Kamis, 23 November 2017

3 Alasan Saya Ingin Miliki Tenda Camping




 
Ketika pohon terakhir ditebang, Ketika sungai terakhir dikosongkan, Ketika ikan terakhir ditangkap, Barulah manusia akan menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang.
(Eric Weiner - The Geography of Bliss)

Quotes di atas saya jadikan caption di postingan ig saya pada tanggal 21 Nopember lalu. Buat yang belum tahu nih, tanggal tersebut dirayakan sebagai hari pohon sedunia. 



  1. Puncak-puncak yang Membuat Selalu Ingin Kembali
Hamparan ilalang di Puncak 3 Gunung Guntur - Garut

Berawal dari postingan ig ini, ada sebuah rasa yang tiba-tiba menyeruak. Semacam rindu yang tak tertahan. Iyaps. Saya lagi-lagi merindui ketinggian. Maklum, sudah lama sejak pendakian terakhir di Gunung Pangrango pada akhir tahun 2015 lalu. Jadi wajar jika rindu ini terasa menggebu-gebu. 

Rindu pada kabut yang memberi nuansa misteri, sebuah nuansa yang sulit dijabarkan. Rindu pada embun pagi yang hadir bersama rasa dingin yang menyengat. Pada matahari pagi yang menyeruak malu-malu dari balik bebukitan, atau dari celah dedaunan. Rindu, pada padang savana yang terhampar luas sejauh mata memandang. 
Pada senda gurau teman-teman di sepanjang perjalanan yang sukses jadi penghibur, penyemangat untuk tetap melangkah. Yang tadinya pengen nyerah, jadi terlecut kembali untuk tetap melangkah. 

Kabut yang misteri di gunung Cikuray - Garut

Salah Pemandangan indah yang bisa disaksikan selama camping. Tenda dan alam raya


Maka jelaslah, perasaan rindu dan selalu ingin kembali menyambangi puncak-puncak tertinggi di nusantara inilah yang membuat saya ingin punya tenda camping. Punya sendiri lho ya. Bukan hasil urunan teman sekomunitas. Hahha 


  1. Tak Sudi Ulangi Kegigilan Yang Sama

Asap belerang di gunung papandayan, bikin sesak.

Akhir bulan Maret tahun 2014 Saya memilih Gunung Papandayan sebagai destinasi pendakian pertama saya. Gunung eksotis yang terletak di Garut Jawa Barat ini memiliki ketinggian 2260 mdpl. Banyak yang menyarankannya sebagai tujuan pendakian pertama bagi para pemula.

Jalur pendakian Papandayan ini bisa dikatakan landai, banyak bonusnya (dalam dunia pendakian, medan yang landai dianggap bonus), namun bonus gimana pun saya tetap merasa kepayahan. Cuaca yang agak gerimis membuat suhu pegunungan terasa menusuk saking dinginnya. Bau belerang yang menyengat pun membuat saya tak leluasa bernafas. Satu-satunya cara yaitu dengan mempercepat langkah, tapi hasilnya saya malah ngos-ngosan. 

Kesalahan lain saya dalam pendakian ini adalah tidak membawa sleeping bag. Alhasil malam harinya saya lewati dengan gigi gemeletuk, alih-alih terlelap. Sepanjang malam saya tidak bisa memejamkan mata, berharap pagi yang cerah segera datang menggantikan malam yang begitu menusuk.


Hawa dingin itu mungkin bisa sedikit diminimalir andai saja tenda yang kami gunakan waktu itu cukup mumpuni. Apalah daya, open trip yang kami pakai menyediakan tenda seadanya. Padahal tenda merupakan perlengkapan krusial untuk keperluan camping. Maka sudah seharusnya kita menyiapkan tenda yang mumpuni. Cukuplah pendakian Papandayan menjadi momen paling menggigil bagi saya. Sungguh diriku tak sudi mengulangi hal yang sama. Wkwk 


  1. Rusaknya Tenda Tidak Sebanding Dengan Rusaknya Pertemanan
Team Hoyoy! Miss miss sama kalian.

Saya memang merasa payah di pendakian pertama saya. Tapi saya sedikit terhibur, karena ternyata tidak hanya saya, kebanyakan peserta open trip kala itu merupakan para pemula. Sedikit banyak, kami merasakan hal yang sama. Dan karenanya kami merasa cocok satu sama lain sehingga pertemanan kami berlanjut hingga sekarang. Akhirnya, dua tahun lalu kami berhasil mengumpulkan inventaris berupa tenda, kompor, nesting dan sebagainya dengan tujuan untuk dipakai bersama.

Karena merasa cocok kami akhirnya membentuk komunitas sendiri, lalu melakukan berbagai kopdar sampai pendakian bersama. Hingga akhirnya tercetus ide untuk membeli segala peralatan tersebut. 

Tapi saya dan suami bertekad punya perlengkapan sendiri. Maksudnya biar gak nyewa atau minjam dari komunitas lagi. 

Lebih asik aja kalau memakai barang pribadi. Tidak khawatir barang rusak. Khawatirnya, jika peralatan rusak malah berimbas pada rusaknya pula pertemanan. Ya, namanya juga sebuah komunitas yang di dalamnya ada banyak kepala, tentu tak mudah menyamakan persepsi.

