Kamis, 19 Oktober 2017

Dinamika Kids Jaman Now Dalam Film My Generation



Jadi orangtua itu gak mudah, Kaks! Tidak hanya sebatas brojol lalu sudah. Brojol hanyalah satu fase dari sekian banyak fase menjadi orangtua. Karena ada begitu banyak dinamika yang siap membumbui di sepanjang perjalanannya. 

Saya sadar bahwa jadi orang tua merupakan fase dimana kita memasuki dunia belajar tanpa henti. Sejak sebelum melahirkan Rayhan, saya banyak berpikir tentang "akankah saya jadi orang tua yang baik baginya?" Yang tidak mengekangnya, namun tidak juga membuatnya tidak terkontrol.


Setiap orang tua pastinya mengharapkan yang terbaik bagi putra-putrinya. Namun tanpa sadar nyatanya kita malah jadi monster bagi mereka.
Melihat fenomena anak muda, remaja jaman sekarang kadang bikin geleng-geleng kepala kan ya? Tapi di balik kebrutalan, ketidak sopanan, dan hal-hal negatif yang mereka tunjukkan itu ternyata merupakan bentuk pemberontakan mereka terhadap aturan orang tuanya yang terlalu kaku dan mengekang. Anak harus ini-itu, kalau tidak, kadang tanpa sadar si orang tua malah membully anaknya sendiri. Dikatain bodohlah, gak cekatanlah.

Pada akhirnya mereka kemudian mencari pengakuan di luar rumah dengan cara-cara yang bikin ngelus dada. Kalau sudah begini kita sebagai orangtua mesti bilang apa?


Nah fenomenalah inilah yang ingin disampaikan IFI Sinema lewat film My Generation. IFI Sinema sendiri mulai berkecimpung dalam dunia perfilman sejak tahun 2017. Dalam film terbarunya kali ini mereka menggandeng Upi sebagai sutradara sekaligus memperkenalkan 4 pemain fresh yang mewakili remaja milenials sekaligus menghadirkan wajah baru bagi dunia film indonesia. Nama Upi sendiri tentu tak asing di telinga kita. Yaps..itu lho yang berhasil menelurkan karya film Indonesia yang terbaik seperti : My Stupid Bos, 30 Hari Mencari Cinta, Radit Jani, Realita Cinta, Rock & Roll.

Setelah menonton video trailernya saya bisa langsung tahu bahwa iya, memang kegelisahan-kegelisahan seperti itulah yang kebanyakan dialami oleh remaja masa kini. Bukannya remaja masa dulu tidak mengalami gejolak masa muda, hanya saja kita harus tahu bahwa arah pendekatan parenting dulu dan sekarng itu beda. Come on, dunia terus berputar, maka dari segi parenting para orangtua juga harus menyesuaikan.


Sinopsis dan Tokoh

My Generation Film, A film by UPI @upirocks Bercerita tentang persahabatan 4 anak SMU, Zeke, Konji, Suki dan Orly.
Di awali dengan gagalnya mereka pergi liburan karena video buatan mereka yang memprotes tentang sekolah, guru, dan orangtua going viral di sekolah mereka. Dan mereka dihukum karenanya. Tapi mereka terlalu keren untuk mengutuki keadaan dan membuat orang-orang yang sudah menghukum mereka puas. Tapi ternyata liburan sekolah yang terkesan tidak istimewa, justru membawa mereka pada kejadian-kejadian dan petualangan yang memberi pelajaran sangat berarti dalam kehidupan mereka

My Generation Film diperankan oleh pemain-pemain baru:
Bryan Langelo sebagai Zeke.
Arya Vasco sebagai Konji.
Alexandra Kosasie sebagai Orly.
Lutesha sebagai Suki.


Suki. Paling pendiam di antara The Gank. Sedang mengalami krisis kepercayaan diri seperti remaja pada umumnya. Namun, hal ini semakin diperparah oleh lingkungan termasuk orang tuanya yg terus berpikir negatif tentang diri Suki. Lebih dari itu, sebenarnya Suki adalah remaja yg sedang membutuhkan perhatian lebih, dari orang-orang di sekitarnya.


Zeke. Kreatif, sebagian besar aksi the gank berasal dari inisiatif dan ide Zeke. Seorang pemuda yg cuek, jail namun sangat loyal pada para sahabat. Tipe seseorang yg peduli, tapi tidak menginginkan orang lain membantu bahkan mengetahui masalah yg ia sendiri sedang hadapi. Zeke, Pemuda rebellious tapi juga easy going dan sangat loyal pada sahabat-sahabatnya.


