Rabu, 02 Agustus 2017

Berhentilah Menghakimi atau Menertawakan Penderita Depresi



Makin hari semakin sering kita mendengar kabar seseorang yang meninggal akibat depresi. Yang masih hangat, baru-baru ini dunia dikejutkan oleh kabar meninggalnya Chester Bennington, vokalis band ternama, Linkin Park. 

Siapa yang tak mengenal band tersebut. Walau musiknya melengking namun tetap enak untuk dinikmati. Apalagi dari segi lirik, yang sebenarnya memiliki makna yang cukup dalam. Konon, penyebab meninggalnya Chester ini karena depresi yang ia alami. Di masa kecilnya ada banyak luka yang begitu membekas dalam benaknya. Meski bertahun kemudian, popularitas di genggaman, depresi itu tetap ada. Bayangan hitam nan kelam itu masih mengahntuinya. Puncaknya ketika sehabatnya meninggal dengan cara yang sama.

Di indonesia, kita juga sering dihebohkan oleh kabar berakhirnya hidup seseorang dengan cara yang cukup memprihatinkan. Semakin banyak saja setiap tahunnya.

Melihat bahaya yang mengintai masyarakat ini, maka tak heran jika tahun ini, kampanye tentang depresi menjadi salah satu agenda penting di Kemenkes. Jika tahun lalu peringatan hari kesehatan sedunia berfokus pada TB, maka tahun ini mengarah pada Depresi. Kenapa? Apakah depresi itu sebegitu berbahaya?


HIV, Depresi dan Jantung Koroner pada tahun 2030 akan menjadi beban utama pemerintah di setiap negara. Hal ini disampaikan oleh dr Eka Viora dalam sebuah diskusi yang dilakukan dalam rangka peringatan hari kesehatan sedunia yang diadakan oleh Kementerian Kesehatan RI.

Ngerinya, setiap 40detik ada yang bunuh diri karena depresi yang tidak tertangani. Umumnya karena si penderita tidak sadar dirinya sedang depresi, demikian juga orang-orang terdekatnya. Sebab, andai orang dekat si penderita menyadari, sudah sepatutnya si penderita mendapat penanganan yang tepat. 

Masih menurut dr Eka Viora, semua stakeholder harus kenal dengan depresi agar dapat mendeteksi penderita depresi. Oleh karena itu penanganan depresi harus sudah bisa ditangani dari tingkat puskesmas.


Melihat banyaknya rasio terjadinya bunuh diri akibat depresi, sudah semestinya kita tidak memandang remeh penyakit ini. Iya, depresi itu penyakit. Dan karena ini penyakit, maka masih ada harapan untuk disembuhkan. 


Sebelumnya, mari kita mengenal lebih jauh apa itu depresi.


Jadi depresi adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan rasa sedih yang berkepanjangan dan kehilangan minat terhadap kegiatan-kegiatan yang biasanya kita lakukan dengan senang hati. Tanda berikutnya adalah berhenti menjalankan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari, setidaknya selama dua minggu. 

Tanda lainnya adalah mereka yang mulai jadi penyendiri, menjauhi teman-temannya, rewel dan mudah marah, sering menangis serta sulit berkonsentrasi. Nafsu makan menurun, gangguan tidur, cemas tak tentu arah. Merasa tak berharga, merasa bersalah dan putus asa. Puncaknya hingga terlintas untuk melukai diri atau bahkan bunuh diri. 

Familiar dengan tanda-tandanya? Hati-hatilah. Jika kamu yang mengalaminya maka segera cari pertolongan. Inti dari pertolongan bagi orang-orang yang mengalami depresi adalah bicara. Bicarakan apa yang membuatnya merasa depresi. 

Pertolongan pertama bagi penderita depresi adalah curhat, pada orang terdekat, orang-orang yang dipercaya.

Saya percaya bahwa ketika kita mengalami tekanan hingga menimbulkan depresi, salah satu solusinya ya curhat. 
Meskipun setiap orang punya cara masing-masing dalam menghadapi masalahnya, tapi pada dasarnya, setiap orang butuh setidaknya satu orang untuk bisa diajak bicara. Depresi bisa terjadi pada setiap orang hanya banyak yang tidak menyadarinya.  Solusi depresi ini ya bicara, curhat.

Menurut Ibu Nursila yang hadir sebagai perwakilan dari WHO, menjelaskan bahwa depresi itu sangat mungkin untuk disembuhkan. Utamanya dengan bicara pada orang-orang terdekat dan terpercaya. Bicara merupakan langkah awal menuju kesembuhan.
Jika ada orang di sekeliling kita yang terkena depresi sebaiknya kita tidak menghakimi si penderita. Masalah yang kita anggap sepele bisa jadi merupakan masalah berat bagi si penderita depresi. Jikapun kita tidak bisa membantu, cukuplah kita mendoakan yang terbaik bagi mereka. Setidaknya jangan menertawakan atau menghakimi ini itu. Percayalah, setiap orang berjuang dengan ujiannnya masing-masing.

