Sabtu, 31 Maret 2018

Rayhan di Tanah Kelahiran Bundanya



Dua tahun belakangan saya  merayakan pergantian tahun baru di kampung halaman. Suasananya cukup tenang. Beda banget jika dibanding dengan hiruk pikuk perayaan tahun baru di perkotaan seperti Jakarta maupun Bekasi.

Sebagaimana biasanya. Setiap mudik (mudik apa harus selalu saat lebaran ya?), intinya saat saya pulang ke Lampung, saya lebih menyukai perjalanan secara estafet. Tidak naik kendaraan yang langsung ke terminal Rajabasa maupun langsung ke Krui.

Saya punya beberapa alasan sih. Salah satunya karena saya bisa menentukan sendiri jam berapa harus berangkat. Jadi tidak perlu khawatir ditinggal misalnya saya datang terlambat.
Selain itu, saya bisa lebih santai misal di tengah perjalanan saya ingin mampir ke suatu tempat atau sekedar menikmati perjalanan dengan tidak terburu-buru.

Dan yang tak kalah penting adalah, kalau dikalkulasi biaya yang perlu dikeluarkan jadi lebih sedikit (iyah, orangnya perhitungan.. Wkwk). Bagian terberatnya mungkin ngantri tiket dan perjalanan dari gerbang masuk menuju dermaga.
Nggak recommended deh kalau kita bawa barang banyak. Yang ada ntar malah pingsan. Duh, kasian.

Namun demikian ada yang berbeda dengan kepulangan saya kali ini.
Iyes. Kali ini udah ada bayik lucu nan imut lagi menggemaskan sebut saja namanya Rayhan. Hahha

Akhir tahun kemarin ceritanya si Rayhan untuk pertama kalinya dibawa pulang ke Lampung. Tanah kelahiran Bundanya.
Pertama kalinya ketemu keluarga besar dari emaknya.
Pertama kali liat pantai. 

Mampir di Menara Siger

Entah kenapa rasanya aneh aja. Saya sebagai orang Lampung asli, wara-wiri ngelewatin pelabuhan Merak, yang notabenenya dekat dengan menara siger, namun saya belum sekalipun menginjakkan kaki di menara tersebut. Sudah beberapa kali diniatkan, tapi selalu saja gagal. Alhasil kemarin nekad mampir.

Kenapa nekad? Eh gak nekad nekad amat sih. Cuma ya, karena bawa bayi. Rasanya sedikit riweuh. Heuhuu

Menara Siger sendiri merupakan landmark dengan  bentuk siger khas kebanggan masyarakat Lampung. Menara yang memiliki ketinggian 110meter ini juga merupakan titik 0 pulau Sumatera.

Singkat cerita sampailah keluarga kecil kami di menara siger dengan bantuan abang ojek. Berhubung masih pagi banget, dan sepertinya tidak ada penjaga, maka kami langsung masuk ke area tersebut. Dari pintu gerbang kita masih harus berjalan kaki kurang lebih 300m (maaf kalau salah, saya tak pandai menimbang jarak..hahha)

Seperti yang saya harapkan selama ini. Saya menemukan siger dalam bentuk raksasa, laut lepas, dan hilir mudik kapal feri yang datang dan pergi dermaga.

Iyes. Pemandangan ke laut lepasnya memang indah dan menawan. Bebukitan terlihat mengelilingi dermaga. Hanya saja lingkungan menara itu sendiri sedikit mengecewakan bagi saya. Bangunan dan sekelilingnya tidak terawat. Beberapa fasilitas terlihat sudah rusak dan tak berfungsi. Dan sampah dibuang sembarangan.

Untuk mengambil foto yang agak kece, kita mesti pintar-pintar mencari angle yang pas biar sampah di sekelilingnya tidak ikut terpotret.







Di atas merupakan beberapa foto terbaik yang berhasil saya abadikan lewat lensa ponsel saya yang sepertinya mulai soak. Heuuhhu

Ngomongin ponsel, pengen sih ganti dengan model terbaru. Seperti Samsung S9 misalnya. Sayang harga Samsung S9 ini berkisar 12 jutaan. Rasanya kuingin teriak dan minta gratisan saja. (emang ada yang mau ngasih? Wkwkwk).

Melanjutkan Perjalanan

Seperti yang saya katakan sebelumnya, pemandangan ke laut lepas memang elok, tapi lingkungan menara sendiri bikin gak betah untuk berlama-lama. So, nggak lebih dari 30 menit kami langsung cuss melanjutkan perjalanan, menuju Bandar Lampuyang. Dari sini saya harus melanjutkan perjalanan hanya berdua dengan Rayhan karena Ayahnya tidak bisa ambil cuti terlalu sering. 

Mengenai perjalanan saya dengan Rayhan, saat itu berhubung saya gak mau repot, saya memilih melakukan perjalan malam hari. Alasannya, malam kan waktu tidur, jadi perjuangan saya menghadapi kerewelan si kecil dapat diminimalisir.

Dan iyes, sesuai harapan. Sepanjang perjalana Rayhan banyak tertidur. Alhamdulillah. Kami mendarat indah di rumah kesayangan Emaknya. Rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan asam manis kehidupan. Haha

Oya, kepulangan kami akhir tahun kemarin, selain untuk memperkenalkan Rayhan dengan keluarga besar saya, juga untuk menghadiri acara nikahan adik sepupu. Ya sekalian saja merayakan pergantian tahun baru di sana.

Pergantian tahun kemarin kalian merayakannya di mana?


Sepupu Nikah. Sekarang udah hamil. Alhamdulillah.

Rayhan Main Ke Pantai


1 komentar:

  1. wah, Lampung memang cantik ya kak.
    menikmati perjalanan di sana memang tidak akan pernah bosan. jadi rindu ke sana lagi :)

    BalasHapus