa dan agak terpukul sebenarnya. "Apakah seharusnya ku utarakan alasan yang tidak berhubungan dengan apa yang sebenarnya ingin kulakukan? Tapi jika demikian, artinya aku berbohong, tidak, aku tidak ingin berbohong”, perang dalam batinku mendadak bergejolak.

Ingin rasanya marah dan teriak sekencang-kencangnya. Mengapa mereka tidak memberi izin, mengapa memaksa karyawan untuk tetap masuk padahal hari sabtu begini tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan. Jika diliburkan, setidaknya kantor menghemat listrik, tidak buang-buang Watt secara percuma. Tapi siapalah aku untuk didengarkan. (⌣́_⌣̀)

Blogger, mungkin bagi sebagian orang tidak ada arti apa-apa. Tentu saja tidak ada artinya bagi mereka yang tidak menekuninya.
Andai mereka tahu betapa nikmatnya proses menjadi blogger. 
Dari hanya sekedar membuat akun, lalu begadang bermalam-malam hanya untuk mempercantik tampilan, menyesuaikan thema dan widget yang menarik dan utak-atik sana-sini. Poin terpentingnya adalah bahwa menumpahkan isi kepala dan hati dalam bentuk  tulisan merupakan sebuah kepuasan tersendiri terlepas menarik atau tidaknya artikel yang ditulis.

Kucoba menahan amarah dan menjernihkan pikiran. Oke, setidaknya aku sudah berjanji untuk datang, dan janji adalah janji. Ini acara kumpul blogger pertama yang kuikuti, aku harus tetap datang. Aku ingin punya dunia baru, dunia yang tidak hanya ini dan ini lagi. Akhirnya aku minta tolong ke teman yang sudah disana untuk menginformasikan keterlambatanku pada pihak panitia.

Tepat jam 3 sore, tidak ada kompromi - aku langsung meluncur. Kucuran hujan tidak menyurutkan niatku, aku benar-benar tidak ingin melewatkan kesempatan ini, sekecil apapun peluangnya.
Sesampainya diseberang gedung TRANS TV aku sempat tertegun, akhirnya sampai jugaaa. :D

Lalu tertegun lagi,

Tertegun...

Terteguuunnnn.

Terteeeguunn.~~~

~~~~~~~

~~

Gak berani nyebrang sodara-sodara.. :mrgreen:

Ya sudah, dari pada membahayakan diri sendiri mending ngambil jalan memutar. Eeehh hampir salah, malah mau masuk gedung Mandiri.. (¬˛¬)

Finally, nyampe. Setelah tanya sana-sini, dan mungkin panitia kasihan melihatku yang agak basah, dengan bibir membiru kedinginan bercampur tegang #Jiahhaha---lebayy#, diantarlah ke suatu ruangan yang didalamnya sudah ada berbagai macam spesies manusia dengan tingkah dan watak yang bervariasi. Sayangnya ngga sempat say hi sama peserta yang lain – nasib orang telat.



Inilah kesempatan yang bisa aku dapatkan seandainya ngga telat:

Bisa berdiskusi langsung dengan mas Sulistyo Hadi - Supervisor Marketing PR TRANS TV, mas Tegar Bangun - Produser IMB dan mas  Teuku Muda - Kreatif program IMB bahkan bertemu langsung dengan beberapa finalis IMB yaitu Yohanna Harso, Sandrina Mayaza Azzahra dan Ardhy Dwiki Friananta.


Didalam langsung registrasi, dikasih makan dan dikasih cidera mata gelang karet (yang rupanya satu-satunya barang yang bisa kujadikan kenang-kenangan  dari acara kali ini. Dan berhubung waktu yang tidak memungkinkan, aku tidak bisa menikmati sajian perbaikan gizi dari panitia #maklum anak kost*_*#

Ku ikuti sisa acara dengan antusias, beruntung masih bisa mengikuti sesi terakhir yaitu menuliskan kejadian hari itu dalam waktu 5 menit. Awalnya bingung mau ngapain, lha wong baru nyampe, tapi yang lain udah pada krasak-krusuk.
5 menit berlalu, waktunya membacakan karya instan tersebut. Dipilihlah 3 orang beruntung untuk membacakan karyanya, dan mereka berhak membawa pulang seperangkat alat sholat dibayar tunai.. #nahh lho,ngaco.. :D

Selanjutnya bikin poto keluarga :

Poto keluarga..hahhha Dok : Blogdetik[/caption]

Berhubung IMBnya sudah mau mulai, saatnya masuk ruangan konser.
Rupanya ada tante KD sedang cek sound, awalnya agak ngga percaya kalau yang lagi di panggung itu KD, setelah mata dibuka lebih lebar, ehh ternyata iyaaa..

Disini para blogger diberi kesempatan untuk melihat seperti apa sih kegiatan dibelakang layar sebelum on air, apalagi ini acara live. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun. Semua harus sempurna. Woowww..
Benar-benar pengalaman baru bagiku.
Setelah semuanya siap acarapun dimulai.
Dewan juri mengambil tempat masing-masing, ada tante Tisu alias Titi Sjuman, om Adi Ms, tante Soimah Pancawati dan sang mentalis Indonesia, dialah Deddy Corbuzier. Tidak lupa si pembawa acar kita yang tampan yaitu Ananda Omes. :D

Acara dibuka dengan penampilan kolaborasi apik dari para kontestan. Dengan alunan lagu khas Indonesia yaitu dangdut. Penampilan Kontestan :

1. Josua Pangaribuan
Kontestan ini berasal dari Sumatera Utara, umurnya baru 14 tahun. Kali ini  Joshua berkolaborasi dengan tante KD membawakan tembang kenangan yang sempat dipopulerkannya bersama Om Anang, makin aku cinta.