***
Hamparan Edelweis di Mandalangi Gunung Pangrango. Impian yang jadi nyata. GIE.


Rayakan hari kemerdekaan di puncak Merbabu
Tidak pernah terbersit sedikitpun di benak saya bahwa ternyata menapaki puncak tertinggi gunung itu ternyata mengandung candu. Itulah yang membawa saya terdorong untuk menjajaki gunung-gunung yang lain. Namun setelah menikah apalagi setelah punya anak, keinginan semacam itu harus distop dulu. 

Sementara itu, sembari menunggu baby R cukup kuat fisiknya untuk diajak menjelajahi keindahan bumi pertiwi, saya dan suami perlahan mengumpulkan perlengkapan camping. Mulai dari peretelan terkecil hingga urusan tenda. Seperti yang saya katakan sebelumnya, lebih baik punya peralatan sendiri. Kalau rusak ya gak perlu ada drama. hihhii

Sejauh ini tinggal tenda yang belum sempat dibeli. Masih mencari-cari spesifikasi yang cocok. Cocok dengan standar yang kami inginkan, serta cocok di kantong pastinya. Kabar baiknya, alhamdulillah udah ketemu yang cocok pas liat di Matahari Mall. Masalahnya, yang cocoknya banyak. Kan, bingung lagi. Wkw.


Baca Juga: Pesona Wisata Bahari Berbalut Sejarah di Kepulauan Seribu

28 komentar:

  1. Di Indonesia bukannya banyak banget tempat persewaan tenda dan peralatan kemping? Rasanya dulu lumayan juga kualitasya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang banyak kak. Tapi emang lebih enak kalau punya sendiri, bisa pake suka-suka. Hihhii

      Hapus
  2. yang hobi daki tentunya ingin ya, agar tambah rajin mnedaki gunung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih Mba Tira. Kalau misal ada rencana dadakan juga ayok aja. Hihhii

      Hapus
  3. Lebih enak pakai tenda sendiri ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk
      Pastinya mba, biar lebih asiikk

      Hapus
  4. Aishhh.. DiriMu sering mendaki gunung toch Mbaa, Aku kapan yaa..?
    Ehh tapi iya lho, kata temen ya sering mendaki gunung, better punya tenda sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah lama nggak, mba. Makanyanini rindu menggila. Wkwkwk

      Hapus
  5. Huhuhuhu...kangen mucuk
    Saya 'lemah' melihat panorama samudera awan
    Ingin kembali bersua
    Paling enak sih klo udah punya lengkap persiapan hiking ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pun. Entah kapan bisa mucuk lagi. Makanya sebelum nikah dan punya anak dipuas-puasin aja dulu wkwkkw

      Hapus
  6. Aku punya dong kalau cuma tenda mah... Tapi tenda yang buat mainan anak anak aja... Hihihi... Yah lumayan dah buat ajarin anak seru seruan kemping di lapangan deket rumah...
    Aku coba mengenalkan hobi emaknya waktu masih gadis ke anak anak... Suatu hari nanti kalau si kecil udah agak siap pengen banget deh ajak kemping sekeluarga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Pasti berkesan banget buat anak-anak.

      Hapus
  7. Kumpul bocah di tenda camping saat reuni alumni kuliah. Anak anak gak saling kenal tapi emak bapak yg memasukan anak ke tenda. Jadi taman bermain di tenda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru ya mpok pastinya. Jadi mereka punya teman baru deh.

      Hapus
  8. Tenda kalau punya sendiri bisa di pakai di halaman belakang, skalian kemping

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tho mba. Kalau punya sendiri mah bisa pake kapan aja. Wkwk

      Hapus
  9. Asikk lili pgn naik gunung lagi ya. Seru ya kalau kuat naik gunung, sayang aq ga kuat pdhl pgn bgt nyoba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih say. Rindu banget.
      Atuh dicoba dulu. Haha

      Hapus
  10. Eman lebih nyaman punya tenda sendiri mba,,, bisa enakan lah pakainyadn gampang bawanya Karena sdh Ada tas tenda khusus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Kalau ada rencana bisa langsung cuusss.

      Hapus
  11. Wah masih punya baby keinginan mendaki gunung disimpan dulu ya. Nanti kalau si kecil sudah besar diajak sekalian hehehw

    BalasHapus
  12. saya belum sempat beli tenda camping, harganya lumayan. mending minjam saja he he

    BalasHapus
  13. Ingat tenda camping, jadi ingat berpetualang naik gunung ya Mba.

    BalasHapus
  14. Wah asiknya baby R bakal diajak naik gunung sama si mbaknya

    BalasHapus
  15. bayi taruh di mana si bayi, hihihi

    BalasHapus
  16. Mak punya noh lengkap. Sisa kejayaan masa lalu eaaa. Careel, carabiner, matras, dkk masih lengkap noh. Ayok naik lagi. Tapi Mak mah skrg lebih seneng bw ransel ajah trus boboknya dihotel kagak ditenda huahahaha

    BalasHapus
  17. Bikin ketagihan ya Naik gunung? Saya malah belum pernah naik gunung, hahaha

    BalasHapus