Jumat, 04 Agustus 2017

Konon, Katanya...





Konon, katanya bahasa arab adalah bahasa yang diakui PBB. Artinya siapa saja boleh menggunakan bahasa arab. 

Maka penggunaan bahasa arab pada dress yang dipakai Agnes Mo pada perhelatan ulang tahun salah satu TV nasional dan sempat membuat gaduh warganet itu termentahkan. Lagi pula, arti kata yang tertulis dalam bahasa arab itu baik. Yaitu persatuan.


Konon, orang-orang yang menggunakan cadar, hijab, tutup kepala, tidak hanya orang muslim. Orang Yahudi, atau Kristen Ortodoks juga menggunakannya. Jadi, orang islam ngga usah sok kepedean ngakuin bahwa semua itu merupakan identitas muslim.

Konon laki-laki yang memanjangkan jenggot dan memakai serban tidak hanya orang-orang muslim. Karena semua itu, konon aslinya adalah budaya orang arab sejak jaman dahulu kala. Dan orang arab tidak semuanya beragama Islam.

Konon, para teroris selalu diidentikkan dengan agama Islam sebab simbol-simbol tersebut. Pertanyaannya, bukankah simbol-simbol itu tidak hanya milik orang Islam?!

Oke, judgement bahwa terroris adalah Islam harusnya TERBANTAHKAN!

Lagi pula, arti kata teroris itu sendiri apa sih? Tidakkah selama ini kata tersebut telah dimanipulasi sedemikian rupa sehingga mengalami penyempitan makna?

Sebagai seorang Muslim saya membenci mereka yang melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama. 

Dan sebagai seorang muslim saya membenci mereka yang telah dengan sangat bangga menuduh bahwa segala macam kejahatan, apabila dilakukan seorang muslim maka ia disebut terroris. Jika bukan muslim pelakunya, maka setiap kejahatan hanya disebut kriminal. Betapa lucunya dunia dengan pemikiran-pemikiran manusianya yang sempit itu. Betapa tidak adilnya anggapan ini, bahkan telah mencuci otak manusia di berbagai penjuru.
 

Maaf kalau tulisan ini agak menjurus SARA. Setidaknya inilah suara hati saya, bahkan mungkin suara hati saudara-saudara muslim saya di seluruh penjuru dunia.

Sedih rasanya ketika membaca postingan seorang teman di facebook beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa hanya karena ia memakai gamis dan jilbab lebar warna hitam, lantas orang sekitar menganggapnya cikal bakal teroris. Padahal ia dalam perjalanan menuntut ilmu, mempelajari Al-Quran. 

Kenapa orang-orang yang mendalami agamanya dianggap aneh dan harus diwaspadai bahkan terkesan dikucilkan? Mengapa orang-orang yang memilih taat harus dicekal dan terkesan dibatasi? Pertanyaan-pertanyaan ini pada akhirnya hanya mengendap dalam pikiran saja.

4 komentar:

  1. Emang susah ya Mbak saat kita dikondisikan menjadi pihak yang selalu dihakimi hanya karena kerberislaman kita? Banyak yang melakukan kejahatan, non muslim, tak disebut teroris. Tapi hanya karena berjanggut, berkerudung lebar, lalu sudah otomatis dicap radikal dan teroris. Pelabelan yang tendensius.

    BalasHapus
  2. Allah Maha Tahu. Insya Allah semua niat baik akan diganjar dengan kebaikan dunia akhirat.

    BalasHapus
  3. Setuju kak, suka tulisannya, masya Allah..

    BalasHapus
  4. betul sekali, setuju dengan artikelnya

    BalasHapus