Wajar saja Josua masih bertahan hingga sekarang, suaranya bikin gemetar, padahal masih terbilang kecil. Artinya si Josua ini masih bisa diasah dan diasah lagi kemampuannya.

2. Sandrina Mazaya
Peserta IMB 3 yang satu ini terbilang masih cilik tenan, tapi kemampuan tarinya luar biasa, terutama penguasaan berbagai tarian daerah Indonesia.
Salut, anak sekecil ini mampu menumbuhkan rasa nasionalisme penduduk Indonesia lewat tariannya. Anaknya ngegemesin dan imut-imut banget ;)

3. Yohanna Harso
Disini dia fokus di pole dance. Tak banyak yang tahu apa itu pole dance. berangkat dari situlah Hanna bermimpi memperkenalkan Pole Dance ini pada masyarakat Indonesia. Penampilannya bikin terpukau. Badannya itu lho lentur banget, ngga takut patah apa ya.

4. Ardhy Dwiki F
Fokus pada dance modern/hip-hop, anak muda banget dah. Selain karena itu, tampang doi juga mendukung banget untuk digilai banyak cewek. Nah lhooo, hati-hati buat sang pacar supaya tahan banting dan ngga cemburuan.
Konsepnya minggu kemarin keren, nyambung antara gerak dan cerita yang ingin dibangun.

5. Vina Candrawati
Thanks to TRANS TV yang mengangkat bakat ini, belum banyak rakyat Indonesia yang mengenal dan tahu tentang seni lukis pasir. Saya sendiri cuma tau sekilas, karena secara tidak sengaja pernah baca tentang seni lukis pasir.Dalam penampilan kali ini Vina membuat terobosan baru, Vina tampil dengan lukisan glitter. #seorang pelukis selalu mengagumkan bagiku#

Terobosannya bagus, hanya saja narasi yang diperdengarkan sebagai backsoundnya menurutku agak ngga nyambung dengan temanya.

6.  Galabby Thahira P
Dari awal pembukaan dia sudah mencuri perhatianku. Suaranya aduhai dan kontrolnya lumayan bagus, jauuuuhhh diatas saya #yaiyalah,kan ga bisa nyanyi..
Konsepnya bagus, berasa lagi nonton konser penyanyi profesional. Cetarrr membahanaaa :mrgreen:  Waktu tampilnya terasa begitu cepat, pengen lagi dan lagi.

7. Street Pass Junior
Agak surprise waktu mereka mengungkapkan konsepnya. Sailermoon. Kartun kesukaanku jaman baheula.
Kontestan ini berjumlah 7 orang. Mereka terlihat lucu dengan konsep tersebut. Seperti melihat tokoh sailermoon secara nyata, mulai dari pakaian,sepatu, sampai hiasan kepala.

[gallery type="slideshow" ids="4921,4895,4894,4896,4897,4898,4899,4900,4901,4902,4903,4904,4905,4906,4907,4908,4909,4910,4911,4912,4913,4914,4915,4916,4917,4918,4919,4920"]
___

Tidak terasa sudah waktunya bubar, 2 jam rasanya berlalu terlalu cepat.
Acara ini begitu hidup dengan banyolan-banyolan para juri dan sang pembawa acara.

Oya, selama acara, sempat beberapa kali menggunakan kembang api. Asap dan bau yang menyengat bikin susah nafas. Wajar perayaan tahun baru di bunderan HI kemarin menelan korban jiwa. Di acara nobar ini, petasannya ngga terlalu banyak saja sudah bikin susah nafas, sedangkan di perayaan tahun  baru kemarin petasannya seabarek-abrek, ditambah lautan manusia dan saling berdesak-desakkan.
Akhir kata, kami pun bubar. Tadinya aku berharap diacara pembubaran ini ada omongan atau apa gitu ya, ngga taunya langsung bubar jalan. Wajar sih, karena diakhir acara, kru dan panitia langsung mengadakan meeting ditempat untuk evaluasi siaran.
Blogger yang lain juga mungkin sedang terburu-buru. Semoga suatu saat ada waktu yang lebih memungkinkan bagi para blogger untuk beramah-tamah antara satu dengan yang lainnya, tidak terpisah berdasarkan kelompok  dan komunitas tertentu.

Over all, acara ini sangat menarik, dan istimewa bagiku pribadi. Karena ini acara kumpul blogger pertamaku dan TRANS TV merupakan stasiun tv nasional pertama yang aku kunjungi, padahal sudah 5 tahun tinggal di Jakarta. ;)
So, i'm so thankful buat blogdetik dan transtv, transmania juga susu zee yang telah mengadakan acara 100 Blogger Nonton Bareng IMB pada tanggal 12 Januari 2013 kemarin.

Dapat  pengalaman dan wawasan baru, teman-teman baru dan harapan baru. Semoga acara ini dapat jadi pemicu bagiku untuk lebih aktif lagi didunia blogger dan tulis menulis, terimakasih telah berbagi semangat. Acara ini memang sejenak, namun berkesan dan tak terlupa.

Berikut galeri photo yang berhasil diabadikan via Blogdetik :


[gallery type="slideshow" ids="4869,4891,4885,4887,4890,4892,4870,4871,4872,4877,4868,4873,4876,4875,4879,4878"]

Temaram Senja

magic_lily_free_windows_7_wallpapers.jpg


There is Dust
There is Gold

Tapi hei ini bukan bubuk emas
Melainkan semburat jingga yang dilepas sang mentari - menjelang senja

Disana sang mentari mengintip malu
atau sebagai bentuk sopan santunnya untuk tak membakar dalam terik
Indah

Ada damai yang mengalir bersama senja kali ini
Senja yang mengantarkan malam
Bukan karena sekarang menuju malam minggu
Tidak
Bagi ku semua malam sama saja

Malam minggu bagiku alarm kebebasan
Sebagaimana senja mengabarkan kebebasan bagi sang mentari - meski sebenarnya mentari tidak pernah benar-benar istirahat.

