Minggu, 10 Maret 2019

Menjaga Tradisi Menjaga Indonesia


Salah satu harta paling berharga bangsa Indonesia adalah keberagaman. Adat budayanya yang berbeda tiap daerah menjadi daya tarik sendiri. Wajar jika ada banyak wisatawan yang datang.

Nah salah satu cara melestarikan adat budaya ini adalah dengan melakukan berbagai tradisi yang telah dilakukan secara turun temurun. Sehingga menjaga tradisi sama artinya dengan menjaga Indonesia. 


Seperti halnya yang terjadi hari ini Sabtu (9/3/2019) di Desa Banyutowo, Kecamatan Dukuhseti, Pati, yang menggelar ritual Kenduri Nusantara. Kemeriahan yang tercipta dari upaya pelestarian budaya yang dilakukan nelayan Pati ini sukses menarik banyak mata untuk ikut menyaksikan setiap rangkaian acaranya. 


Dibuka dengan gemulai tarian gambyong acara ini sukses menarik perhatian banyak orang. Termasuk saya salah satunya. Terbukti dengan tepuk tangan yang meriah dari para hadirin.

Selesai pertunjukan tari, seseorang medekati podium meski terbilang sederhana. Rupanya beliau adalah Bapak Ipong Ismunarto. Dalam kesempatan tersebut Bapak Ipong menjelaskan tentang acara apa, dan tujuan dari acara tersebut.

Rupanya acara ini terinspirasi dari apa yang dilakukan oleh warga Solo melalui DOA ANAK NEGERI minggu lalu. Berangkat dari kegelisahan yang sama dengan saudara-saudara di Solo Raya. Nyatanya Doa Anak Negeri di Solo telah membagunkan kesadaran dan tanggungjawab yang sama untuk  menyelamatkan bangsa.

Sebagai bangsa yang besar dengan potensi yang tak terhingga, maka dibutuhkan tekad  untuk terus Merawat NKRI dan Menjaga Indonesia. Memanjatkan doa memohon keselamatan negeri.

Pada dasarnya Umbul Donga Larung Sukerto merupakan ritual ini sudah berlangsung turun temurun dengan harapan, warga Pati yang sebagiannya adalah nelayan menghaturkan syukur atas apa yang sudah Tuhan berikan melalui hasil lautnya dan menjaganya hingga akhir hayat. 

Ini tak hanya sekedar tradisi, tapi sebagai perwujudan tekad kami sebagai masyarakat Pati yang tak ingin melihat Ibu Pertiwi ini bersusah hati. Anak Bangsanya terkotak-kotak karena perbedaan.

Larung Sukerto adalah simbol untuk melarung atau membuang hal negatif atau tindak tanduk yang mengancam bangsa Indonesia. Tumpeng merah putih akan menjadi simbol semangat kami, simbol kecintaan kami pada NKRI.

Harapannya ini tak hanya berhenti di Solo dan Pati saja. Inilah saatnya kita menyatukan kembali kepingan-kepingan kerukunan. Merangkainya menjadi satu fragmen kehidupan yang menegaskan bahwa perbedaan itu adalah harmonisasi kehidupan. Demi masa depan anak cucu kita.




1 komentar: