Senin, 19 Agustus 2013

Merdeka Secara Terhormat


Masih dalam suasana merdeka. Bagaimana arti merdeka menurut sobat?
Merdeka bagi saya, bebas dari segala bentuk keharusan yang memaksa. Bebas dari praktek suap menyuap yang tak jarang menenggelamkan potensi seseorang. 
Merdeka adalah bebas dari segala bentuk kepenjajahan, tidak bergantung pada orang atau pihak tertentu.

Namun kini kita dihadapkan pada masalah rumit lainnya berkaitan dengan kemerdekaan ini. Sebab sebagaimana pengertiannya ternyata kita tidak sepenuhnya merdeka. Ada begitu banyak ketidakadilan yang merajalela di tanahh air tercinta ini. Saking banyaknya kita bahkan bingung, harus bagaimana, apa yang harus dilakukan?

Merdeka bagi si kaya
Bagi si kaya, merdeka adalah ketika mereka dapat menumpuk kekayaan sedemikian rupa. Tanpa memperhatikan peraturan-peraturan yang berlaku, tak perduli jika itu merugikan orang atau pihak tertentu. Ketidakpuasan atas apa yang telah dimiliki menjadi penjajah bagi mereka, merdeka tidak pernah mereka dapatkan selama ketidakpuasan atas apa yang mereka miliki tidak terpenuhi. Maka mereka inilah penjajah bagi kemerdekaan orang-orang pinggiran.

Kita tidak bisa menutup mata atas semua ini.

Beberapa waktu yang lalu saat libur lebaran, saya diahadapkan pada sebuah dilema yang teramat berat. Kampung saya terletak di kabupaten pemekaran baru di sebuah propinsi. Saya mungkin terlambat untuk bertindak karena saya bertindak setelah desakan yang begitu dalam dari orang tua yang tinggal satu-satunya, Ibu. Beliau ingin saya tinggal disekitar kampung halaman agar ada yang bisa menemaninya dihari tuanya. Saya yakin banyak diantara teman-teman yang mengahdapi dilema semacam ini. Saya pikir apa salahnya mengikuti keinginan Ibu, toh saya juga sebenarnya ingin menjadi bagian dari pertumbuhan daerah ini.

Untuk yang belum tahu, setiap pemekaran daerah baru pasti membutuhkan tenaga-tenaga yang mumpuni untuk membantu percepatan pembangunan daerah tersebut. Saya tidak bilang saya cukup mumpuni untuk ikut membangun daerah ini, tapi setidaknya saya ingin mencoba, namun bayangan saya tentang mencoba tidak sesuai kenyataannya. Saya pikir semuanya harus dilakukan secara prosedur yang berlaku. Masukkkan CV dan apabila menurut badan kepegawaian diri saya cukup mumpuni, mungkin saya akan dipanggil, namun jika menurut mereka tidak sesuai kriteria, ya tidak apa-apa.

Tapi rupanya jalan tidaklah semulus itu. Sebab informasi yang saya peroleh benar-benar membuat hati terlecut. Sesuatu yang sejak dulu saya takuti.
Bagaimana mungkin pemerintahan daerah yang baru seumur jagung itu memiliki sistem kepegawaian semacam itu. Sogok, uang pelicin, tiket atau apalah istilah yang mereka berikan untuk hal-hal semacam itu. Sesuatu yang membuat saya tertawa, miris dan tidak tahu harus berbuat apa.

Bayangkan saja, untuk bisa menjadi tenaga honorer disana kita haru setor uang minimal sebesar Rp 20.000.000,-. Untuk kelanjutan tenaga-tenaga honerer yang telah membayar ini saya tidak tahu. Apakah ada jaminan pengangkatan sebagai PNS, saya tidak ingin tahu.

Saya sedih, bukan karena masalah kesanggupan setor uang sebesar Rp 20jt, tapi lebih dari itu mau jadi apa kepemerintahan yang penuh dengan hal menjijakkan seperti itu.
Oke, tidak sepenuhnya salah petinggi pemda karena jika tidak ada orang-orang si pengejar kedudukan yang berlomba-lomba agar terlihat hebat itu, tentu praktek semcam itu tidak akan terjadi. Tapi sayangnya, dari 120 kursi yang disediakan, mereka bahkan menerima 128 orang, overload, pokoknya kalau ada yang berani bayar - tampung!!

Dan saya hanya bisa mundur teratur dan dengan berat hati menjadi anak tak berbakti, yang tidak bisa membuat hati Ibunya berbahagia di usia senjanya.

Mungkin terlalu muluk jika berharap segala macam praktek kotor sirna dari Negeri yang katanya sudah merdeka 68 tahun ini. Untuk beberapa teman yang tidak terlambat bertindak seperti saya, yang bisa masuk dalam jajaran tanpa uang jaminan semacam itu, saya ucapkan selamat. Laksanakan tugas kalian dengan benar, tanpa menggadaikan idelaisme kalian. Apajadinya daerah kita kalau seperti itu terus. Lihat saja, tidak ada kemajuan yang berarti didaerah kita.

Dan saya bertekad akan menemukan cara lain untuk menunjukkan bakti pada orang tua, tanpa harus menggadaikan idealisme dan harga diri.
Lebih baik miskin secara terhormat dari pada kaya dengan cara hina. 

Merdeka itu sederhana saja, merdeka secara terhormat dengan miskin, dengan mengikuti prosedur yang berlaku. Sebab hidup memang sederhana.

=== 
Tulisan ini juga saya posting di Dream Weaver - Blogdetik
Warm regards,
Azzuralhi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar