Kurangi dan Kelola Air Limbah Rumah Tangga



Siapapun yang menyelesaikan masalah air tidak hanya berhak mendapatkan satu penghargaan Nobel, tetapi dua penghargaan - satu untuk ilmu pengetahuan satunya lagi untuk perdamaian (John F Kennedy)
Rasanya tidak berlebihan jika mantan presiden Amerika tersebut mengatakan demikian. Ketersediaan air bersih ini relevan dengan perdamaian karena kebutuhan akan air bersih pada akhirnya akan menjadi konflik. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan populasi manusia berpengaruh pada kwalitas dan kebutuhan air bersih, jumlah penduduk yang kian bertambah juga berpotensi mencemari karena semakin banyak limbah yang dihasilkan.

Bahkan saat ini, faktanya 663 juta orang hidup tanpa air bersih dan harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk menuju sumber air. Walaupun sebenarnya jika kita perhatikan, secara kwantitas, ketersediaan air pada dasarnya tetap namun secara kwalitas berkurang secara signifikan. Kesulitan mendapatkan air bersih ini berdampak pada kesehatan yang menurun.


Informasi tersebut saya peroleh setelah saya dan teman-teman blogger berkesempatan mengahadiri acara bincang-bincang mengenai air yang diadakan oleh Aqua Lestari dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 Maret. Dalam acara ini dihadiri oleh Bapak Gunawan Wibisono - Ahli Pengelolaan Air. Dihadiri juga oleh Bapak Karyanto Wibowo sebagai sustainability Development Head di Aqua. Acara tersebut diselengggarakan di  Gedung Cyber 2 lantai 9, tanggal (18/03/2017)

Ternyata faktor utama yang menurunkan kwalitas air adalah limbah air rumah tangga. Seperti air bekas mencuci pakaian ataupun perabotan rumah tangga, dan kegiatan MCK. Sebagaimana yang kita tahu, air pasti akan selalu mencari jalan untuk mengalir, ujung-ujungnya ke sungai. Dari aliran sungai yang sudah tercemar ini, masih ada kemungkinan masyarakat menggunakannya untuk keperluan sehari-hari.



Mengapa Air Limbah Rumah Tangga Harus Dikurangi dan Dikelola?

Tak terbendungnya air limbah rumah tangga berimbas pada menurunnya kwalitas air, hal ini juga diperparah oleh buruknya sistem sanitasi yang ada sehingga menimbulkan berbagai macam dampak negatif, di antaranya:
1/ Dampak Ekonomi,
yang berimbas pada pendapatan dan produktivitas. Baik di bidang pendidikan, olahraga maupun kinerja SDM.

2/ Dampak Sosial,
tercermin pada kesehatan dan kenyamanan, serta status sosial dan kesejahteraan. Dari segi kesehatan, Sanitasi yang buruk berdampak pada meningkatnya jumlah kematian pada bayi dan ibu hamil.

3/ Dampak Lingkungan,
pembuangan limbah yang tidak terkontrol menyebabkan kerusakan sumber air seperti eutrofikasi.

Eutrofikasi pada dasarnya merupakan proses alamiah, dimana danau atau sungai mengalami penuaan secara bertahap. Ditandai dengan warna air yang menjadi kehijauan, berbau tak sedap, dan kekeruhannya yang menjadi semakin meningkat. Selanjutnya danau mengalami pendangkalan, lalu menjadi tempat tumbuhnya biomassa, seperti alga dan eceng gondok.

Sebenarnya diperlukan proses ribuan tahun untuk sampai pada kondisi tersebut, sayangnya kegiatan modern manusia dapat mempercepatnya hanya dalam hitungan beberapa tahun saja.


Sebagai seorang ahli pengelolaan air Bapak Gunawan Wibisono menawarkan solusi dengan pembuatan wetland bagi setiap rumah, instansi swasta maupun negara.

Wetland ini semacam rawa buatan yang di buat untuk mengolah air limbah domestik, untuk aliran air hujan dan mengolah lindi (leachate) atau sebagai tempat hidup habitat liar lainnya, selain itu constructed wetland dapat juga digunakan untuk reklamasi lahan penambangan atau gangguan lingkungan lainnya. Wetland dapat berupa biofilter yang dapat meremoval sediment dan polutan seperti logam berat. (wikepedia, 2007).

Namun masih menurut Bapak Gunawan, meskipun manfaat wetland ini sangat besar, kendala untuk mewujudkannya adalah tingginya biaya dan kurangnya kesadaran masyarakat.

Bicara tentang krisis air bersih, terakhir saya alami tahun lalu saat masih jadi anak kos-kosan. Saya dan teman-teman harus ngungsi, kemana saja yang bersedia menampung kami untuk keperluan MCK dan sejenisnya. Dan itu sesungguhnya rempong abis. Sampai saya pernah iseng bikin tips hemat air a la a la, seperti ini:

Musim panas kita harus menghemat air karena ketersediaan air terbatas.
Pun musim hujan, kita tetap harus menghemat air. Bijak dalam penggunaan dan pemanfaatan air.
Beberapa cara menghemat penggunaan air adalah sbb :
1. Jangan mandi terlalu sering. Bahkan di hari libur kalau bisa tidak usah mandi (astagaa)
2. Kurangi intensitas mencuci pakaian. Nyucinya cukup sekali seminggu. Umpanya air yang dibutuhkan setiap kali mencuci dibutuhkan 3 ember. Hitung saja berapa ember kamu menghemat air dalam seminggu.
3. Usahakan agar selalu dalam keadaan suci/terjaga wudhu'nya. Misal setelah wudhu sholat magrib, usahakan tidak batal sampai waktu Isya. Waktu Dzuhur sampai Ashar. Penasaran? Silahkan mencoba.
Sekadar mengingatkan, hal yang membatalkan wudhu adalah hal-hal yang menyebabkan kita harus ke toilet, buang gas, bersentuhan dengan non muhrim, dan lainnya. Menahan buang air dan buang gas bukanlah perkara mudah. Tapi demi menyelamatkan bumi maka hal ini patut dicoba. (aaappaa iniii)

Demikian sekelumit tips untuk menghemat penggunaan air. Hemat air artinya menyelamatkan bumi yang artinya memperpanjang siklus kehidupan.

Tips di atas tidak untuk ditiru ya. Tapi kalau memang sangat kepepet sok manggalah. Hahha 

Foto bersama. (Dok Aqua Lestari)

Menghemat air pada dasarnya dimulai dari diri sendiri, selanjutnya adanya edukasi pada masyarakat. Gunakan air seminimal mungkin, dan pakai sabun yang ramah lingkungan merupakan langkah sederhana untuk mengurangi pencemaran terhadap air.

Manusia seringkali lupa bahwa kebaikan alam harus dibalas dengan kebaikan juga.  Manusia merupakan penguasa bumi,namun alangkah bijaknya jika tidak semena-mena dalam mengekploitasi alam, khususnya air.

2 komentar

  1. Tips no.1 dan 2 sudah dilaksanakan.. no. 3 yang agak susah.. ahahahaha.. tapi demi menyelematkan bumi boleh dicoba..

    BalasHapus

Harap tinggalkan komentar yang relevan ya teman-teman^^