Senja mengabarkan hari baru, nafas baru dan harapan baru
Demikian aku merengkuh pengertian damai pada senja kali ini.

Sabtu, 19 Januari 2013

Peniti atau Jarum Pentul

Pagi ini cerah. Thankss god for shining the sun today. #Bener ngga ya bahasa linggisku..# :mrgreen:





Akupun memulai hari ini dengan semangat walaupun kepala agak keleyengan gara-gara begadang tadi malam.

Syalalala..
Tiba waktunya memakai jilbab. Masalahpun mulai muncul. Tidak ada jarum pentul ditempat biasa aku meletakkannya. Didalam loker kecil juga rupanya sudah tidak ada.
Nahh lhooo..,kok bisa...
Entahlah, tidak usah dibahas kemana jarum-jarum itu menghilang, atau mungkin tiba-tiba mereka punya sayap dan kaki. :O

..."Lo pake peniti ya jilbabnya. Emang ngga takut ketusuk? Hiii.. Kalau gua sih ngeri"...

Tadinya sudah pasrah, dililitin saja seadanya. Tapi alhamdulillah nemu peniti.
Masalahnya aku tidak bisa dan tidak biasa pake peniti. Alhasil rutinitas mamakai jilbabpun jadi lebih lama dari biasanya. Setelah merem-melek dan hampir ketusuk, akhirnya bisa juga. Fiiuuuhh legaaa

Kejadian peniti pagi ini langsung mengingatkanku dengan ocehan salah seorang teman. "Lo pake jarum ya jilbabnya. Emang ngga takut ketusuk? Hiii.. Kalau gua sih ngeri".
Kujawab seadanya "biasa aja kok, ngga takut, lagian ngga mungkin ketusuk kalau kita hati-hati".
Benar saja, selama ini aku sudah terbiasa menggunakan jarum pentul, dan ketika keadaan memaksaku menggunakan peniti, rasanya jadi lebih ribet. Kita harus pandai memasangnya supaya tidak kendur.

Kalau teman-teman sendiri lebih memilih pake jarum pentul atau peniti nih.?
Oya, gara-gara insiden peniti pagi ini aku harus rela telat berangkat kerja. #Sebenarnya sih memang sudah kesiangan:mrgreen:

====

Sumber gambar : As taged

Kamis, 17 Januari 2013

Kiriman Yang Tak dapat Ditolak

[caption id="attachment_4847" align="aligncenter" width="550"]photo-banjir-Jakarta. artikel.majlisasmanabawi.net Source as taged[/caption]

Umumnya kita senang ketika dapet paket kiriman, isinya pasti sesuatu, dan rata-rata sesuatu itu menyenangkan. Ada yang dapat bingkisan kado, ada yang dapat kiriman dari kampung, sekedar sepotong rendang kering sebagai penawar rindu pada kampung halaman dan hadai taulan.


Tapi kiriman yang satu ini selalu menakutkan. Datangnya kadang tak bisa diprediksi. Bagaimana tidak menakutkan, kiriman ini selalu bikin repot, apalagi kalau kirimannya dalam jumlah besar, semua orang dibikinnya jadi kalang kabut. Dialah banjir Jakarta.


Berhubung Jakarta memiliki posisi yang rendah, maka otomatis air hujan dari hulu tumpahnya ke Jakarta. Banyak solusi yang telah dilakukan, tapi hasilnya tidak maksimal. Banjir masih datang dan datang lagi, rupanya banjir telah jatuh cinta pada kesemrawutan Jakarta tercinta ini.


Kiriman ini tidak bisa ditolak. Akibatnya sebagian wilayah Jakarta terendam banjir. Banyak warga yang terpaksa diungsikan, bahkan sudah ada beberapa korban jiwa.


Semoga bencana ini cepat berlalu, dan kita semua bisa beraktifitas normal sebagaimana biasanya.

Bumbu-bumbu Banjir

[caption id="attachment_4847" align="aligncenter" width="550"]photo-banjir-Jakarta. artikel.majlisasmanabawi.net Source as taged[/caption]

Banjir hari ini diwarnai oleh penyebaran hoax via bbm.


Bunyinya begini:


"Pukul 06.30 WIB, di stasiun tvOne Gubernur Joko Widodo menetapkan 'hari ini adalah hari cuti bersama untuk wilayah DKI Jakarta' karena lumpuhnya sejumlah ruas jalan di Jakarta." Bunyinya begini: "Pukul 06.30 WIB, di stasiun tvOne Gubernur Joko Widodo menetapkan 'hari ini adalah hari cuti bersama untuk wilayah DKI Jakarta' karena lumpuhnya sejumlah ruas jalan di Jakarta."


Saya yang tadinya sudah siap berangkat kerja girang alang kepalang. Yaaayyy... ngga perlu basah-basahan menerjang hujan dan banjir. Apalah daya, rupanya pesan berantai itu cuman hoax yang dihebuskan oleh orang-orang tak bertanggung jawab.


Entah apa modusnya. Dunia politikkan memang area yang manis buat sikut-sikutan.. hihhi.


Ada yang memanfatkan situasi ini untuk mengangkat pamor golongan tertentu. memberikan bantuan agar diliput media, supaya masyarakat tahu bahwa mereka peduli. Kalau saya pribadi sih tidak ambil pusing dengan modus tersebut, yang penting ada bantuan. Kalau mereka punya maksud terselubung itu urusan mereka, lagipula masyarakat sekarang tidak bodoh. Jadi silahkan saja, partai-partai yang mau pamer, keluarkan semua anggaran kalian.. Hahhhhaa..


