Rabu, 12 Juli 2017

Perjuangan Seorang Ibu, Now I Know




Perjuangan menjadi orang tua, dan lika liku menjadi seorang ibu. Ternyata gitu, ya? Berat.
Tapi, saya pernah membaca sebuah quotes begini “Jika mudah, tak diletakkanNya surga di telapak kaki ibu". Dan quotes ini lumayan membuat semangat saya membaik. 

Jadi gini, dalam proses persalinan kemarin, saya sempat patah hati. Sebab tidak ada sedikitpun firasat atau tanda adanya masalah dengan kandungan saya. Semua terasa normal dan baik-baik saja. So, nggak salah dong kalau saya berharap kelak lahiran secara normal. Lahir bathin sudah saya persiapkan untuk lahiran normal ini. 

Di benak saya, kalau pun harus melewati proses persalinan secara caesar, itu karena dalam proses kelahiran normal ada kendala. Misal bayi sungsang, masalah tali pusar, atau pembukaan yang nggak nambah setelah sekian jam.

Lalu pagi itu saya bangun dan kaget merasakan air yang mengalir deras dari jalan lahir. Bukan kencing melainkan air ketuban. Karena sebelumnya saya sudah diberi tahu bidan ciri-ciri ketuban, jadi langsung ngeh kalau itu air ketuban. Menuruti instruksi bidan, jika ada masalah dengan air ketuban segera datang ke klinik. Apapun kondisinya.

Maka pagi itu setelah menunaikan sholat shubuh saya langsung ke klinik. Sesampainya di sana langsung dilakukan pemeriksaan dalam. Hasilnay diketahui bahwa saya sudah pembukaan satu. Artinya, pasti akan segera lahiran. Sampai saat itu saya masih berharap bisa lahiran secara normal.

Namun setelah diobservasi oleh bidan senior di klinik tersebut, beliau langsung merujuk saya ke rumah sakit. Dan, dirujuk pun saya tidak berpikiran yang aneh-aneh. Masih berharap bisa melahirkan secara normal. Kenapa saya begitu berharap bisa melahirkan secara normal? Karena, saya rasa itu impian setiap ibu.
Sampai di rumah sakit, setelah memperlihatkan surat rujukan, pihak rumah sakit langsung memvonis saya harus melahirkan secara caesar (Seksio Caesarea). Duniaku serasa runtuh seketika itu juga. Duh, agak lebay ya? Tapi ya begitulah.

Tapi tunggu dulu, saya masih bertahan. Bukankah seharusnya pihak rumah sakit melakukan observasi terlebih dahulu? Cek USG, cek pembukaan. Bagaimana kondisi bayi, seperti apa ketuban yang masih tersisa. Jika pun mentok, setidaknya bisa dilakukan induksi. Mengapa mereka ujug-ujug menyuruh saya melakukan persalinan secara caesar?

Alhasil 2 jam berlalu dengan kengototan saya untuk dilakukan observasi terlebih daulu sebelum mereka meminta saya untuk melahirkan secara caesar. Tapi , duh, mau ngomong seperti apapun saya, keputusan mereka tetap caesar. Saya gedek, mereka juga gemas melihat saya yang keras kepala ini.

Pada akhirnya saya menyerah. Karena hari semakin siang tapi belum ada rasa mules, pembukaan tidak bertambah (mereka akhirnya melakukan pemeriksaan dalam setelah saya desak untuk melakukan observasi terlebih dahulu). Selain itu air ketuban juga semakin banyak dan deras saja keluarnya. Selama ngotot 2 jam sebelumnya sebenarnya saya khawatir dengan kondisi janin di dalam perut saya. Bagaimana jika..jika..dan jika.. 

Pendek kata akhirnya saya melahirkan secara caesar. Setelah dibujuk dan diyakinkan oleh suami, saya menyerah. Menjelang jam 1 siang akhirnya bayi laki-laki mungil itu lahir dengan selamat. Rasanya haru sekali saat mendengar tangisan pertamanya, saat dia didekatkan dengan saya.

Perjuangan ternyata tidak hanya sampai di situ. Setelah menginap selama 3 malam di rumah sakit akhirnya saya diperbolehkan pulang. Hari-hari penuh perjuangan selanjutnya harus saya lewati.

  
Selain pemulihan bekas operasi caesar tersebut, saya merasa badan ini tiba-tiba menjadi begitu payah. Badan gampang gatal, lutut nyeri setiap mau duduk atau berdiri bahkan hingga saat ini. Selain itu, badan rasanya cepat pegal dan lelah.
Semua itu sempat membuat saya merasa lelah secara jiwa. Ditambah ASI yang tak kunjung lancar.

Tapi setiap kali melihat wajah si anak bayi yang mungil itu, memompa semangat saya untuk Live To The Max. Saya ingin menemani masa-masa awalnya secara maksimal. Ingin segera pulih baik secara fisik maupun mental. Iya, saya sempat down dengan kondisi saya tersebut. Terutama perkara ASI.

Untuk membantu pemulihan tubuh, saya mengkonsumsi multivitamin Theragran-M. Vitamin yang bagus untuk mempercepat masa penyembuhan dan mengembalikan daya tahan tubuh.
Saya sadar betul akan peran dan tanggung jawab yang sekarang saya emban butuh fisik yang sehat. Karenanya saya merasa mengkonsusmi multivitamin merupakan langkah yang tepat.



Sekarang saya tahu, perjuangan seorang ibu itu seperti apa. Tidak cukup hanya sampai pada proses melahirkan lalu semuanya selesai. Masih ada perjuangan dalam masa pemulihan badan pasca melahirkan, kurang tidur, gampang baper #eeeeaaa..haha

Ketika kita sehat, maka insya allah kita dapat maksimal dalam mengasuh titipan yang allah percayakan pada kita, anak-anak.

Semoga selalu sehat, ya Maks.

1 komentar:

  1. Kalau melihat kondisi mbak yang air ketubanya deras namun pembukaan masih awal, memang operasi langkah yang tepat, karena jika kekeringan bisa mengancam nyawa bayi mbak didalam

    BalasHapus