Konji, Pemuda polos dan naive, tengah mengalami dilema dengan masa pubertasnya. Ia merasa tertekan oleh aturan orangtuanya yang sangat overprotective.


Orly, Perempuan kritis, pintar dan berprinsip. Sedang dalam masa pemberontakan akan kesetaraan gender dan hal lain yang “melabeli” kaum perempuan. Salah satunya tentang keperawanan. Orly berusaha mendobrak label negatif yang sering diberikan kepada perempuan.

We hate Generation Labels! Khususnya yg selalu membuat perbandingan jika generasi sebelumnya selalu lebih baik dari generasi sekarang. Dan dalam setiap labeling, yang ditekankan hanya pada sisi negatifnya saja. . Seperti labeling yg saat ini ditanggung oleh generasi millennials sebagai generasi narsis, selfish, social media zombie, tech savy dan sebagainya.

Kompromi Dengan Perubahan

Punya anak yang sukses itu baik, tapi anak yang bahagia itu jauh lebih baik, bukan?
Sebab sukses belum tentu bahagia. Apalagi jika itu hasil pemaksaan kehendak dari orang tuanya.

Udah bukan jamannya lagi bagi orang tua untuk memaksakan pendapat maupun kehendaknya agar anaknya jadi ini itu. Jika kita pernah mengalami terkekangnya impian, masa itu juga harus kita lakukan pada anak-anak kita?

Cuma mereka kadang lupa untuk berkompromi dengan keinginan dan impian anaknya.
Apalagi jaman milenial begini. Sukses tidak hanya jadi PNS.
Kita ada di jaman milenial, di mana ekonomi kreatif lebih menjanjikan. Yang kerjanya tidak hanya berkutat di belakang meja seharian.

Udah rahasia umum, orang tua kebanyakan mengukur sukses seorang anak dari jurusan kuliahnya yang gak jauh-jauh dari uang seperti Bisnis, Ekonomi, dan Managemen. Tanpa peduli apakah anak-anaknya senang atau tidak.

Persis seperti yang dialami tokoh Suki dalam Film My Generation. Orang tua yang terlalu mendikte masa depannya membuatnya krisis percaya diri.
Ini jadi semacam alarm bagi saya sebagai orang tua agar tidak terlalu mengekang anak-anak, biarkan mereka menjadi apapun sesuai passionnya. Kita cukup memantau dan mengarahkan saja.

Jadi orang tua itu nyatanya sebuah fase belajar tanpa akhir. Makanya mesti banyakin belajar ilmu parenting yang salah satunya lewat film.

Film ini memang bak pisau bermata dua. namun kenyataan itulah yang terjadi pada remaja masa kini. Karenanya film ini recommended ditonton oleh para remaja sekaligus orang tua. Jika bisa nonton bareng tentu labih bagus lagi. Haha.
Sebab dari segi orang tua, film ini seolah ingin menyampaikan agar terbuka pikirannya. Dengarkan apa yang anak-anak inginkan. Jangan mematikan kreativitasnya, mengubur mimpi-mimpinya, lalu mengganti dengan mimpi orangtuanya. Berhenti jadi egois wahai para orangtua (sambil ngomong ke diri sendiri..heuheee)

Dan dari segi para remaja, agar mereka tau bahwa pada dasarnya apa yang orangtuanya lakukan semata-mata demi kebaikannya. Hanya saja jika tak sejalan, kita bisa mengomunikasikannya dengan baik.
Pokoknya, hayoklah kita nonton. Inget ye, tayang mulai tanggal 9 Nopember 2017.


5 komentar:

  1. Sukses belum tentu bahagia, bener tuh

    BalasHapus
  2. Eit dah berojol. Bahasa betawi ente. Karena yang lahir manusia maka waktu perlu buat anak. Anak adalah amanah dari tuhan

    BalasHapus
  3. Gak sabar pingin nonton langsung di Bioskop film my generation. Seru kyaknya nonton rame-rame ya kak.

    BalasHapus
  4. adik2ku yg masih sekolah kudu nonton my generation nih, aku pun penasaran mbak, promonya dimana2 hehehehe

    BalasHapus
  5. Wajib ditonton nih film, nobar yuk mbak #eh

    BalasHapus