Banyak sekali yang membumbui musibah ini, ada yang secara sengaja mengangkat isu banjir untuk saling menjatuhkan.


“Buka mata kalian wahai para penggemar Jokowi. Orang yang kalian agung-agungkan tidak bisa mengatasi banjir Jakarta!!”.


Nah lhoo.. kok..?? geli aja ngeliatnya. Ckck.


Banjir dan macetnya Jakarta itu tidak hanya tanggung jawab gubernur tapi tanggungjawab semua elemen yang ada didalam lingkungan tersebut. Sudah dibilang jangan buang sampah sembarang, sampah-sampah itu menyumbat saluran pembuangan, akhirnyakan air hujan yang tak tertampung itu menggenangi pemukiman.


Dibilangin jangan tinggal disekitar banteran kali, malah ngeyel. Direlokasi malah ngga mau. Lha terus maunya apa ya.?


Semoga ada perubahan yang signifikan buat kita semua, mari menumbuhkan kesadaran itu mulai dari diri kita masing-masing.


Selamat siang.




Oya, akhirnya hari ini saya ngga masuk kerja. Genangan air dimana-mana, didepan kantor juga katanya tergenang. Tadi sudah dapat konfirmasi dari teman, si bos membolehkan karyawannya ngga masuk hari ini. Semoga gaji ngga dipotong. Hohhooo..


Belajar dari Banjir

[caption id="attachment_4847" align="aligncenter" width="550"]photo-banjir-Jakarta. artikel.majlisasmanabawi.net Source as taged[/caption]


Banjirr... banjirrr...


Satu kata itu tiba-tiba jado koor yang begitu merdu, tidak hanya bagi masyarakat Jakarta yang notabanenya sebagai korban, tapi teriakan dari teman-teman dari kota lain yang menyuarakan kekhawatiran pada saudara-saudaranya yang di jakarta.


Hampir semua ruas jalan Jakarta sudah tergenang banjir, tidak lagi bisa dilewati oleh kendaraan. Kalau satu dan dua hari yang lalu banjir sudah menggenangi daerah yang memang rawan banjir, pagi ini hampir seluruh Jakarta tergenang banjir. Owhh Tuhaaann..


Ada beberapa faktor yang menyebabkan Jakarta jadi daerah langganan banjir,


Pertama, warganya yang masih juga tidak mengerti bagaimana menjaga lingkungannya dari sampah. Membuang sampah sembarangan, disaluran air. Buang sampah sembarangan ini tidak hanya menyebabkan tersumbatnya aliran air, tapi juga mengotori pemandangan, ngga keren banget dah – Ibu kota negara – tapi sampahnya dimana-mana.


Kedua, karena semakin tahun tanah Jakarta semakin menurun, semakin merendah hingga aliran pembuangan air sama tingginya dengan pemukiman warga. Semakin berkurang lahan resapan, digantikan dengan gedung-gedung pencakar langit yang tidak ramah lingkungan membuat proses ini semakin komplit.


Ketiga, curah hujan yang memang intens. Pagi ini, mulai dari tadi malam sebenarnya, hujannya secara intens mengucur dengan sangat deras, merata. Daerah resapan tidak mampu menampung luapan air hujan sebanyak itu, akhirnya meluber ke jalanan dan pemukiman warga.


Informasi mengejutkan datang dari kakak saya pagi ini. Kebetulan dia berangkat kerja duluan. “Dek, ngga usah kerja. Banjir”.


Saya tahu untuk saat sekarang banjir itu pasti, tapi saya tidak yakin kalau Salemba yang selama ini saya tahu sebagai daerah aman dari banjir ternyata dapat jatah. “Banjir dimana?”, tanyaku.


“Banjir di Salemba, jalanan tergenang, udah ga bisa lewat. Ngga usah kerja”, sekali lagi dia meyakinkanku.


Huuhh... Banjir


Semua orang pasti setuju bahwa hujan adalah anugerah. Dan tentu tidak ada satu orangpun yang sanggup menghalangi turunnya hujan. Setidaknya hujan mengajarkan kita tentang sesuatu. Agar kita lebih menjaga lingkungan sekitar, agar kita belajar untuk saling peduli dan respek terhadap musibah yang dialami orang lain.


Semoga kita belajar. Semoga banjirnya cepat surut supaya kita bisa beraktifitas normal sebagaimana biasanya. Aamiin J

Selasa, 01 Januari 2013

Resensi Film Soe Hok Gie dan Lirik Lagu "Donna Donna"


Akhirnya nemu peresensi yang mumpuni untuk film ini, Thanks buat mas Jay alias mas Yulian :D . Saya numpang share resensiannya.



[caption id="attachment_4823" align="aligncenter" width="645"]soe hok gie Source : http://justforsoehokgie.tumblr.com/
Thanks ^_^[/caption]

 


Setelah menulis tentang Soe Hok Gie akhir tahun lalu sebagai rasa hormat saya atas buah pikirannya, akhirnya saya menonton juga film Gie yang dibuat oleh Miles Production. To the point saja, apa yang tertulis dalam buku “Catatan Seorang Demonstran” selain buku “Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”, “Zaman Peralihan” dan ulasan “John Maxwell: Soe Hok Gie – Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani” tidaklah cukup dipadatkan dalam sebuah film berdurasi dua jam.


Mari kita bicara hal teknis dulu. Film ini diproduksi ke dalam layar lebar seluloid dengan tata suara yang tak yakin terdengar stereo. Saya tak tahu apakah memang sulit melakukan mixing 4 kanal suara (surround, center dan subwoofer bisa virtual dari filtering kiri/kanan)? Kecuali pada saat syuting dan editing input suara memang hanya sedikit, jadi sayang kualitas teater dengan tata suara DTS tidak terpakai.