Berhentilah menghakimi atau menertawakan penderita depresi, karena mereka tak butuh itu. Berhenti sok tahu tentang kelam dan beratnya perjuangan hidup seseorang. Karena mereka tak butuh itu.

Mereka butuh kita untuk sekedar mendengarkan keluhannya atau memberikan bahu untuk mereka bersandar. Karena dengan begitu mereka tidak merasa sendirian, bahwa hidup mereka berarti.
 



17 komentar:

  1. Setuju, Mbak. Satu orang saja yang mendengarkan semua unek-unek tanpa menghakimi itu sudah cukup menyelamatkan kewarasan kita... :)

    BalasHapus
  2. Aku pernah punya perasaan tidak berharga untung ngga sampai depresi ����

    BalasHapus
  3. Betul bgt jgn pernah kita menyimpan mslh sendiri klo bs disalurkan pilih tmn curhat yg bs dipercaya atau bs disalurkan lwt tulisan, jd bs lbh produktif kan 😊

    BalasHapus
  4. Tapi terkadang si penderita depresi itu ga tau lho mau curhat kemana n ke siapa. Jadinya bingung menumpahkan unek2 hati

    BalasHapus
  5. Haduuuh jangan sampai dech ya mb kita depresi. Tp kerjaan emak2 yg butuh me time kdg bikin hampir depresi juga yaa...������

    BalasHapus
  6. kondisi tiap orang itu tidak sama, saya tentu ga akan tega mencap org org yg depresi dgn sebutan org lemah dsbginya

    karena kita tidak tahu apa yg sudah terjadi pada org itu

    tapi saya jg tidak suka ada yg blg yg ga pernah depresi itu menjalani hidup yg sempurna..

    xixxixix saya remaja hidup jg menderita, penuh perjuangan, hingga sekarang pun masih byk sumber sumber dr luar yg bikin saya stress. cuma memang mungkin kondisi org berbeda beda.

    BalasHapus
  7. Depresi? Ini penyakit paling bnyk dihadapi oleh kita yg hidup diperkotaan dg tingkat beban hidup yg tinggi. Nikmati hidup, bersyukur dan kelola stress.

    BalasHapus
  8. huhu.. aku pun pernah depresi berat saat hamil besar anak kedua sampe terpikir untuk bunuh diri -_- kesehatan psikis kita memang perlu dijaga layaknya kesehatan fisik, supaya terhindar dari depresi berat

    BalasHapus
  9. Cari teman yang bisa Di percaya psikolog,atau curhatan sama yg kuasa aja. Gratis, bebas kapanpun Dan ringan beban pikiran.

    BalasHapus
  10. Ternyata depresi bisa disembuhkan ya..yg penting dukungan keluarga penting bgt dan sangat membantu

    BalasHapus
  11. Curhat itu memang penting. Makanya kalo ada temen yg curhat, dengerin aja. Biarpun curhatnya diulang2 terus.

    BalasHapus
  12. Iya mba akhir2 ini banyak sekali orang meninggal dengan disengaja karena alasan depresi. Depresi ini memang berbahaya kalo kita diamkan, maka memang betul seperti yg mba bilang, kalo menceritakan masalah pada org lain itu harus. Sedikitnya agak mengurangi beben pimiran kita. Makasih share infonya ya mba.

    BalasHapus
  13. Setuju kak..
    Aisyah justru ingin sekali sekali bisa membantu orang-orang yang depresi..
    Karenanya aisyah bercita-cita menjadi psikolog atau konselor.. ^^

    BalasHapus
  14. Dulu pernah aku hampir merasakan depresi karena masalah keluarga.Tapi ada seseorang yang memberikan aku penjelasan tentang masalah tersebut. Memang berat mental kalau sudah depresi.

    BalasHapus
  15. Tulisannya bermanfaat banget mba. Depresi seolah jadi penyakit yg akhir akhir ini mewabah ya, semoga segera ada penyelesainnya

    BalasHapus
  16. Aku pernah ngalamin mba pas lahiran anak pertama, crowded bgt masalahnya. serinh nangis dan merasa diri ga berarti tapi Alhamdulillah nya aku punya bapak yg mau mendengarkan curhat sehingga terselamatkan

    BalasHapus
  17. Paling mengerikan buat orang yang sedang depresi adalah orang sekitarnya malah menertawakannya. Padahal masalah yang dihadapi dia, buat penderita depresi bukan masalah yang ringan. Yang dibutuhkan hanya telinga yang sanggup mendengar. Meski yang mendengar terkadang tak memberi solusi

    BalasHapus