Okelah, mungkin tata suara surround terlalu canggih, saya lihat sistem stereonya saja, di banyak adegan sering terjadi tumpang tindih, narasi bertabrakan dengan backsound hingga saya sulit mendengar, terkadang backsound volumenya terlalu kencang dibandingkan narasi atau dialog. Saya tidak tahu ini kesalahan di tata suara teater ataukah memang dari seluloidnya seperti itu.


Ah, ngejelekkin mulu! Film ini dikemas dengan setting yang baik, meskipun saya tidak tahu persis seperti apa kondisi jalan, rumah, pakaian, budaya dan tata bahasa tahun 1950-an hingga akhir 1960-an. Hanya para orang tua kita yang bisa mengkonfirmasikan apakah benar Jakarta pada tahun itu kata-kata ‘gue’ dan ‘lu’ sudah sangat membudaya? Apakah benar tahun tersebut sudah ada jam tangan bulat tipis yang dipakai Gie? Orang tua saya dulu tidak tinggal di Jakarta, jadi saya tidak ada tempat bertanya. Eh, anak Betawi yang bonyoknya lama di Jakarta kasih tahu gue ye!


Diawali dengan narasi Gie yang datar seperti seseorang bercerita kepada anak kecil mulai mendeskripsikan siapa itu Soe Hok Gie, pikirannya, keluarganya dan lingkungannya. Dialog dan adegan perlahan-lahan ditunjukkan untuk menampilkan character development Gie dari sejak SMP hingga masuk Kolese Kanisius. Satu yang tak saya suka adalah pergantian adegan ke adegan diselingi layar hitam selama beberapa detik, buat saya ini cukup mengganggu. Dalam menonton film di bioskop mata dan telinga saya tak butuh istirahat, atau menghela nafas sejenak.


Memasuki Fakultas Sastra UI karakter Gie semakin ditunjukkan penuh konflik, ketidakpuasannya terhadap pemerintahan, keprihatinannya kepada masyarakat, pandangannya kepada perempuan, bahkan kepada pola dan budaya kemahasiswaan di kampusnya. Gie memang tak mau menjadi top leader di kampusnya namun ia punya dukungan penuh kepada sahabatnya Herman Lantang, yang selain aktif bersama di kemahasiswaan juga bersama-sama membentuk organisasi hobi yang waktu itu bisa dikatakan gila di jaman revolusi, yaitu naik gunung.


Jika anda membaca Catatan Seorang Demonstran tentu anda berharap adegan-adegan demonstrasi yang dimotori oleh Gie dan sahabat-sahabatnya, bahkan cukup detil dituliskan dalam catatan hariannya. Memang tidak banyak ditunjukkan dan saya sempat berpikir bahwa film ini akan menyodorkan bagaimana proses sebuah demonstrasi mahasiswa disiapkan secara teknis dan nonteknisnya, saya tak berharap ada adegan demonstrasi kolosal yang mahal. Di sisi lain kegiatan hobinya naik gunung kurang ditunjukkan, sebab saya ingin tahu pada tahun itu seperti apa mereka menyiapkan peralatan naik gunung yang tentunya tak mudah didapatkan seperti sekarang, dan hal ini ada penjelasannya di buku CSD.


Di film ini cakrawala lebar hanya bisa anda dapatkan dalam setting di gunung, termasuk di padang Edelweiss (padang Suryakencana kalau tidak salah namanya) Gunung Gede dan puncak triangulasi Gunung Pangrango (saya pernah duduk juga di puncak Pangrango tersebut dan tidur di kelilingi bunga Edelweiss yang berlimpah), sedangkan di kota hanyalah sudut-sudut kamera sempit namun cukup tertata dalam menggambarkan suasana kota lama Jakarta.


Satu yang kurang dari film ini adalah Gie pernah melakukan perjalanan ke luar negeri yaitu ke Amerika dan ke Australia di tahun 1968, setahun sebelum Mapala UI menyiapkan pendakian ke puncak tertinggi di pulau Jawa yaitu gunung Semeru, namun tidak ada deskripsi atau adegan tentang hal ini, memang cukup mengecewakan, namun bisa dimengerti jika alasannya adalah sulit dan mahalnya pengambilan gambar. Salah satu catatannya selama ke Australia adalah piringan hitam Joan Baez-nya ditahan di bandara. Di waktu sebelumnya Sita menyanyikan lagu Donna Donna Donna dengan apik, bahkan cukup menyayat hati mendengar kembali lagu tersebut di film Gie. Lagu “Donna Donna Donna” dulu saya dengarkan sambil membaca buku CSD, yang cukup memengaruhi saya menyukai lagu-lagu Joan Baez yang lain, terutama lagu Diamond and Rust (1975).


Donna Donna Donna
oleh Joan Baez

On a wagon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky.


How the winds are laughing,
they laugh with all their might.
Laugh and laugh the whole day through,
and half the summer's night.


(Chorus)
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.
Donna, Donna, Donna, Donna;
Donna, Donna, Donna, Don.


"Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be?
Why don`t you have wings to fly with,
like the swallow so proud and free?“

(back to Chorus)

Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly.

(back to Chorus)

Lirik Ost Gie

Gie
====
Sampaikanlah pada ibuku
Aku pulang terlambat waktu
Ku akan menaklukkan malam
dengan jalan pikiranku


Sampaikanlah pada bapakku
aku mencari jalan atas semua
keresahan-keresahan ini
kegelisahan manusia


malam yang dingin...


(Chorus)
Tak pernah berhenti berjuang
Pecahkan teka teki malam
Tak pernah berhenti berjuang
Pecahkan teka teki keadilan


Berbagi waktu dengan alam
Kau akan tahu siapa dirimu
Yang sebenarnya
Hakikat manusia

(back to Chorus)


Akan aku telusuri
Jalan yang setapak ini
Semoga kutemukan jawaban
============== 




[caption id="attachment_4823" align="alignnone" width="645"]soe hok gie Source : http://justforsoehokgie.tumblr.com/
Thanks ^_^[/caption]

Cuplikan dari lirik lagu berjudul Gie yang ditulis Eross bercerita tentang sosok Gie, seorang aktivis angkatan ’60 yang semangat juangnya selalu menjadi sumber inspirasi. “Aku dapat inspirasi liriknya setelah baca skrip yang disodorkan oleh Mbak Mira. Tapi sebelumnya aku juga sudah kenal sosok Gie ini lewat buku-buku yang menuliskan perjalanan hidupnya,” tutur Eross.


Lagu berjudul Gie tersebut dinyanyikan oleh Okta, seniman yang sudah lama bermukim di kota Yogya. Buat Okta yang pernah berduet dengan Lea, membawakan lagu karya Eross adalah suatu kehormatan apalagi lagu yang dinyanyikan ini merupakan soundtrack dari sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Tak hanya di lagu Gie, Okta juga mengisi vokal pada lagu Cahaya Bulan yang juga besutan Eross.


GIE adalah film layar lebar yang diangkat dari kisah nyata Soe Hok Gie, mahasiswa yang kritis terhadap kebijaksanaan pemerintah di tahun 60-an. Tak lengkap rasanya bila menonton filmnya tanpa menikmati lagu-lagu yang ikut tersaji didalamnya. Beberapa tembang lawas di hadirkan dalam suasana segar disini. Tak asal comot, karena lagu-lagu disini merupakan lagu yang lagi ngetop pada tahun ‘60an. Sebut saja karya penting Bob Dylan Like A Rolling Stone yang di cover oleh Speaker 1st dengan menggaet vokalis sangar Andy /rif. Lalu ada tembang favorit Gie berjudul Donna Donna milik Joan Baez yang dibawakan kembali lewat tarik suara Sita RSD.

Dari dalam negeri pun turut hadir sederet tembang lagendaris yaitu Dimana Dia dibawakan oleh Tetty Kadi, Terombang Penantian oleh Titiek Puspa dan Badai Selatan oleh Agus Wisman. Melalui tangan dingin Andi Rianto ketiga lagu itu digarap menjadi bernuansa modern tanpa meninggalkan ruh aslinya.

Selain Gie ada 2 buah lagu baru. Mr. Ego besutan Speaker 1st dan Cahaya Bulan besutan Eross. Keduanya merupakan karya dari para anak muda yang mengenal sosok Gie lewat tulisan-tulisan otobiografi maupun buah pikir Gie yang telah dibukukan dan ini membuktikan bahwa semangat juang Gie masih terus lestari hingga saat ini.

Di album ini jangan lewatkan juga penampilan Nicholas Saputra membawakan sebuah puisi Gie. Dengan berlatar dentingan ballad Cahaya Bulan tanpa nyanyian, telah berhasil menerjemahkan cita-cita Gie yang tersirat lewat puisinya dalam nuansa romantisme seorang aktivis.

[Diambil dari sini]

Tracklist OST. GIE

[caption id="attachment_4823" align="aligncenter" width="645"]soe hok gie Source : http://justforsoehokgie.tumblr.com/
Thanks ^_^[/caption]


1.       CAHAYA BULAN / Eross SO7 & Okta


2.       GIE / Eross SO7 & Okta

3.       LIKE A ROLLING STONE / SPEAKER 1ST  feat Andy RIF,

4.       DONNA DONNA / Sita RSD/ Arr. Tohpati

5.       MR EGO / SPEAKER 1ST

6.       BADAI SELATAN / Agus Wisman / Andi R

7.       TEROMBANG DI PENANTIAN / Titiek Puspa / Arr. Andi R

8.       NURLELA / Deny Wong 7/ Bing Slamet / Arr. Irwan S

9.       DI MANA DIA / Tetty Kadi / Arr. Andi R

10.  PUISI  (CAHAYA BULAN) / Nicholas Saputra

[Klik untuk Sumber]

Gie on Movie

Miles Films meluncurkan film terbarunya berjudul “GIE”. Film yang diangkat dari kisah nyata kehidupan Soe Hok Gie, aktivis angkatan ’66 ini merupakan film paling besar yang pernah dibuat oleh generasi baru perfilman Indonesia. Setelah melalui masa pembuatan yang sangat panjang, mencapai 3½ tahun, film ini akhirnya akan beredar serentak di 30 bioskop do 10 kota besar di Indonesia mulai tanggal 14 Juli 2005.

Proses syuting GIE yang berdurasi 147 menit ini memakan waktu total 4 bulan dan rampung pada Agustus 2004 lalu dengan mengambil lokasi di Jakarta, Semarang, Jogjakarta, kaki gunung Merapi, puncak Pangrango dan lembah Mandalawangi. Proses mixing-nya sendiri dilakukan di Bangkok, Thailand. Film yang menghabiskan biaya produksi sebesar Rp. 7 miliar ini melibatkan lebih dari 2500 orang pemain, extras dan crew.

GIE dibintangi antara lain oleh Nicholas Saputra (sebagai Soe Hok Gie), Sita Nursanti, Lukman Sardi, Indra Birowo,  Thomas Nawilis dan Wulan Guritno, disutradarai oleh Riri Riza dibantu sejumlah nama yang tidak asing lagi di dunia film, antara lain: Yudi Datau (DoP), Iri Supit (Art Director), Thoersi Argeswara (Music Director) dan Sastha Sunu (Editor). Selain wajah-wajah lama, film GIE juga diramaikan oleh kemunculan muka-muka baru seperti Jonathan Mulia (sebagai Soe Hok Gie remaja), Cristian Audy dan Donny Alamsyah.

Dengan setting tahun 60-an, GIE berlatar belakang kehidupan sosial politik. Berkisah tentang sepak terjang Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa UI berdarah Tionghoa yanhg sangat peduli terhadap issue-issue sosial dan politik. Banyak pemikiran–pemikiran mengenai ketidakadilan, penyelewengan kekuasaan dan seputarnya lahir dari sosok sederhana ini.


[gallery type="slideshow" ids="4829,4828,4827,4826,4825,4822,4823"]

“Film GIE adalah sebuah film yang berfokus pada seorang karakter yang pernah hidup di sebuah masa yang bisa dibilang paling penting dalam sejarah modern Indonesia dan ia mencatat pergolakan pikiran, perasaan, dan situasi-situasi yang terjadi di sekelilingnya melalui sebuah catatan harian,” jelas Riri.
Proses perjalanan GIE sampai akhirnya diluncurkan memang panjang. Menurut Mira Lesmana, produser GIE, dalam mengerjakan proyek sebesar GIE memang tidak bisa dilakukan terburu-buru. “Karena itu kami harus benar-benar intensif melakukan persiapan, mulai dari segi artistik, peralatan sampai para pemain,” katanya. “Belum lagi proses syutingnya yang tidak mudah, benar-benar berat medannya,” tambah Mira.

Setelah melalui perjalanan yang demikian panjang, Mira berharap, generasi muda yg menonton film ini melihat betapa pentingnya memiliki sikap dan kejujuran seperti Gie. “Setiap manusia punya hati nurani yang kadang-kadang dengan segala permasalahan hidup, ia tidak bicara lagi pada kita. Sosok Gie ibarat lonceng yang mengingatkan kita saat terjadi sesuatu yang salah. Lebih jauh lagi, ada elemen-elemen kemanusiaan yg mungkin kita lupakan dan ini bisa kita temukan dalam film GIE,” urai Mira.

Untuk memerankan sosok Gie terpilihlah aktor muda berbakat, Nicholas Saputra. Nicholas sempat bertanya-tanya sendiri kenapa ia yang terpilih dari sekian banyak kandidat lain. “Saya bukan keturunan Cina dan secara fisik berbeda. Tapi kemudian Mas Riri dan Mbak Mira menjelaskan panjang lebar dan akhirnya saya ngerti dan yakin untuk menjalaninya,” katanya.

Riri menjelaskan, terpilihnya Nicholas sebagai Soe Hok Gie merupakan pilihan terbaik yang mereka dapatkan. “Setelah melalui serangkaian proses casting, He is the best that we have. Ketika kami melakukan tes, audisi dan semacam simulasi, terlihat jelas kalau Nicholas sangat menonjol dan paling mendekati karakter Soe Hok Gie dibandingkan kandidat yang lain. Sebagai seorang pribadi, dia juga memiliki kegelisahan yang sama dan bisa saya rasakan jelas. Hal ini tentunya sangat membantu untuk masuk ke dalam karakter Gie,” jelas Riri.

Mira pun sependapat dengan Riri. “Mungkin akan ada pro dan kontra, tapi itu hal biasa. Nicholas memang excellent. Jadi kalau sampai Nicholas yang terpilih untuk peran ini, bukan salah dia. Tidak bisa dipungkiri, he’s definitely the one!” seru Mira.

Nicholas sendiri berharap film GIE bisa memberikan nafas baru bagi penonton Indonesia, khususnya remaja dan mahasiswa. “Mereka seharusnya punya sikap politik yang jelas atas berbagai kesadaran dan pengetahuan. Jadi saya rasa film ini memberikan suatu contoh atau paling tidak bisa menjadi inspirasi dalam menyikapi peristiwa-peristiwa politik yang terjadi,” tutur mahasiswa Teknik Arsitektur, Universitas Indonesia ini.

Dalam rangka peluncuran film ini, LP3ES telah menerbitkan kembali buku harian Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, yang telah sepuluh tahun menghilang dari pasaran. Sementara album soundtrack film (OST) ini diproduksi dan didistribusikan oleh SonyBMG, dengan lagu tema berjudul Gie yang diciptakan oleh Eross Chandra. Album OST ini akan segera beredar dengan menampilkan lagu-lagu yang khusus diciptakan untuk film ini maupun lagu-lagu yang memang terkenal di tahun ‘60an. Salah satunya adalah lagu kegemaran Soe Hok Gie yang berjudul Donna Donna (Joan Baez) yang dinyanyikan kembali oleh Sita RSD.

[Diambil dari Soe Hok Gie Yahoo Group]

Profile Soe Hok Gie


Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan



Biografia

Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin (Hanzi: 蘇福義). Leluhur Soe Hok Gie sendiri adalah berasal dari Provinsi Hainan, Republik Rakyat Cina.Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudian diterbitkan dengan judul Catatan Seorang Demonstran (1983).Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan. Dia adik kandung Arief Budiman atau Soe Hok Djin, dosen Universitas Kristen Satya Wacana yang juga dikenal vokal dan sekarang berdomisili di Australia.[gallery type="slideshow" ids="4759,4760,4761,4762"]

Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekitar 35 karya artikelnya (kira-kira sepertiga dari seluruh karyanya) selama rentang waktu tiga tahun Orde Baru, sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).
Catatan Seorang Demonstran

Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan (Bentang, 1997).

Sebagai bagian dari aktivitas gerakan, Soe Hok Gie juga sempat terlibat sebagai staf redaksi Mahasiswa Indonesia, sebuah koran mingguan yang diterbitkan oleh mahasiswa angkatan 66 di Bandung untuk mengkritik pemerintahan Orde Lama.

Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis.

John Maxwell menulis biografi Soe Hok Gie dengan judul Soe Hok Gie - A Biography of A Young Indonesian Intellectual (Australian National University, 1997).

Pada tahun 2005, catatan hariannya menjadi dasar bagi film yang disutradarai Riri Riza, Gie, dengan Nicholas Saputra berperan sebagai Hok Gie. [Via ; Fp Soe Hok Gie]


Dari 5CM ke Gie

Seperti yang saya katakan dipostingan sebelumnya, selepas menonton film 5cm saya dibawa pada petualangan tentang Soe Hok Gie. Jujur saya belum sempat nonton film Gie - Film yang diangkat dari kisah nyata Soe Hok Gie, yang diperankan oleh Nicholas Saputra tahun 2005 silam, baru setelah nonton film 5cm saya penasaran dengan sosok yang satu ini. Maka mulailah saya mencari-cari semua yang berhubungan dengannya.


Oke, mungkin kamu bingung apa hubungan antara film 5cm dengan Soe Hok Gie.
Jadi film 5cm itu menceritakan tentang persahabatan 5 sekawan. Setelah mengambil jeda selama 3 bulan untuk mereka menjalani kehidupan masing-masing tanpa bergantung dan berhubungan dengan sang sahabat. Setelah 3 bulan mereka bertemu di stasiun Senen dan langsung melakukan perjalanan - petualangan, hal baru bagi mereka, yitu mendaki puncak tertinggi Semeru.


Semeru dan pada puncak tertingginya - Mahameru. Semeru dan Gie adalah sebuah cerita yang tidak bisa dipisahkan.


Semeru adalah sahabat bagi Gie, sang demonstran "galau" yang begitu miris terhadap kepemerintahan republik ini. Sahabat yang bisa diajaknya berbagi keluh pada malam-malam yang sunyi, alam yang tidak pernah ingkar dan alam yang tidak pernah berbohong, alam tidak pernah berkhianat seperti pemimpin-pemimpin yang hanya mementingkan hajat dan kedudukannya sendiri. Para pemimpin tidak pernah benar-benar peduli dengan rakyat jelata yang mereka telantarkan. Pemimpin memang memberi tapi tidak lebih dari pada janji semulah yang mereka berikan. Dan itu terjadi hingga kini. :(


[gallery type="slideshow" ids="4758,4759,4762,4761,4760"]

Sebelumnya bukan tidak tahu mengenai Gie, tapi berkat 5cm lah saya mencoba mengenalnya lebih dekat.


Alhasil beberapa waktu yang lalu saya nonton Film Gie setelah mencoba berdamai dengan download-an yang mencapai 21 part. Hahha


Nocholas Saputra adalah tokoh yang sesuai untuk pemeran Gie, sangat mendalami. Bahkan saya menyukai suaranya yang sedang melantunkan puisi-puisi terakhir sebelum Gie meninggal. Walaupun sebenarnya saya agak tersentak-sentak dengan filmnya yang kadang terlalu dipaksa untuk tetap menuju alur maju yang begitu cepat dan tiba-tiba dan kadang tanpa penghubung.


Kalau hanya mengandalkan dari apa yang kita lihat di film tersebut, kita tidak akan benar-benar mengerti siapa itu Gie - menurut saya. Karena sekali lagi, alurnya kadang tidak bisa saya mengerti - entah kalau saya yang memang terlalu lemot :mrgreen:


Hasil akhirnya, saya bisa menangis bahkan sambil teriak-teriak kalau sedang mendengarkan lagu "Donna Donna" dan Gie yang menjadi soundtrack di film tersebut. Entah kenapa, rasanya itu sangat menyedihkan.


Ketika kamu hanyalah rakyat biasa dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuat perubahan selain bicara lantang, melalui demonstrasi, melalui puisi dan artikel. Namun bahkan hanya dengan media seperti itu kamu justru banyak dicari orang untuk mereka jadikan kader partai, bersatu dengan komplotan orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan kelompoknya sendiri. Sesuatu yang Gie benci, susuatu yang tidak pernah dia sukai.


Setelah satu pemimpin bergulir dan digantikan oleh pemimpin yang lain masih tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Jadi apakah perubahan itu mustahil? Sebab rupanya tabiat manusia itu sama. Setelah mereka memperolah posisi yang nyaman, mereka lupa dengan tujuan utama yang digadang sejak semula. Jadi masihkah ada harapan untuk kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia ini?! Itulah kegelisahan  manusia, ditemani malam yang dingin serta bisu, berjuang pecahkan teka teki malam, teka-teki keadilan.


Maka berbagi dengan alam akan membuat kita tahu hakikat manusia, berharap temukan jawaban seiring dengan langkah pada jalan-jalan setapak, disana, Mahameru. Dan disanalah tempat dimana dia bernafas untuk yang terakhir kalinya pada usia 27 tahun, satu hari menjelang hari ulang tahunnya. Dia meninggal setelah menghirup gas beracun, meninggalkan harapan yang hingga kini jawabannya adalah "e n t a h ".


Salah satu kutipan yang sangat disukainya adalah perkataan seorang filsuf Yunani :




"Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda".



Dia benar-benar mati muda, sebagaimana kutipan favoritnya. Dan saya benar-benar ingin tahu, benarkah ia bahagia karena mati muda? Sebuah pertanyaan yang tentu saja saya tidak akan mendengar jawabannya.


Adakah keberatannya meninggalkan dunia ini, padahal cita-citanya untuk indonesia sejahtera belum tercapai? Gie... Gie..Giee..Giiiieeeeeee :( :'(


Satu poin lebih mengenai Gie, karena dia adalah seorang Penulis, seorang pecinta buku, seorang penyair, selain sebagai seorang nasionalis. Saya pribadi menyesalkan kepergiannya diusia muda tersebut.